
" Tapi itu membahayakan nyawa kamu jika kamu tidak berhati - hati. Jangan gegabah kalau melakukan apapun. Mulai sekarang tolong, terbukalah kepadaku. Kita jalani bersama !" ucap Vendra.
" Hmm" jawab Aisyah dengan mengangguk.
" Den, sudah siap!" ucap Pak Darman.
" Aish... kamu mampu jalan atau tidak?" tanya Vendra.
" Embb.. kenapa?" tanya Aisyah dengan sedikit mengernyit.
" Pesananmu ada di bawah!" jawab Vendra.
" Embb baiklah.. aku akan mencoba pelan - p3lan Mas" jawab Aisyah.
Aisyah segera bangun dengan perlahan. Basannya masih sedikit lemas. Tapi tak selemas tadi. Sulam nyawa yang di lakukan mbak kunti cukup membantunya.
Vendra yang melihat ringisan - ringisan kecil di wajah istrinya tidak tega dan segera meraih tubuh mungil dalam gendongannya.
" Ahhh mas... turunkan!" ucap Aisyah.
" Diam saja. Kalau kamu banyak bergerak. Kuta berdua akan jatuh bersamaan" ucap Vendra.
Dengann cekatan Vendra membopong tubuh mungil itu keluar kamar menuju lantai bawah sesuai arahan Pak Darman. Aisyah hanya diam mengikuti instruksi suaminya.
" Den, pavilium" ucap Pak Darman.
Belum Vendra menjawab Pak Darman sudah tahu apa yang akan ditanyakan Vendra. Pak Darman segera mengarahkan ke tempat dimana beliau menyimpan raga bidan itu.
" Disini Den" ucap Pak Darman membuka sebuah kamar yang sudah disiapkan untuk raga itu.
Vendra segera menurunkan Aisyah. Dengan perlahan Aisyah turun untuk menapaki dinginnya lantai. Vendra yang mengetahui jika lantai itu dingin, segera di rengkuhnya pinggang langsing itu dibawa kedalam pelukannya.
" Tolong dekatkan aku ke tubuh itu Mas" pinta Aisyah lirih.
Vendra segera membopong tubuh ringkih itu mendekati badan yang dimaksud. Dengan perlahan mengamati tubuh yang mulai memucat. Masih ada kehidupan lemah. Alyaknya seperti orang tertidur.
" Pak... tolong" ucap Aisyah lemah.
" Tidurkan di tempat datar dan buat nyaman" pinta Aisyah kemudian.
" Ya, cah ayu" jawab Pak Darman dan segera bergegas membenarkan tubuh itu.
" Mas... jika terjadi sesuatu jangan pernah kemanapun. Usahakan doa terbaik Mas panjatkan" pinta Aisyah.
" Cah ayu... tapi... tubuhmu belum sehat sepenuhnya? Bagaimana kamu melakukannya?" tanya Pak Darman khawatir.
" Tenang saja Pak. Aku akan memanggil Menik" jawab Aisyah santai.
" Menik??" tanya Vendra.
" Mbak kunti" jawab Aisyah biasa saja.
" Kuntilanak maksud kamu cah ayu?" tanya Pak Darman memperjelas.
" He em" jawab Aisyah santai.
" Bismillahhirrahmannrirrahim " mulai Aisyah.
" Aish" ucap Vendra yang sudah di pegang bahunya oleh Pak Darman.
__ADS_1
" Den... Cah Ayu sudah mulai" ucap Pak Darman menjelaskan.
" Hihhh bocah !! Nggak bisa dengerin!" keluh Vendra.
" Den, mungkin sudah ndak ada waktu?" ucap Pak Darman.
" Hah?? Tadi... Aish..." ucap Vendra menggantung.
" Benar - benar berbahaya ini. Semoga saja tidak terjadi apapun" ucap Vendra kemudian.
" Kita berdoa saja Den. Seperti tadi. Semoga dalam lindunganNya" ucap Pak Darman.
" Aamiin" jawab Mereka berdua kompak.
Sementara Mbok Saroh menyiapkan sesuatu yang sudah diperlukan. Sebelum beranjan Aisyah membisikkan sesuatu yang dibutuhkannya ketika selesai ritual ini.
" Menik.... menik... Assalamualaikum " ucap Aisyah dalam sebuah dimensi lain.
" Assalamualaikum... Menik" sapanya kemudian.
weeeeeessssss..... wussssssss
Angin tipis menerpa tubuh ringkih itu. Tak terasa bulu kuduk mulai meremang.
" Hihhh... kebiasaan. Salam kek" ucap aisyah ketus.
" Hiiiiii... hiiiiiiii.... hiiiiiii" kikik Menik dengan suara memekakan telinga.
" Kontrol suara !!" hardik Aisyah.
" Hihi... entah kenapa aku sangat suka sekali mengganggumu gadis judes !!" ucap Menik.
