
" Haduh... kamu itu. Mbok mulut itu di sekolahin. Kebiasaan!!" omel Pak Darman.
" Iya.. iya.. lupa Pak" jawab Mbok Saroh menyesal.
" Sampai kapan ya Pak, Aden konsumsi obat itu? Sebenarnya aku ndak yakin kalau nyonya terkena penyakit itu!" ucap Mbok Saroh.
" Lah... itu sik tak jadikan pikiran selama ini Bune!! Bidan itu kemana sebenarnya?? ngilang begitu saja!! Apa semua ini ulah Paman dan Bibinya Aden??" balas Pak Darman.
" Hihhh... orang itu!! Jahat e ra mekakat!! ( Jahatnya gak ketulungan!!) Biar saja Gusti Allah sik mbales!! Dosa besar Pak, anak yatim piatu loh " gerutu Mbok Saroh.
" Hm... doakan saja yang terbaik. Bune, cah ayu harus tahu keadaan suaminya yang sebenarnya. Tapi kita ndak punya wewenang untuk itu. Gimana kamu mbok coba ngomong sama Aden. Biasane sama kamu bisa nerima omonganmu!!" ucap Pak Darman
" Ya.. Iya.. Pak, nanti tak cobane bicara sama Aden" jawab Mbok Saroh.
" Ya wes, bapak tak lanjut kerja lagi. Masih banyak tugas dari Aden. Aku ndak mau semua berantakan" ucap Pak Darman menutup percakapan.
" Ya.. Ya.. wes Pak ati - ati. Jangan ngebut. Wes tua sudah ndak mumpuni lagi mata tuanya itu lo !!" ingat Mbok Saroh.
Kedua orang tua itu segera berlalu meninggalkan tempat. Mereka sibuk dengan masing - masing urusan yang menugaskannya dalam kegiatan sehari - harinya.
Di dalam sebuah kamar yang sangat luas. Ada sepasang sejoli yang tengah kikuk menyiasati keadaan. Masing - masing dari kedua belah pihak tidak ada yang dapat mencairkan suasana pagi itu.
Vendra ingin berusaha untuk membuka obrolan tapi lidahnya seakan kelu untuk berkata ataupun berucap. Aisyah pun yang hanya tunduk malu untuk menatap suaminya itu tetap diam.
" Suasana macam apa ini !!!! Hissss" gerutu Vendra dalam hati.
" Aku harus memulainya jika tuan tidak memulai percakapan!! Ya.. aku harus bisa!!" ucap Aisyah dalam hati.
" Tuan"
" Aish"
Ucap mereka bersamaan.
" Tuan duluan"
" Kamu duluan"
Ucap mereka bersama kembali.
Aisyah kemudian menjawab dengan senyuman manisnya. Mata tajam itu menatapnya penuh dengan kekaguman. Senyuman manis dari gadis yang selama ini dia amati dalam diamnya. Kini dia menikmati senyuman manis itu kembali bertengger di bibir mungilnya.
__ADS_1
" Tuan saja duluan" ucap Aisyah kemudian.
" Embb.. baiklah. Kamu bisa mandi, semua keperluan dan kebutuhan sudah disiapkan di sana" ucap Vendra dengan menunjuk sebuah pintu.
" Iya tuan. Terima kasih. Saya akan segera melaksanakannya. Dan... embb.. tuan... saya nanti akan tidur di sofa itu" ucap Aisyah dengan menunjuk sebuah sofa yang berada di sudut ruangan.
" Hmm..terserah" jawab Vendra singkat dan acuh.
Vendra segera keluar kamar menuju balkon. Dia sibuk mengotak atik ponselnya. Di carinya nama yang akan di hubunginya.
" Hmm.. masih ada nomernya. Akan aku coba" gumam Vendra lirih.
Aisyah masih sibuk dengan kegiatannya di kamar mandi. Tidak ada sedikitpun ketakutan yang nampak sebelumnya saat pertama kali melihat Vendra.
Ya, Vendra telah merubah penampilannya. Dengan rambut yang dipotong pendek dan rapih, bahkan bisa dibilang potongan rambutnya seperti anak muda yang kekinian.
Brewok dan kumisnya yang selama ini menutupi wajah tampannya sudah tidak ada lagi. Terlihat sangat sempurna wajah Vendra. Ketampanannya tidak diragukan lagi.
" Ya Allah, betapa sempurnanya lelaki itu. Hmmm... Aku tidak pernah meragukan apapun yang Engkau cipatakan" gumam Aisyah lirih.
