
" Apa Aden terkena santet ya? Ah... tapi selama ini Aden baik - baik saja. Apa karena tidak mengkonsumsi obat itu?" batin Pak Darman terus mengamati tubuh Adennya.
Vendra terus menggaruk bagian tubuhnya yang gatal. Hal itu membuat Pak Darman tidak tega melihatnya.
" Den, jangan digaruk terlalu kencang. Ini bisa membuat kulit Aden lecet" pinta Pak Darman lembut.
" Iya Pak... Tapi ini sangatlah gatal dan rasa gatalnya dibawah kulit saya" jawab Vendra terus menggaruk lembut.
" Banyak dzikir saja Den" saran Pak Darman spontan.
Pak Darman kemudian segera mengambil ponselnya. Tak lama segera beliau menelpon salah satu kontak di ponselnya. Ya, siapa lagi kalau bukan istrinya.
" Halo Bune..."
" .........."
" Ya... Maaf ini Aden tiba - tiba saja gatal - gatal. Perasaan tadi tidak makan yang membuat Aden alergi"
" ........."
" Mungkin Bune, Aku juga ngerasa begitu. Ya wes tak cobane wes. Doakan kami ya Bune"
"....."
" Ya.. Waalaikumsalam "
Pak Darman segera meloudspeaker ponsel jadulnya itu. Ada suara merdu nan mendayu yang tengah membaca ayat - ayat suci Al - quran.
" Pak...." ucap Vendra.
" Ya, suara yang dirindukan Aden" jawab Pak Darman santai.
" Ya Allah..." keluh Vendra.
" Istighfar yang banyak Den, saya juga wirid dari tadi ini" ucap Pak Darman.
Vendra tidak menjawab hanya mengangguk dan terus beristighfar. Dilanjutkan dengan menyebutkan lafadz - lafadz Allah.
Suara ponsel jadul itu terus ada, bahkan tak henti - hentinya suara bak murottal handal tengah berkumandang. Lantunannya yang sangat indah sehingga membuat relung hati yang mendengarnya terasa sejuk.
Suara itu terus menemani Vendra dan Pak Darman selama perjalanan. Tak henti - hentinya mereka berkomat - kamit terus berdoa. Hingga sampailah di sebuah gerbang yang cukup besar.
" Den..." ucap Pak Darman memecah keheningan.
" Aden siap?" tanya Pak Darman kembali.
" Ya" jawab Vendra singkat dengan disertai anggukan.
" Bismillahhirrahmannrirrahim " ucap kedua orang lelaki itu.
Pak Darman melajukan mobil dengan penuh hati - hati. Sembari menoleh kekanan dan kekiri dengan mode tinggi.
" Den, apakah rumah itu?" tanya Pak Darman.
" Apa ada sebuah bedug di depan rumahnya?" tanya Vendra.
" Tidak ada Den. Tapi... " jawab Pak Darman menggantung.
__ADS_1
" Jangan menoleh ke arah situ Pak. Dan jangan lupa terus berlafadz Allah. Doa pak" saran Vendra.
" Baik Den... Astaghfirullahhaladzim " ucap Pak Darman.
Tiba - tiba bulu kuduk Pak Darman berdiri. Entah apa yang sudah dilihatnya, atau memang ada sesuatu yang janggal.
" Pak, jika nanti bapak sudah mencium bau melati. Jangan pernah mencari dimana sumbernya dan kita tahan nafas" ucap Vendra kemudian.
Pak Darman tidak menjawab hanya dengan anggukan dan terus berdoa. Mereka berdua komat - kamit bak baca mantra.
" Pak..." ucap Vendra tiba - tiba.
" Iya Den.."
Mereka berdua langsung menahan nafas. Pak Darman terus melajukan mobilnya. Ternyata banyak sekali makhluk kasat mata bergelantungan di sana sini.
" Pak, nanti ada jembatan. Jembatan itu hanya separoh jalan. Dan hanya itu jalan satu - satunya" ucap Vendra.
" Lalu bagaimana kita ke sana Den? Mau putar balik? Ngeri den" ucap Pak Darman dengan bergidik ngeri.
" Tidak perlu. Pak Darman cukup menutup mata saja. Janji jangan pernah melihat ataupun mengintipnya sama sekali" pinta Vendra.
" Baik Den" jawab Pak Darman yakin.
" Den, ada dua jembatan. Yang kiri rusak parah Den. Yang kanan bagus Den. Seperti jembatan baru" ucap Pak Darman.
" Pilih yang rusak. Yang bagus hanya ilusi" jawab Vendra yakin.
