Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
78.


__ADS_3

" Mau kedapur sebentar Pak!" jawab Mbok Saroh.


" Ya sudah kalau ke dapur" jawab Pak Darman.


Tentu saja dia tahu istrinya akan menyiapkan urusan perut. Tidak akan istrinya itu menyia- nyiakan tamunya.


" Baiklah sekarang kita bisa memulainya bukan?" tanya Aisyah dengan cepat.


Bola mata indah itu menatap sang mata elang bergerak dengan melirik ke kanan dengan menukik tajam.


" Apa maksunya ya?" batin Vendra bersenandung.


" Ehemm... oke baiklah. Kita bisa mulai nyonya? Suami anda tidak ada apa - apa. Dan dia sangat baik saat ini. Jadi, bicarakan selagi masih ada kesempatan. Jangan bermain isyarat" ucap Dokter.


" Aku yakin suami anda juga tidak sampai ke situ untuk berpikir tajam!" ucap Dokter yang meledek Vendra.


"Ckk..... Ahhh shitttt!!!" umpat Vendra.


" Nah kan benar apa yang aku katakan! Dia tidak akan sampai... percayalah...." ucap Dokter dengan tersenyum devil ke arah Vendra.


" Siapa anda???" tanya Aisyah yang semakin penasaran.


" Dimana anda belajar? Siapa guru anda? Siapa nama kyai anda?" tanya Aisyah memberondong pertanyaan yang bertubi.


" Hadehhhh.... nyonya...hufffftt" keluah dokter Haris.


" Kita akan bahas nanti. Ijinkan saya menangani anda - anda yang sudah membutuhkan medis dari saya. Oke?? Bisa dipahami? Tolong biarkan saya bekerja dengan cepat dan tepat!!" ucap dokter Haris.


Tangan terampil itu dengan cekatan menyiapkam semua yang dibutuhkan untuk digunakan kepada pasiennya. Semua alat yang dibutuhkan kini berada di tempat yang tepat sesuai dengan medis yang sudah dokter Haris ketahui.


Aisyah pun mendapatkan penanganan yang cepat pula. Dia juga merasa sedikit kesakitan saat beberapa jarum telah menembus kulit mulusnya.


Sedikit kekurangan darah dan menambal sulam dengan tidak maksimal. Membuat Aisyah merasakan sakit dan lemas tak berdaya.


" Sakit? " tanya Vendra lembut dengan mengusap kepala istrinya.


Hanya senyum tenang dan gelengan kepala yang terlihat di mata tajam lelaki itu. Kesakitan istrinya tentu dapat ia rasakan. Dengan pejaman mata bulat nan indah itu tertutup rapat. Bahkan sangat rapat.


Diusapnya pelan- pelan tangan yang sudah tertancap jarum infus itu. Dengan senyum tulus dari seorang lelaki yang dulu dianggapnya seperti monster yang menakutkan. Wajah angker yang selalu ditampakkannya. Kini menjelma bak wajah malaikat dengan beribu sinar di wajahnya.


" Tidak apa - apa!! Memang begitu prosesnya. Dia sudah mulai dehidrasi. Tenaga dalamnya membantu meringankan luka yang masih belum sempurna penyembuhannya!" ucap dokter Haris.


" Hmmm... iya mas.. jangan khawatir. Beginilah resiko yang harus aku hadapi" ucap Aisyah lembut.

__ADS_1


" Nyonya, anda juga salah!!" ucap dokter Haris sedikit meninggi.


" Hey !!!" teriak Vendra yang melengking dan segera meraih kerah baju dokter Haris dengan posisi akan memukul wajah dokter Haris.


" Den!!!" teriak Pak Darman dan segera berlari.


Sedangkan Aisyah hanya terpejam menahan kesakitan di seluruh tubuh saat tahu suaminya akan bergerak melangkah. Menahan tubub yang begitu besar dengan keadaannya yang begitu lemah tak berdaya membuatnya tersenyak kesakitan.


" Ssshhhhh" desis kesakitan Aisyah.


" Jangan Den!! Kasian Nyonya Den!!" ucap Pak Darman.


Dokter Haris terus mencerna apa yang diucapkan oleh Pak Darman. Dokter Haris segera tersenyum smirk.


" Den?" ucap dokter Haris memecah keheningan.


Pak Darman yang menyadari itu hanya kikuk dan segera menetralkan wajah tuanya. Mbok Sarohbyang sudah keluar dari dapur segera mendekat ke arah mereka.


" Walah... cah ayu.... mana yang sakit ??" teriak Mbok Saroh.


