Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
13.


__ADS_3

" Ya sudah, cah ayu.. Kalau mau ngaji ataupun sholat jangan sampai terdengar keluar. Bacalah dengan lirih. Besok simbok belikan mukena" ucap Mbok Saroh.


" Terima kasih mbok" jawab Aisyah dengn tersenyum.


" Cah ayu, sudah tahu bukan? konsekuensinya jika masuk ke rumah ini?" tanya mbok Saroh.


Aisyah hanya menjawab dengan anggukan. Tak terasa air matanya sudah jatuh membasahi pipi. Mbok Saroh hanya mengusap air mata itu dan dia paham akan perasaan gadis ini.


" Lah wong masih terkena musibah. Sekarang harus dikerjai juragan sampai begini. Owalah ceritane dunyo ( owalah cetitanya dunia)" batin mbok Saroh.


" Mbok, apakah saya harus menjadi tumbal? Apakah makhluk itu sangat menginginkanku?" tanya Aisyah sedih.


" Mbok ndak bisa berkata apapun cah ayu. Sepertinya itu hukuman untuk orang yang sudah lancang memasuki rumah ini" ucap Mbok Saroh.


" Baiklah mbok, saya sudah siap. Karena percumah saja saya hidup. Sudah tidak ada lagi yang saya harapkan. Orang tua pun juga saya tidak tahu bagaimana. Karena kebakaran itu sudah melalap semuanya. Termasuk kesua orang tua saya" papar Aisyah.


" Ya sudah, istirahatlah. Nanti simbok kesini bawakan sarapan" ucap Mok Saroh.


Sementara di desa, semua warga desa berduyun - duyun ke rumah Pak Mustofa. Ada dua korban jiwa yang terkena lalapan sijago merah.


" Kenapa kita tidak tahu ada kebakarannya? semalam sepertinya tidak ada teriakan" ucap salah satu warga.


Karena rumah pak Mustofa memang berada agak jauh dari warga. Sekeliling rumahnyapun di kelilingi kebun yang cukup luas. Orang lewat rumahnya juga jarang sekali. Jadi kejadian yang menimpa keluarga Pak Mustofa tidak ada yang tahu.


Sementara Pak Lurah sudah menduga. Kejadian ini ada sangkut pautnya dengan juragan Gandi. Karena penolakan yang sudah dilakukan Aisyah. Penolakan pinangan dari seorang gadis yang sudah mengetahui kelakuan juragan Gandi.


Pak Lurah tidak tinggal diam akan hal imi. Dia yakin Aisyah melarikan diri setelah terjadinya kebakaran atau saat krbakaran sedang terjadi. Kemungkinan dia bersembunyi atau melarikan diri.


Menurut warga desa Aisyah lari menuju arah desa atas dimana pintu keluar desa menuju kota. Dokter Clara pun ikut mencari hingga pintu desa. Dia juga snagat menghawatirkan keadaan Aisyah.


Setelah hasil outopsi keluar memang benar dua orang itu adalah Pak Mustofa dan Bu Mustofa. Seakan runtug dunia Clara. Clara baru saja mempunya sebuah keluarga baru. Kini sudah diambil oleh Tuhan. Clara hanya bisa mengikhlaskan semua yang terjadi.

__ADS_1


Pikiran clara saat ini hanya Aisyah. Dia pasti masih hidup. Dan dia melarikan diri karena kebakaran ini seperti di sengaja.


" Pasti ulah bandot tua itu" gumam Clara.


Kini Pak Lurah dan dokter Clara masih mencari keberadaan Aisyah. Kekhawatirannya sudah tidak terukur lagi. Pak Lurah merasa sudah kehilangan cintanya yang belum tersampaikan.


Di rumah putih yang angker itu katanya, Aisyah masih berada di dalam kamarnya. Simbok Saroh sedang keluar kamarnya. Dan ternyata Aisyah dikunci lagi dari luar.


Kini Aisyah hanya meratapi hidupnya. Jika memang sekarang dia menjadi tumbal di rumah ini, dia sudah pasrah. Toh sekarang tiada orang yang ada untuknya. Orang tuapun kemungkinan sudah meninggal.


" Ya Allah, semoga Bapak dan Ibu ada yang mengurus semuanya. Jika mereka masih hidup jagalah mereka dari kejahatan. Dan jika mereka sudah tiada, ampunilah segala salah dan hilafnya. Aku ikhlas" rintih Aisyah lirih.


