
" Selama perjalanan, seperti tidak ada orang satupun yang melintas bahkan mendengar apa yang kita teriakkan. Semua seperti di dunia ghaib. Semua serba aneh!!" keluh Vendra.
" Setelah itu, Gurunya si Tarno ini ngajak ke rumah Pak Kyai. Nah Pak Kyai itu tidak dapat membantu orang yang kita bawa. Intinya ada seseorang yang akan menolong kita kelak"
" Dan... orang itu adalah kamu!" ucap Vendra dengan menunjuk lemah.
" A... Aku... kenapa aku mas? Bahkan masa lalu mas juga aku tidak mengetahuinya. Rumah putih megah yang tidak terawat dulupun qku tak mengetahuinya. Yang aku tahu, ada monster atau makhluk penghuni rumah itu dan desas desus yang ku dengar dia pemuja kekayaan atau entahlah " ucap Aisyah lantang tanpa jeda.
Mata elang milik suaminya hanya melebar dan mengerjap sekali ketika kalimat si pencerita terdiam. Mencerna semua keluh kesah yang sangat panjang, yang selama ini didengarnya lembut dan tak ada bantahan. Semua mata memandanginya tanpa berkedip. Sadar semua menatapnya mata bulat itu memindai satu persatu netra yang mengamatinya.
" Ke.. kenapa?" ucap Aisyah gugup.
" Kata Pak Kyai itu hanya kamu yang dapat menolong Aden, Cah Ayu" ucap Pak Darman menimpali.
" Loh... kenapa aku? Apa maksudnya Mas?" tanya Aisyah penasaran.
" Mas???" ucap Vendra menegaskan kembali.
" M.. maass" jawab Aisyah ragu.
" Jangan pernah ganti !!" titah sang pemilik hati, Vendra.
" Ya, kamu. Jika mimpi itu berkaitan dengan apa yang diucapkan Pak Kyai. Suara minta tolong seseorang. Seorang wanita lebih tepatnya hmm?" tanya Vendra langsung.
" Be... benar Mmmas" jawab aisyah sedikit tergugup.
" Suara wanita merintih kesakitan dan minta tolong. Tapi..." ucap Aisyah menjeda.
" Tapi??" tanya Vendra dan Pak Darman bersamaan.
" Tapi, ada makhluk yang melindunginya. Sepertinya memuja" ucap Aisyah masih mengira.
" Memuja? Maksud kamu pesugihan cah ayu?" tanya Mbok Saroh penasaran.
" Entahlah Mbok. Makhluk itu sangat menyeramkan. Dan sepertinya makhluk itu peliharaan orang. Atau malah orang itu yang menyembah makhluk itu. Belum begitu jelas Mbok. Tapi suara minta tolong itu sangat jelas suaranya" terang Aisyah mengingat.
" Baiklah... tepat Pak !! Seperti yang aku duga. Diculik tapi di dunia yang berbeda. Karena Pak Kyai yang berkata yang dapat membantu adalah istriku bukan?" ucap Vendra mulai mengerti.
" Saya belum paham Den!!" ucap Pak Darman bingung.
__ADS_1
" Apakah ada sesuatu yang Pak Kyai berikan?" tanya Aisyah.
" Ini, sebentar" jawab Vendra dengan mencari celana yang tadi dia gunakan.
Dicarinya sebuah plastik yang berisi benda yang dimaksudkan oleh Aisyah.
" Ini... " ucap Vendra dengan memberikan sebuah kantong plastik berisi sesuatu.
Aisyah dengan cepat menerimanya dan segera membukanya. Tak dapat dinyana dan yak dapat dikira.
" Pasir.... Garam..." ucap Aisyah.
" Pasir dan Garam? Untuk apa?" tanya Vendra .
" Iya Cah ayu... untuk apa itu?" tanya Mbok Saroh.
" Mmmbbb... sepertinya ini pasir ghaib. Dan garam pun sepertinya sama. Ini alat untuk melindungi diri dari hal ghaib. Tak kasat mata" ucap Aisyah.
" Sebentar aku coba" ucap Aisyah.
" Bismillahhirrahmannrirrahim..“Lailaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadhdhalimin” .
" Hmmm benar. Ini gunanya untuk perlindungan. Kapan akan memulainya Mas?" tanya Aisyah sekarang sudah yakin.
" Kapan?" tanya Vendra.
" Apakah kamu tidak penasaran ingin mengetahui siapa orang itu? Siapa orang yang minta tolong itu?" tanya Vendra kembali.
" Untuk apa aku menanyakan sesuatu hal jika landasanku ikhlas untuk menolong sesama. Bukan begitu?" tanya Aisyah kembali.