Aisyah segera menepis pikirannya. Dia sudah terpesona dari wajah suaminya. Wajar saja bukan mengagumi wajah suaminya. Sudah halal pula, tidak masalah jika membayangkan itu.
Terdengar samar- samar suara bariton itu di telinga Aisyah. Dengan perlahan secara tidak langsung Aisyah mencuri dengar percakapan itu.
Aisyah mendekati pintu balkon dengan hati - hati, takut Vendra mencurigainya.
" Siapa yang dia hubungi? Apakah Pak Darman??" batin Aisyah.
Terdengar decit kursi yang bergeser/ pertanda si penduduk tahta tengah bangkit dari singgasananya. Aisyah segera berlari ke meja rias dan dengan cepat mencari sisir.
Ditelusurinya seluruh laci untuk mencari keberadaan benda itu. Tapi tak kunjung menemukan.
Sreekkkk
Terdengar tirai gorden yang menghalangi pintu bergeser. Vendra melihat istrinya yang tengah kebingungan seperti mencari sesuatu.
" Apa yang kamu cari???" tanya Vendra sedikit keras.
" Astaghfirullahhaladzim " ucap Aisyah karena terkaget.
" Emmbb... sisir tuan" jawab Aisyah lirih.
__ADS_1
Vendra segera berjalan menuju ke sebuah almari. Kemudian dia membuka almari itu. Dibukanya dengan perlahan dan kemudian menoleh ke arah Aisyah.
" Ayo !!" ajak Vendra.
Aisyah bingung dengan ajakan Vendra. Karena mereka berada di dalam satu kamar dan satu ruangan. Kenapa harus mengajak? Itulah yang ada di benaknya.
" Ayo !!" ajak Vendra sedikit sarkas.
Tanpa bertanya Aisyah pun mengikuti Vendra. Dan Aisyah terpana ternyata itu bukanlah sebuah pintu almari. Melainkan itu adalah sebuah pintu ruangan.
" Masuklah!!" perintah Vendra.
Aisyah yang terpana hanya diam dan menyusuri setiap sudut ruangan itu. Dia hanya masih diam dan mengamati ruangan dengan tanpa terkecuali.
Terdapat beberapa koleksi baju dan tas serta sepatu yang harganya cukup mahal. Semua itu tersedia untuk laki - laki dan perempuan.
" Cobalah!!" pinta Vendra santai.
" Ccccoba??" tanya Aisyah gugup.
" Ya, semua milikmu. Yang bagian sini adalah milikmu dan bagian sini adalah milikku. Mbok Saroh yang menyiapkan semuanya" jelas Vendra.
" Tterima kasih tuan" jawab Aisyah gugup.
" Gantilah pakaianmu !! Apa kamu tidak risih? Itu sudah kotor bukan? Bahkan, maaf. Baju itu tidak pantas kamu kenakan" ucap Vendra cuek.
" Maaf tuan. Baju ini memang kotor. Bisa saya cuci kembali. Tapi jika untuk menilai kualitas baju ini, saya rasa ini sudah lebih dari cukup untuk saya kenakan. Karena semua ini pemberian simbok. Saya sangat menghargainya" jawab Aisyah sedikit ketus.
" Yang membeli simbok. Uangnya dari aku!!" jawab Vendra tak kalah ketus.
Aisyah hanya diam dan diam. Kembali tak menggubris jawaban dari suaminya itu. Terkadang sifatnya yang ketus dan lidahnya yang tajam membuat hatinya mendesir getir.
" Huffttt...baiklah. Terimakasih karena secara tidak langsung sudah membelikan saya pakaian ini" jawab Aisyah menyudahi perdebatan yang sangat tak berbobot menurutnya.
" Ya. Bergantilah. Semua untukmu. Berdandanlah hanya untuk suamimu. Tutuplah seluruh auratmu. Karena itu hanya untuk yang halal bagimu" ucap Vendra dan berlalu.
Aisyah tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan. Dia kemudian memilih sebuah gamis yang sangat sederhana namun berkelas. Menurutnya itu adalah gamis yang sangat simpel dan nyaman dipakai untuk sehari - hari dirumah.
Setelah selesai, Aisyah segera bersolek dengan sedikit memakai pelembab wajah yang sudah disediakan di meja riasnya. Kemudian memakai pelembab bibir agar terlihat sedikit fresh.
Setelah mengeringkan rambutnya dia kemudian memakai hijabnya dan kemudian keluar dari ruangan wardrobenya.
__ADS_1