Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
80.


__ADS_3

" Vend... tolonglah ... please!!" memelas dokter Haris.


" Hihhh... lelaki kok begitu. Merengek seperti bocah !!" hardik Vendra.


" Clara sama Pak Lurah? Maksudmu... lurah desa itu? Desanya Aisyah?" tanya dokter Haris memastikan.


" Pantas saja kau ditolak bukan? Pantas saja Clara selalu menghindar dirimu bukan? hihh" cemooh Vendra kembali.


" Ohhh God !!!" ucap dokter Haris.


" Pantas... dia begitu menghindariku. Menjaga jarak sangat jauh dariku. Tapi dia juga tidak pernah dekat dengan lelaki manapun" gumam dokter Haris.


" Sudahlah... tak perlu kau pikirkan itu. Bagaimana dengan istriku? Apakah mereka masih akan menyerang istriku?" tanya Vendra penasaran dengan keselamatan istrinya.


" Hmmmm... huffff.... nasibbbb" ucap dokter Haris lemas.


" Huffff.... labil!!! Ada kunci yang bisa kau dapatkan!!" ucap Vendra kembali.


" Kunci? Maksudmu??" tanya dokter Haris.


" Selama kau bisa berbaik hati dengan istriku kau akan cepat mendapatkan jalur eksklusif" ucap Vendra kembali.


" Aaahhhhss.... kenapa aku yak berpikir samapi disitu" ucap dokter Haris.


" Kadang cinta buat buta semua orang. Dan membutakan pikirannya juga" ucap Vendra.


" Oke.. mulai sekarang. Hmmm... dari mana aku memulainya ya Vend?" tanya dokter Haris bingung.


" Heehhhh??? Kau bertanya padaku? Aneh !!!" ucap Vendra yang tidak mengerti jalan pikiran dokter Haris.


Selama dokter Haris berpikir, selama itu pula Vendra merasa jengkel denga sikap labil dokter Haris.


" Dia itu seperti anak remaja yang baru jatuh cinta saja. Aku saja dulu tak seperti itu . Sungguh aneh itu manusia!" batin Vendra menggerutu.


" Hm... sepertinya nanti malam kita harus bekerja keras. Dannnnn...." ucap dokter Haris tiba - tiba.


" Daan?" tanya Vendra penasaran dengan kalimat menggantung dokter Haris.


" Dan kita harus bekerja sama" jawab dokter Haris.


" Hmm... apapun kulakukan jika menyangkut istriku" ucap Vendra datar.


" Sepertinya sudah sangat terpikat oleh istrimu!" ucap dokter Haris.


Vendra hanya tersenyum seraya mengusap tengkuknya yang mulai sedikit pegal.


" Hmmm baiklah. Bala tentara lawan akan menyerang. Sepertinya mengincar wanita itu dan istrimu!" ucap dokter Haris.


" Bagaimana kau tau?" tanya Vendra penasaran.


" Hmmm hanya perasaanku saja. Vend... cepat bersiap. Gunakan kemampuanmu. Aku tahu kamu juga punya nilai plus untuk hal ini!" ucap dokter Haris.


" Tapi....tunggu!!" ucap dokter Haris menyela.


" Kenapa? " tanya Vendra bingung.


" Siapa wanita itu?" tanya dokter Haris kemudian.

__ADS_1


" Hmmmm dia saksi kunci kehidupanku!!" ucap Vendra.


" Tentang hidupmu? Masa lalumu?" tanya dokter Haris penasaran.


" Hmmm kurang lebih begitu. Kenapa?" tanya Vendra datar.


" Tak masalah jika kau belum mau terbuka denganku. Aku tidak akan memaksa. Dan aku akan membantumu semaksimal yang aku bisa " ucap dokter Haris kemudian.


" Cihhh .... itu kan kamu ada maunya. Kata - kata anda terlalu manis dokter!!" ucap Vendra.


" Hmmm terimakasih. Hehehe" ucap dokter Haris dengan cengengesan.


" Mau ikut berpetualang??" tanya Vendra kemudian.


" Petualang?" tanya dokter Haris.


" Hmmm" jawab Vendra datar.


" Mengungkap masa lalu hidupmu?" tanya dokter Haris lagi.


" Yaaa..." jawab Vendra singkat.


" Aku siihhh.... enggak mau!! Kurang kerjaan aja Kerjaan ku masih banyak. Lagian itu masa lalu kamu. Aku cuma bantu karena istrimu itu yang dicari Clara, cem - cemanku" ucap dokter Haris panjang lebar.


" Sudah ku duga... anda tidak ikhlas. Ya sudah, tidak perlu membantu. Dan urusan Clara, aku jamin dia tidak akan mudah luluh begitu saja. Lihat saja !!" ucap Vendra datar.


"Cihhh !! Ngancem !! Seperti anak TK!!" gerutu dokter Haris.


