Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
19.


__ADS_3

Gludakkk...


" Astaghfirullahhaladzim " ucapnya lirih.


Terdengar suara bebda jatuh dari arah belakang badannya. Dilihatnya sebuah bingkai foto yang terlihat sedikit usang. Dipandanginya foto tersebut.


" Hmmm, bayi mungil nan tampan. Dan nyonya meneer yang cantik" pujinya tulus.


Dia kemudian meneliti bingkai tersebut kenapa bisa jatuh. Ternyata paku yang menumpunya sudah usang dan berkarat. Itu tandanya memintanya untuk diganti.


" Kamu tunggu dulu ya, aku akan membereskan ini terlebih dahulu. Nanti gantian kamu akan aku benahi" Aisyah berbicara sendiri dengan sebuah bingkai foto tersebut.


Ya, memang Aisyah sering melakukan hal tersebut saat menanam tanaman. Atau akan memetik buah, bunga dan lain sebagainya. Menurutnya benda- bends tersebut sebenarnya mempunyai jiwa. Jiwa yang tidak pernah manusia pahami. Untuk itu dia selalu mengajaknya berbicara.


Dikatakan gila tidaklah masalah baginya. Itu keyakinannya kepada barang - barang tersebut. Benda mati saja dia ajak bicara dan dirawat, apalagi benda hidup yang bernyawa. Dia akan selalu menjaganya dan menyayanginya.


Aisyah segera menyapu dan membersihkan kamar tersebut. Sesekali dia menyeka keringat yang sudah mengucur deras di dahinya.


Dia nampak telaten membersihkan setiap jengkal kamar tersebut. Debu sekecil apapun sepertinya sudah mulai terangkat karena hasil kerja keras jari jemarinya.


Kraaakkk duuuggg


" Astaghfirullahhaladzim " ucapnya.


Terdengar suara barang jatuh dari nakas. Aisyah kaget bukan kepalang. Dia kemudian menengok ke nakas dan melihat apa yang terjatuh.


" Ya Allah... guci pajangan. Ya Allah, kalau ini mahal dan langka, bagaimana aku hatus mempertanggung jawabkannya? Aku takut Ya Allah. Bagaimana ini?" gumamnya.


Vendra yang mendengar dari dalam kamarnya adanya barang jatuh dengan bunyi yang cukup keras membuatnya menggelitik untuk melihatnya.


" Ada apa? " tanya Vendra dingin.


" Astaghfirullahhaladzim " ucap Aisyah terkejut mendengar suara.


" Embbb... ini tuan. Guci jatuh. Saya tidak tahu kenapa bisa jatuh. Lihat saja posisi daya jauh dari tempat jatuhnya guci" ucap Aisyah mantap.


Entah keberanian dari mana dia mampu menjawab dengan lantang. Vendra hanya melihat benda yang dimaksud dan posisi jatuhnya benda tersebut.


" Hmm.. Bersihkan!" jawab Vendra dingin.


" Ba.. baik tuan" jawab Aisyah dengan mengangguk.

__ADS_1


" Ternyata hanya sebuah guci. Itu guci memang aku beli sewaktu di thailand. Bukan guci mahal juga. Ehm.. tapi" batin Vendra dengan tersenyum smirk.


" Setelah kamu bersihkan, kamu bertanggung jawab atas itu!" ucap Vendra dengan berlalu.


Aisyah hanya diam terpaku dan melongo. Mencerna setiap kata yang Vendra lontarkan tersebut. Tentu saja memouat pikirannya menjadi buntu.


" Tanggung jawab? Ya Allah bagaimana ini? Bahkan satu rupiahpun tidak aku punyai. Ya Allah lindungilah hamba" gerutunya lirih.


Aisyah segera membereskan guci yang jatuh. Dan segera kembali membersihkan bagian yang lainnya. Dia tahu posisinya dirumah ini. Diberikan tumpangan hidup tidak mendapatkan siksaan yang berarti dan dia hanya bisa membalas dan membayarnya dengan mematuhi peraturan rumah tersebut.


" Mbok !! Sudah siap untuk nanti malam?" tanya Vendra.


" Eh... copot .. copet.. kodok... kampret..." latah Mbok Saroh.


" Owalah Aden... Astaghfirullahhaladzim " ucap Mbok Saroh selanjutnya.


" Hmm" jawab Vendra singkat.


" Lah itu persiapan sudah pak e selesaikan dari tadi siang Den. Lah Aden masih marah- marah. Yo, ndak jadi laporan sama aden" jawab Mbok Saroh yang masih sibuk menyiapkan makanan.