" Bismillahhirrahmannrirrahim " ucap Pak Darman mengikuti perintah Adennya.
" Merem!!" ucap Vendra.
" Pak jalan. Jangan pernah buka mata" pinta Vendra.
" Bismillahhirrahmannrirrahim " ucap Pak Darman.
Mobil dilajukan dengan posisi mata Pak Darman tertutup. Vendra terus memandangi jalanan. Pak Darman terus mendengarkan interupsi dari sang juragan.
" Terima kasih" ucap Vendra dengan mengangguk.
" *Terimakasih?" batin Pak Darman.
" Aden mengucapkan terimakasih kepada siapa? Apakaha ada orang baik yang menolong?" monolog Pak Darman*.
Setelah tak jauh dari jembatan Vendra menyuruh Pak Darman membuka matanya.
" Sudah Pak. Buka mata" pinta Vendra.
" Alhamdulillah " ucap Pak Darman.
" Loh.. Den.. ini banyak lampunya. Terang. Tapi kok ndak ada penduduk ya? Baru sekali ini saya ke daerah sini. Padahal cuma tetangga sebelah ya sama rumah gede" cerocos Pak Darman.
" Hmm" jawab Vendra.
" Loh, ini Cah Ayu dah selesai to? Lah.. batrene entek ( batrainya habis). Wesss.. payah" cerocos Pak Darman.
" Tidak apa Pak. Rumahnya sudah dekat" ucap Vendra.
__ADS_1
" Yang mana Den?" tanya Pak Darman.
" Itu" jawab Vendra dengan menunjuk.
" Ohh itu. Okelah" jawab Pak Darman antusias.
Setelah sampai di depan rumah. Nampak seorang lelaki bersorban putih sudah menanti di depan rumahnya. Disampingnya ada sebuah bedug berukuran sedang.
Beliau nampak terang wajahnya. Bak bersinar dan nampak cerah. Pak Darman hingga tidak dapat melihat wajahnya. Karena silau cahaya di wajahnya.
" Den.. Mari" ajak Pak Darman tanpa menoleh.
Sedangkan si empunya nama tidak menjawab sama sekali.
" Astaghfirullahhaladzim. Den... Aden" ucap Pak Darman panik.
Pak Darman panik ketika menengok kesebelahnya sudah tidak ada Adennya. Di tengoklah kesana kemari menyisiri dimana Adennya.
" Ya Allah... Ya Rabb... " ucapnya kemudian.
Pak Darman menoleh ke belakang jok. Ternyata Adennya tengah tertidur pulas.
" Den.. Den.. sudah sampai. Kapan Aden pindah ke belakang?" tanya Pak Darman penasaran.
Vendra yang kebingungan hanya diam dan bersandar. Di buka matanya dengan pelan. Kepalanya sedikit pusing.
" Alhamdulillah. Sudah sampai. Sudah disambut juga" jawab Vendra santai.
" Disambut?" tanya Pak Darman penasaran.
" Itu..." ucap Vendra.
Pak Darman segera menoleh ke arah luar mobil.
" Astaghfirullahhaladzim.. Den.." ucap Pak Darman ketakutan.
" Tidak apa - apa. Itu memang peliharaannya" jawab Vendra.
" Ini kenapa jadi perjalanan mistis ya? Sebenarnya siapa yang ingin Aden temui? Ah.. Ya Allah.. lindungilah kami dari segala mara bahaya yang akan menimpa kami" batin Pak Darman.
" Ayo Pak !! Jangan pernah bertanya sedikitpun dan jangan sampai keluar dari mulut bapak hal yang tidak perlu di pertanyakan di sini" Vendra mengingatkan.
" Iya Den, Bapak tahu. Wingit kan?" celetuk Pak Darman sedikit berbisik.
" Hmmm" jawab Vendra dengan mengangguk.
Mereka segera keluar dan menemui seorang lelaki yang tengah berdiri di samping bedug. Dan nampak beberapa pocong yang berada di samping rumah itu.
Pak Darman yang sangat ketakutan itu hanya memegang tangan Vendra. Vendrapun sebenarnya sangat takut.
Entah keberanian dari mana hingga membuatnya mampu melangkah menemui orang yang sudah menantinya itu.
" Assalamualaikum " ucap Vendra dan Pak Darman bebarengan.
" Waalaikumsalam " jawab Lelaki itu
" Mari Den... silahkan. Sudah ditunggu didalam" ucap Lelaki itu.
__ADS_1
" Baik. Terimakasih" ucap Vendra.
Lelaki itu hanya tersenyum dan mengangguk.