Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
59.


__ADS_3

" Terimakasih..." ucap Vendra kemudian.


" Mas... kelanjutannya bagaimana?" tanya Aisyah kemudian.


" Kelanjutan yang mana? Hubungan kita atau masalah yang kita hadapi?" tanya balik vendra.


" Ya itu" jawab Aisyah.


" Yang mana Aish??" tanya Vendra kembali.


" Masalah" jawab Aisyah singkat.


" Kamu merasakan sesuatu? Kejanggalan? Gelisah? Atau hal lain yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Vendra beruntun.


" Embbb.... belum. Belum ada semuanya rasa itu" jawab Aisyah singkat.


" Okee.. Baiklah. Berarti kita tetap dalam mode waspada dan berjaga saja. Jangan lengah. Tetap meminta pertolongan Allah" jawab Vendra yakin.


" Mungkin akan datang saat kita lengah Mas! Ataukah datang nanti malam??" ucap Aisyah.


" Entahlah. Yang penting kita waspada dan selalu bersiap. Ada dua orang tua yabg wajib kita lindungi" jawab Vendra.


" Dengar.. sekarang kita sudah tidak punya orang tua. Dan mungkin bisakah... kamu menganggap Mbok Saroh dan Pak Darman sebagai orang tua kita?" ucap Vendra kemudian.


" InsyaAllah Mas" jawab Aisyah dengan mengangguk.


" Mau sarapan apa Mas? Akan aku buatkan" ucap Aisyah.


" Bisakah buatkan Mas semangkuk sop daging?" pinta Vendra.


" Segera terhidang Mas. Tunggulah. Jangan lupa selalu berdzikir. Jangan pernah lengah" saran Aisyah.


" InsyaAllah " jawab Vendra singkat dengan menerbitkan senyum nan indah.


Gadis manis itu segera beranjak dari sajadah yang menghampar. Dibereskan semuanya itu kemudian mengambil kerudungnya untuk segera berkutat dan bercanda ria dengan pisau dan kawan - kawannya.


" Sepertinya kemarin Simbok masih menyimpan daging" gumam Aisyah sendiri.


Wuuuuusshhhhh


" Astaghfirullahhaladzim" ucap Aisyah.

__ADS_1


"Robbi a’uuzu bika min hamazaatisy-syayaathiin wa a’uuzu bika robbi ay yahdhuruun"


 Artinya :“Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan dan aku berlindung pula kepada-Mu ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku".


"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim".


“Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain  Dia yang hidup kekal, lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar".


Sembari memasak dan menyiapkan semuanya, Aisyah selalu berdoa sepanjang waktu. Semoga saja semua berlalu dengan cepat.


" Hmmm... kenapa saat aku sendiri begini mereka mulai menyerang? Ini pagi buta loh, mereka berani sekali!! Sepertinya mereka bukan orang sembarangan dengan banyak ilmu" gerutu Aisyah.


" Aku akan cepat menyiapkan masakan. Biar cepat pula aku menyiapkannya" gumam Aisyah.


Sementara di dalam sebuah kamar luas. lirihan suara dzikir terus berkumandang. Seketika terasa angin melewati lelaki itu dengan cukup kencang.


Segera dipindailah mata itu untuk mengetahui dari mana sumber angin itu. AC yang berada diruangannya pun dalam keadaan stabil. Suhu ruang yang dipakainya pun tak mungkin menghasilkan sebuah angin yang tiba saja lewat dengan cukup kencang.


Beranjaklah ke arah jendela kamar dan segera melihat apakah dari arah jendela. Sedangkan mulut itu tiada hentinya untuk terus berdzikir.


Di telitinya dengan penuh kehati - hatian jendela yang masih dalam keadaan tertutup itu. Ternyata masih sama dengan kondisi awal. Seketika pikirannya ke seseorang yang saat ini bertahta dihatinya.


*Brak...


Brak...


Gludak...