Sudah menjadi kebiasaan Mbok Saeoh, jika ditanya oleh Vendra ketika melakukan pekerjaan pasti tetap mengerjakan pekerjaan itu. Dan Mbok Saeoh selalu menanggapi santai.


" Hmm.. apa?" tanya Vendra.


" Lah mbok yo di cukur - cukur itu rambut. Kalau ndak yo di rapih - rapihin dikit loh. Wong cah baguse ngono kok kumel dadine" gerutu Mbok Saroh.


" Sudah memutuskan mbuka lembaran baru, ya mbok sekalian buka cassing baru to den!" ucapnya kemudian.


" Halah.. Mbok.. Mbok.. siapa yang mau lihat mukaku? Muka begini saja. Tidak ada yang menarik. Tuhan pun enggan kepadaku!" ucap Vendra dengan sedikit kesal.


" Huss... mbok ya jangan ngomong begitu. Lah Gusti Allah masih sayang sama aden loh. Lah itu buktinya, didatengke bidadari cantik nan sholehah. Sudah cantik, lembut, ayu. Lah kurang opo meneh, kurang apa lagi den?" tegur Mbok Saroh.


" Halah!! aku sudah tidak percaya Tuhan. DIA!! Dia yang sudah merenggut keluargaku. Bahkan hidupku !!" jawab Vendra penuh emosi.


" Sabar den.. wes.. yo wes.. " jawab Mbok Saroh.


Mbok Saroh mendekat dan memberikan segelas air putih. Di usapnya kepala bocah kecil yang kini menjadi lelaki dewasa itu.


" Cah bagusku masih sama. Masih belum bisa ikhlas !!" ucap Mbok Saroh


" Den, semua berasal dari sini. Segala macam penyakit dan masalah berasal dari sini dan sini" lanjut Mbok Saroh dengan menunjuk dada dan kepala Vendra.

__ADS_1


" Jika dua itu tidak bisa menerima, semua akan menjadi sama. Sama dalam artian tidak akan hidup maju kedepan" terang Mbok Saroh.


" Maju untuk apa Mbok? Aku lelah Mbok. Sangat lelah " ucapnya lirih.


" Ya sudah, minumlah obatnya den. Supaya lebih enakan. Simbok melihat semenjak cah ayu disini Aden mulai tidak mau mengkonsumsi obatnya lagi" terang Mbok Saroh.


" Ya sudah, kalau belum mau makan obatnya. Tunggulah. Simbok akan sediaka makannya" ucap simbok dan segera berlalu.


" Sekalian dia mbok!!" ucap Vendra enggan menyebutkan nama.


" Aisyah, den" jawab Simbok dengan tersenyum.


Vendra masih berada di tempat duduk meja makan. Dia masih mencerna setiap ucapan Mbok Saroh. Dia berencana ingin membuka lembaran baru.


" Barang siapa saja, wanita yang berani masuk rumah ini akan aku jadikan istri.Dan jika dia memang mau menerimaku apa adanya maka seluruh hartaku adalah untuknya " ucapnya dalam hati.


" Ah... kata itu !!"gumam Vendra sendiri.


" Mbok... Simbok..." panggilnya dengan sedikit keras.


Tiba- tiba Pak Darman tergopoh - gopoh masuk kedalam rumah dengan memanggil istrinya.


" Halah.. ono opo to pak'e? Mbok ya ndak usah teriak - teriak. Aku sih krungu, aku masih denger loh. Durung budeg, belum budeg !!" ucap Mbok Saroh.


" Anu... anu mbok. Den Vendra ada di kamarnya ndak? " tanya Pak Darman.


" Lah itu..!!" jawab Simbok singkat dengan menunjuk orang yang di maksud.


" Kenapa Pak??" tanya Vendra.


" Anu den, di kebun ada masalah !! Pak Gustaf memberhentikan buruh yang sedang metik teh. Alesane kebun itu juga haknya. Dan dia mau minta bagian itu" ucap Pak Darman terengap - engap.


" Mbok, beri minum dulu" ucap Vendra.


Mbok Saroh yang mendengar peri tah serta cerita suaminya itu segera memberikan minum tanpa menjawab. Segelas air putih tandas tak tersisa di minum Pak Darman.


" Pak Gustaf minta harta nyonya, den. Dan dia meminya separoh kebon teh yang ada di puncak sana!" ucapnya kembali.


Vendra hanya diam dan menggeretakka rahangnya. Dia sangat marah yang teramat. Membuat darahnya mendidih tak karuan.


" Gustaf !!!" eramnya dengan menahan amarah.

__ADS_1


__ADS_2