" Baiklah... Mas percaya akan hal itu. Sekarang sudah memasuki sepertiga malam. Sepertinya tidak efektif untuk melanjutkan. Kita semua juga dalam kondisi yang kelelahan. Sebaiknya kita sudahi dan beristirahat. Mbok Saroh dan Pak Darman juga sudah sangat capek bukan? Beristirahatlah" ucap Vendra memutuskan.
Mereka mengangguk untuk membenarkan ucapan Vendra.
" Jangan pergi dari kamar ini!!" ucap Aisyah kembali berseru.
Semua pasang mata melihat kearah sumber suara. Seperti ingin mempertanyakan suatu alasan. Tapi...
" Tidak perlu bertanya kenapa. Saat ini masih ada sesuatu yang aneh yang aku tangkap" ucap Aisyah.
__ADS_1
" Tidurlah bersama dalam satu ruangan ini. Aku akan berjaga" ucap Aisyah.
" Kalau begitu Mas akan menemanimu" ucap Vendra berinisiatif.
" Tidak, istirahatlah Mas. Jika aku butuh aku akan memanggil" ucap Aisyah.
" Bapak sama Simbok bisa tidur disini. Sofa ada dua bisa tidur di sana" ucap Aisyah.
" Mbok, Ambil saja di lemari biasa" ucap Vendra kemudian.
Aisyah hanya mengernyit memikirkan ucapan suaminya yang ambigu. Tapi dia tidak bertanya hanya melihat apa yang dimaksud. Mbok Saroh membuka lemari baju yang ujung. Dan menarik sebuah box.
" Pak Bantuin loh. Ini cepetan" ucap Mbok Saroh.
" Pompanya ada di bawah buffet samping lemari" ucap Vendra kemudian.
" Owalah kasur angin! Aku kira apa... Aish.. Aish.. pikiranmu!!" batin Aisyah.
Aisyah segera menuju kamar mandi untuk mengambil wudlu tapi sebelum itu Simbok sudah mengambilkan juga baju ganti untuk gadis cantik itu.
Aisyah segera memakainya tanpa bertanya, karena memang bajunya basah berpeluh keringat. Rasanya bau keringatnya sedikit mantab jika di cium. Maka diputuskanlah dia mandi setelah itu mengambil wudlu.
" Kamu mandi?" tanya Vendra.
Aisyah hanya mengangguk.
" Tidak pakai air hangat?" tanya Vendra kembali.
" Tidak. Segar!" jawab Aisyah dengan wajah yang berbinar.
Dibentangkanlah sajadah dengan perlahan. Dipakailah mukena dengan segera dan menghadap kiblat. Ucapan niat didasari dari hati. Aisyah mulai melaksanakan sholat sepertiga malam dan berdoa untuk diberikan petunjuk oleh sang khaliq.
Vendra yang melihat itu hanya terpaku dalam diam. Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan? Hanya kilas balik yang dia lakukan selama hidupnya. Dipenuhi dosa karena meninggalkan Tuhannya. Bahkan membenci Tuhannya. Dan kenapa Tuhannya masih memberikan orang - orang terbaik untuknya?
Terkadang menurut kita itu yang terbaik, tetapi belim tentu itu yang terbaik bagi Allah. Itulah kenapa hati harus ikhlas dalam menjalani apapun. Mungkin Allah saat ini sampai detik ini masih mengujinya dengan penyakit yang mematikan. Mungkin ini teguran ataukah karma atas perbuatannya atau orang tuanya dulu. Itu adalah rahasia illahi.
Menyakitkan memang jika suatu hal yang sangat sensitif jika mendengarnya dari diri kita. Tetapu, lebih menyakitkan apabila mendengarnya dari orang lain. Karena lidah ba belati yang mencabik - cabik.
" Ya Allah... Ya Rabb.. ampunilah hambaMu ini. HambaMu yang berlumuran dosa. Bahkan dari kubangan dosa ini. Ya Allah Ya Rabb.. berilah kesempatan untuk mengatakan hal yang sebenar kepadanya. Lemaskanlah lidahku untuk mengatakan hal uang pahit itu. Berilah kekuatan kepadaku dan jalan yang terbaik. Aamiin" batin Vendra.
__ADS_1
Tak terasa tetesan air mata kini telah jatuh ke pipi. Mata bulat itu melihat tetesan air mata itu. Entah kenapa hatinya tergelitik ingin mengusapnya. Memberikan bahu untuk bersandar. Memberikan pelukan untuk berkeluh kesah. Tapi .....