Seseorang diluar kamar mendengar ratapan itu. Terasa sesak di dada mendengar rintihannya dalam doa.


"Kenapa mendengarnya mengaduh begitu sakit dan teriris batin ini. Tetapi jika aku lemah dia akan lancang terhadapku. Dia sudah terlanjur menyalahi aturanku!" batun orang itu.


" Mbok, Pak.. urus gadis itu. Secepatnya! " ucap Ravendra.


" Tidak !! dia sudah lancang masuk kesini. Ada yang harus dia bayar jika melakukan kesalahan" ucap Ravendra.


" Ya sudah, aden maunya gimana? Kita usir? Kita buang ditengah hutan? Kita tembak mati? Kita Racun? Atau.." ucap Pak Darman.


" Atau apa?" tanya Ravendra tegas.


" Ha mbok dinikahi saja den. Aden po yo ndak butuh istri?" jawab Pak Darman nyleneh.


Saroh kemudian menepuk tangan suaminya dan mencubitnya agar tidak lancang bicara dengan adennya ini. Ya walaupun mereka mengasuhnya sejak kecil, tapi ada batasan antara majikan dan bawahan. Dan Saroh mengerti batasannya, walaupun sesekali mereka bercanda.


" Hiihhh prett" jawab Ravendra.


Pak Darman dan mbok Saroh tersenyu. simpul.

__ADS_1


" Lah gimana den? katanya mau jadikan tumbal. Lah mbok ya jadikan tumbal aden aja?" ledek mbok Saroh.


" Hissss" desis Ravendra.


Mereka kemudian diam, dan Ravendra seperti mempunyai ide cemerlang. Ravendra beranjak dari tempatnya. Kemudian dia kembali ke kamarnya.


Dia membuat surat kesepakatan kepada Aisyah. Dan itu sudah keputusannya. Dia terlihat ternyuh sata emndengar ratapan gadis itu.


" Mbok, kasih sama gadis itu. Bilang saja jika masih mau tinggal dirumah ini harus tanda tangani itu. Itu perjanjian yang aku buat. Dan ingat bilang padanya aku seorang monster atau terserah apapun yang penting aku jahat dan menyeramkan" ucap Ravendra dengan menggebu


" Owalah den.. den.. yang lainnya mau dibilang bagus, ganteng. Lah kok aden maunya seperti monster. Aneh bin ajaib pancen" gerutu Mbok Saroh.


" Lah pancen nek di lihat - lihat tu, aden makin hari makin kumel bin kucel. Mbok ya sik besus to den. Wong ada gadis cantik loh dirumah ini" ucap Mbok Saroh meledek.


" Haihh.. wes to mbok ( sudah to mbok) cepetan sana" ucap Ravendra.


Mbok Saroh kemudian bergegas menghampiri kamar gadis itu dengan membawakan makan dan surat perjanjian yang sudah dibuat adennya.


Ceklek... ceklek...


Terdengar suara kunci pintu. Aisyah yang saat itu masih terduduk lesu di samping jendela. Hanya menengok siapa yang akan masuk. Dan nampaklah wanita tua dengan guratan - guratan di wajahnya yang mulai nampak.


" Nduk.. cah ayu.. sini.. kemarilah... makanlah dulu" ucap Mbok Saroh.


" Tidak mbok, saya tidak lapar. Bawalah kembali. Jika memang saya akan dijadikan tumbal. Jangan pernah beri saya makan apapun" ucap Aisyah lirih.


" Sini sebentar cah ayu. Mbok mau bicara penting. Menyangkut cah ayu juga" ucap Mbok Saroh.


Aisyah berjalan gontai mendekati Mbok Saroh. Dia duduk di samping Mbok Saroh. Mbok Saroh kemudian membuka makanan yang sudah dia tutupi.


Dibukalah semua makanan, ada soto dengan kuah yang masih beruap, sambel, perkedel, kerupuk, ada juga semangka dan segelas jus alpukat.

__ADS_1


" Mbok, apakah pemilik rumah ini juga makan seperti ini? Apakah makanan ini ada doa dan rapalannya? Ataukah ini ada racun yang sengaja di berikan kepada saya?" ucap Aisyah menyelidik.


__ADS_2