Ditinggalkanlah dokter Haris sendirian di halaman rumah sederhana itu. Tidak ada sautan yang terbuka lebar dari mulut Vendra, ketika dokter Haris berteriak.


" Come on Vend... please...." teriak dokter Haris.


*Debug....


Debug...


Debug*....


Suara gedebug kaki bersautan. Dokter Haris dan Vendra segera berhenti dan mendengarkan suara langkah siapa yang mendekat ke arahnya.


Dokter Haris hanya terdiam dan memejamkan mata, sedangkan Vendra mengalunkan lirih lafadz Allah.


" Den !!" ucap Pak Darman dengan tergopoh - gopoh.


" Alhamdulillah " ucap kedua lelaki itu.


" Kenapa Den? "


" Kenapa Pak?"


Pertanyaan yang saling bersahutan. Membuat mereka seakan ingin tahu apa yang terjadi atau menimpa masing - masing saat jauh dari pandangan.


" Itu... Simbok sudah menyiapkan makan. Silahkan segera masuk bersama Dokter Haris" ucap Pak Darman.


" Hmm.. terimakasih Pak!" ucap Vendra yang berlalu masuk.


Ketika dokter Haris akan masuk, Pak Darman mencegatnya.

__ADS_1


" Apa yang terjadi?" tanya Pak Darman.


" Hisss gak juragannya gak anak buahnya sama saja !!! pengin tahu banget???" ledek dokter Haris.


" Hmmm" jawab Pak Darman santai.


" Wani piro??? hahaha" ledek dokter Haris makin menjadi.


" Kau!! jangan masuk!!" ucap Pak Darman.


" Siapa anda?" tanya dokter Haris menantang.


" Kau!!! Lancang!!" ucap Pak Darman dengan cuek bebek.


" Ayo lah Pak... " ucap dokter Haris dengan merangkul santai bahu nan renta itu.


Pak Darman memang tidak sampai hati untuk berkata kasar atau apapun yang menyakitkan hati orang lain. Hanya saja, dokter Haris memang bercandanya unik.


" Hahaha... Pak... sabar ya... jangan terlalu emosi. keriput bapak berlapis tiga loh... nanti bisa menumpuk jadi ratusan... hahaha" ledek dokter Haris.


Pak Darman hanya tersenyum dan berjalan dalam dekapan lelaki nan gagah itu. Rasa nyaman dan tulus membuat Pak Darman menikmati rangkulan itu.


" Nyaman ya Pak?? Hahaha" ledek dokter Haris lagi.


" Kamu!!" ucap Pak Darman dengan tersenyum tipis.


Tipis sekali hampir tak terlihat di pandangan mata. Mata bulat itu memandang sebuah momen yang sangat romantis. Seorang anak merangkul mesra kepada orang tuanya.


Penuh kasih dalam irama dan detak nadinya. Mata bulat itu kini berembun menampakkan hujan lebat akan turun. Tak kuasa meneteslah embun yang makin bercucuran.


" Sudahlah... bapakmu InsyaAllah sudah dalam keadaan yang nyaman" ucap Vendra yang sudah tahu istrinya trenyuh.


" Hisss masss... kamu... membuyarkan anganku" ucap Aisyah lirih san jengkel.


" Istirahatlah.... aku akan makan dulu. Kamu sama Simbok sebentar ya?" ucap Vendra.


Hanya anggukan yang menjadi jawaban. Dikecuplah kening gadis itu. Dan senyum hangat terbit di kedua bibir candu itu.


" Eheeemmm. Cepetan !!! laparrr!!" teriak dokter Haris.


" Mas... kenapa dokter itu sekarang jadi preman? " sindir Aisyah.


" Bluuupppphhhhhhhahaha" suara tawa Vendra pecah.


" Kau dengar?? istriku berkata apa? Maka pikirkanlah!!" ucap Vendra kemudian.


" Aisshhhh" ucap dokter Haris.


" Jangan lancang !!! itu panggilanku untuk istriku!!" ucap Vendra.


" Hahahaa... begitu saja ngambek! Ambekan!!" ledek dokter Haris.


" Mass... sudahlah duduklah. Segera makan. Kalau mas ngurusi dokter Haris nggak akan selesai. Biar saja nanti juga gadis itu tidak akan mau sama dia. Apalagi kalau aku yang mengatakan tidak!" ucap Aisyah.


" Skak matt!! Hahaha" Vendra merasa dibela istrinya.


" kalian bersekongkol... Mbok... tolong aku!!" ucap dokter Haris.

__ADS_1


" Wes... sudah.. sudah.. kabeh anak e simbok. Semua sama. Wes.. ayo makan. Keburu dingin. Sebentar lagi bekerja kan? Ada tugas masing - masing tentunya!!" ucap Mbok Saroh mengingatkan.


__ADS_2