" Haiss.... kamu ini. Ohh ya.. bagaimana kabarmu? Setelah menyulam nyawaku bagaimana kondisimu saat ini?" tanya Aisyah penasaran.
" Ya, perubahanmu belum sempurna. Bajumu juga compang camping lagi!" ejek Aisyah.
" Hihhhh... kamu sudah dibantu malah ngejek!!" ucap Menik.
" Ah.. ya. Tubuh itu sudah ada. Sudah siap. Bagaimana dengan jiwa itu? Maksudku bagaimana caranya ?" ucap Aisyah gugup.
" Tenang saja Aisyah. Nanti aku bantu" jawab Menik santai.
" Tapi, bagaimana dengan kondisimu? Apakah akan mempengaruhimu atau tidak?" tanya Aisyah khawatir.
" Kamu khawatir ya??" ledek Menik.
" Tentu saja... Kasihan kamu" ucap Aisyah melemah.
" Gadis judes yang berhati baik sepertimu pantas ku jadikan teman!" ucap Menik lirih.
" Menik dimana jiwa itu?" tanya Aisyah.
" Sebentar ..." ucap Menik.
happp...
Menik duduk bersila dan memjamkan mata. Mencari sesuatu dan melihat keadaan yang terjadi. Dia mencari jiwa yang sudah di simpannya di sebuah ruangan yang dijaga anak buahnya.
haaappp
__ADS_1
Dengan gerakan secepat kilat, Menik membawa jiwa yang ada di depannya kini tergeletak lemah. Masih di kondisi yang sama. Bedanya, Aisyah menemukan masih bisa berkomunikasi. Kini jiwa itu terbaring lemah.
" Menik...??" ucap Aisyah yang berarti sebuah pertanyaan.
" Sengaja aku buat tertidur. Biar memudahkannya masuk ke tubuhnya. Ayo..." ucap Menik.
" Aku juga lihat, kamu belum terlalu pulih. Secepatnya kita satukan raga dan jiwa ini" ucap Menik kemudian.
Aisyah terlihat sedikit memucat. Luka di bagian lengannya terlihat masih basah. Dalam dunia lain luka itu sangat nampak. Tapi di dunia nyata luka itu tidaklah nampak tetapi kesakitan menderanya.
" Ayo. Kamu mulai dengan doa yang kamu bisa!!" ucap Menik.
" Hm... " jawab Aisyah.
" Bismillahhirrahmannrirrahim " mulai Aisyah.
Happpp....
Tangan lentik di sertai kuku - kuku tajam nan runcing mengangkat jiwa itu dengan jentikannya. Tak ada rasa berat yang menyertainya.
Memindai seluruh dimensi bersama jiwa hangat yang menerangi setiap langkah mereka. Jiwa suci yang sudah tercipta untuk membersamainya dalam dunia gelap itu.
Sampailah di sebuah pintu yang menghubungkan dua dunia berbeda. Aisyah kembali ke dalam raga yang sudah menantinya. Sementara Meni si kunti masih menggendong jiwa itu.
Mata bulat dengan bulu mata lentik itu kini terbuka lebar. Sedangkan suaminya setia melafadzkan ayat suci alquran.
" Aish... suamimu suruh berhenti!! Panasss!!" ucap Menik.
" Makannya tobat!!" ucap Aisyah yang di dengar Vendra.
" Cah ayu??" tanya Pak Darman.
" Hmmm ya Pak!" jawab Aisyah lemah.
Vendra yang mendengar kini menyudahi bacaan ayat sucinya. Segera mendekat dan mengusap tangan mungil itu.
" Alhamdulillah " ucap Vendra.
" Menjauh Mas..." ucap Aisyah lembut.
Segera tubuh ringkih itu bangun dan duduk bersila. Sementara Menik segera mengerti apa yang akan dilakukannya.
Segera dia meletakkan jiwa itu ke raganya. Raga yang sudah penuh dengan luka di sana sini. Sementara jiwanya sedikit luka yang mungkin akan menghambat proses kesadaran sedikit lebih lama.
" Bismillahhirrahmannrirrahim " ucap Aisyah.
Wuuuuussshhhhsssss
" Uhuuukkk "
Suara batuk disertai dengan muntahan darah keluar dari wanita paruh baya itu.
" Astaghfirullahhaladzim. Apa yang terjadi?" tanya Vendra kaget.
" Den... tenanglah.... sabar... Cah Ayu belum selesai" ucap Pak Darman menjelaskan.
" Bagaimana?" tanya Aisyah.
Dengan mengelap mulut wanita itu dengan lembut. Aisyah bertanya menggunakan batinnya kepada Menik.
__ADS_1
" Sedikit butuh waktu. Luka ditubuhnya dan di jiwanya berbeda. Tubuhnya sepertinya juga sangat lemah. Sedangkan jiwanya sedikit luka, tidak seperti tubuhnya ini. Dan itu yang menyebabkan kesadarannya butuh waktu!" terang Menik.
" Berapa lama?" tanya Aisyah kembali.