Bruuuuuukkkk*


" Astaghfirullahhaladzim " ucap Aisyah dengan wajah penuh dengan kecemasan yang berarti.


" Mas....???" ucap Aisyah lagi.


" Kamu tidak apa- apa?" tanya Vendra menyelidik.


Dipindailah sekitar istrinya itu untuk memastikan keadaan sang pujaan hati. Ternyata tidak ada hal yang aneh dan tidak ada hal yang terjadi. Keadaan berantakan karena memang istrinya masih berperang dengan berbagai bumbu dan sayuran agar tersaji makanan yang lezat.


" Aish... apakah kamu??" tanya Vendra menggantung.


Mata bulat itu melihat mata tajam milik suaminya. Dilihat dengan sangat dalam. Mencari apakah ucapannya akan sama jika dia mengatakan sesuatu. Ataukah kekhawatiran uang dirasakan suaminya sama dengan apa yang terjadi dengan dirinya.

__ADS_1


" Hembusan angin yang lumayan?" ucap Aisyah tiba - tiba.


" Hmmm" jawab Vendra dengan menganggukkan kepalanya.


" Duduklah Mas. Tunggulah disini bersama - sama. Jangan khawatir. InsyaAllah... Allah bersama kita" ucap Aisyah menenangkan.


" Hm..." jawab Vendra lega dan mengangguk.


Anggukannya adalah membenarkan ucapan sang istri. Aisyah segeran menarik kursi di meja makan yang letaknya tak jauh dari dapur. Masih dapat dilihat saat berada di dapur.


" Wasapada. Berdoalah untuk perlindungan diri minimal untuk Mas sendiri. Jangan khawatirkan tentang aku" pesan Aisyah yang mengingatkan dengan tegas.


" Maksudmu?" tanya Vendra penasaran.


" Mereka bukan orang dengan ilmu yang dangkal" terang Aisyah.


" Yaa??" tanya Vendra memastikan.


Ya, pikiran Vendra hanya satu. Mereka mempunyai ilmu hitam atau hal lain sebagainya dengan berbagai bantuan dari jin dan syetan yang sudah mendarah daging dengan mereka atau dengan jata lain bersekutu.


" Sebentar Mas. Aku selesaikan dulu masaknya. Jangan ucapkan sepatah katapun jika aku belum kesini untuk menghidangkan makanan di meja. Teruslah berdoa" ucap Aisyah memotong pembicaraannya.


" Hmmm... baiklah" jawab Vendra.


Mulut itu segera kembali berdzikir dan terus berkomat - kakit dengan bersungguh - sungguh. Sedangkan Aisyah segera berlalu untuk menyelesaikan masakannya.


" Untung saja daging sudah direbus kemarin. Jadi hanya menyiapkan beberapa sayuran dan bumbu" gumam Aisyah.


Dia memang sengaja merebus daging itu. Agar hari ini bisa memasakkan untuk suaminya. Karena dia tahu dari Simbok bahwa suaminya sangat menyukai sop daging.


Aroma sop itu menguar sangat harum. Lezat dan sedap seperti yang terasa di otak jika menghirupnya. Sesosok lelaki yang tengah berdzikir seperti sendang mengirup dan mengendus aroma yang menguar itu.


kruuuukkk


Terdengar suara perut yang cukup kencang. Seketika mata bulat itu mencari sumber suara. Hanya kikikan dan senyum yang terbit di seberang meja dari lelaki yang kini menjadi suaminya.


" Sabar dulu yaaaa cacing" ucap Aisyah yang sedikit berteriak.


" Hihihi" kikikan kecil dari Vendra juga terdengar setelah ucapan Aisyah.


Aisyah segera mengidangkan di meja makan. Sop Daging dengan hanya isian daging, kentang, wortel dan beberapa lemdar daun bawang dan taburan daun seledri serta bawang goreng. Tak lupa sambal dan perkedel yang sudah siap untuk di santap.

__ADS_1


__ADS_2