Vendra yang mendengar segera menghempas kasar kerah baju dokter Haris dan segera melihat keadaan istrinya.


" Mana yang sakit hmmm?? katakan?" ucap Vendra lembut.


" Awas!!!" ucap dokter Haris juga mendekat.


" Heeehhh... semua gara- gara anda!!" ucap Vendra sengit.


" Hmmmm.... Ah... baiklah Den" ucap dokter Haris mengingatkan.


Pak Darman hanya kikuk dan segera membuang muka saat melihat tatapan tajam juragan kecilnya yang sudah tumbuh menjadi lelaki dewasa.


Aisyah yang masih diperiksa dokter Haris segera menggenggam lembut jemari yang lebih besar darinya dan mengusapnya dengan lembut.


Vendra yang menyadari itu hanya diam dan menghembuskan nafas kasarnya untuk menetralisirkan emosi yang meletup - letup.


" Nyonya.. tenangkan pikiran anda. Tekanan darah anda sedikit tinggi. Istirahatlah!! Aku akan kembali dengan beberapa orang untuk berjaga!!" ucap dokter Haris.


" Jaga?" tanya Aisyah mengernyit.


" Serangan itu akan datang !! Aku sudah memancing untuk kesini" ucap dokter Haris santai.


" Tapi dok!! Apakah??" tanya Aisyah menggantung.

__ADS_1


" Istirahatlah!! Ini urusanku bersama dengan suamimu. Kami yang akan menghadapi. Untuk masalah jiwa dan raga yang terpisan dia sudah aku kunci" ucap dokter Haris yang memberikan penjelasan.


" Istirahatlah " ucap dokter Haris.


" Hmmm" jawab Aisyah lembut.


" Dan... anda Den... ayo kita keluar. Saya butuh anda beserta embel - embel penjelasan yang lain. Dan masih banyak lagi yang akan kita diskusikan!" ucap dokter Haris.


" Hmmm baiklah. Mbok tolong jaga Aish... jangan biarkan dia tidak beristirahat. Dan Pak... urusan kita belum selesai" ucap Vendra santai tapi tajam.


" Mas... sudahlah... Pak Darman tidak salah. Pergilah... Dok, titip suami saya. Dia orang baik hanya dia sedikit meledak - ledak emosinya jika marah" ucap Aisyah dengan tersenyum.


Vendra hanya tersenyum melihat istrinya yang memujinya dengan menatap mata elang yang menjadi mata sendu nan merayu.


Dikecupnya kening Aisyah dengan lembut dan dengan berbisik " I Love You" ucap Vendra dengan tersenyum.


Pipi mulus itu berubah menjadi pipi semerqh tomat. Dokter Haris yang melihat adegan itu segera tersenyum dan berdehem.


" Eheemm!!! Bukan saatnya romantis - romantisan seperti film india !! Ayo..." ucap dokter Haris yang segera menarik Vendra keluar.


Pak Darman dan Mbok Saroh hanya tersenyum melihat kejadian itu. Dimana mereka merasakan mempunyai anak yang saling ledek, menyerang, dan menghardik satu sama lain tapi masing - masing mempunyai hati yang baik dan penyayang.


Dua lelaki dewasa sudah berada di depan rumah. Segera dokter Haris menyeret Vendra menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan rumah.


" Jelaskan!!" ucap dokter Haris tanpa memandang wajah Vendra.


" Tentang?" tanya Vendra yang juga tak menatap sedikitpun dokter Haris.


" Semuanya! Biar saya tahu langkah apa yang akan saya ambil?" ucap dokter Haris.


" Huffff" hembusan kasar Vendra yang sudah mulai pasrah.


" Kenapa? Berat??" tanya dokter Haris.


" Anggaplah saya sebagai saudaramu. Kakakmu!" ucap dokter Haris yang kemudian menoleh memandang wajah tampan itu.


" Aisyah istriku. Cinta pertamaku. Gadis yang aku nikahi dengan sedikit paksaan dan negosiasi. Tetapi kini seperti yang anda lihat. Pak Darman dan Mbok Saroh... mereka...Huffff" ucap Vendra menjeda.


" Mereka??" tanya dokter Haris penasaran.


" Mereka sudah menjadi orang tuaku. Orang tua bagiku sejak kecil. Walaupun mereka bukan orang tua kandungku" ucap Vendra.


" Berarti... kamu... anak angkat?? Bukan... bukan... tidak... Lalu... Aden???" tanya dokter Haris.

__ADS_1


__ADS_2