
" Maksudnya gimana Pak?" tanya Vendra.
" Loh itu. Cah Ayune marah to? Lah nek memang itu sudah jd kesepakatan kalian berdua harusnya yo ndak ada yang dirahasiakan. Toh nantinya bakalan tahu sendiri. Lagian kan masalah obat dan maaf penyakitnya Aden kan belum sepenuhnya benar" terang Pak Darman.
" Loh pie to Pak? Ndak bener gimana?" tanya Mbok Saroh.
" Aku bilang belum bu ne. Bukan Tidak !!" jawab Pak Darman membenarkan.
" Lah iyo. Belum tentu benar itu kepie, bagaimana?" tanya Mbok Saroh penasaran.
" Lah, jadi gini Bu ne. Aden itu udah ndak minum lagi obatnya. Dan dia merasa tubuhnya biasa saja. Tidak ada efek sampingnya. Jadi kemungkinan penyakit itu tidak ada ditubuh Aden!" terang Pak Darman.
" Lah kalo begitu yo mbok dipriksake lagi to Den. Biar pasti lagi!" jawa Mbok Saroh.
" Kita akan lalukan itu tapi, tunggu dulu kepastian masalah kita. Dan saya masih penasaran dengan buhul yang Pak Darman bawa" jawab Vendra kemudian.
" Emmbb Den. Masalah ini ndak usah di khawatirkan. IsnyaAllah tidak ada masalah. Yang terpenting bagaimanan nyonya rumah tidak marah. Cari solusinya itu. Opo ndak masalah sekamar diem - dieman?" tanya Pak Darman.
" Wee alah, perang brotoyudo sudah dimulai. Negara api juga sudah menyerang rupanya!!" gelak Pak Darman.
" Bapak !!" tegur Mbok Saroh denga menyikut lengan pak Darman.
" Den, namanya rumah tangga itu ndak ada yang mulus. Apa lagi, maaf. Awal rumah tangga Aden terjalin bagaimana? Aden tahu sendiri bukan? Dan, kemarin kami jadi saksi ungakapan hati ya to Mbok?" ucap Pak Darman.
" Ho'oh" jawab Mbok Saroh dengan mengangguk.
" Masalah kalian itu tidak seberat masalah kami. Lihatlah kami, kami tidak akan pernah di berikan kepercayaan kepada Sang khaliq. Tapi kami ikhlas menjalaninya. Mbok Sarohmu juga setia kepada saya. Karena memang kami menerima semua dari awal" terang Pak Darman.
" Kalau kalian ini kan masih ada harapan. Jangan jadikan penyakit yang belum jelas itu menjadi masalah" ucap Mbok Saroh menimpali.
Vendra hanya diam mendengarkan dan meresapi. Alih - alih menjawab dia hanya berpikir bagaimana menghadapi gadisnya itu. Dan cara ampuh apa untuk melumpuhkannya.
" Mikir apa Den?" tanya Pak Darman.
Pak Darman hanya mengamati Adennya yang hanya diam mematung seperti menelaah jauh pengembaraan dalam pikiraannya.
__ADS_1
" Gimana caranya mengatasi negara api yang mulai menyerang?" celetuk Vendra.
" Haduhh... kamu saja Mbok. Kan kamu wanita, jadi bisa tahu bagaimana caranya. Kalo Bapak kan langsung dar, der, dor tembak beres" ucap Pak Darman.
" Den, cah bagus. Cah wedok kui kudu di elus yen nesu ( Anak perempuan itu harus di lembutin kalau sedang marah). Jadi dekatilah dia, bicara dari hati ke hati. Apa yang di pengini. Terus usahakan bicara yang lembut dan tutur kata yang halus. InsyaAllah nanti akan luluh" terang Mbok Saroh.
" Jangan pernah membantah apa yang akan disampaikannya ataupun menjawab. Diam dan resapi. Lalu bisa disimpulkan"
" Jika belum mencapai kesepakatan bisa gunakan orang lain atau orang ketiga yang netral untuk membantu menjelaskan" ucap Mbok Saroh lagi.
" Wes sudah, sana. Negara api dihadapi dulu. Nanti kalau sudah ndak ada apine kan jadi adem lagi" usir Mbok Saroh.
" Den, kalau dia ndak mau ndengerin yo sudah dar, der, dor langsung aja Den!!" ucap Pak Darman menambahi.
" Dari tadi dar, der, dor ndak ngerti saya Pak!!" ucap Vendra menirukan logat medok mereka.
" Hahaha . Diece kita pak ( Diejek kita Pak)!!" kelakar Mbok Saroh.
" Ya sudah tak balik lagi. Makasih ya Mbok Pak atas pencerahannya. Dan ingat masalah buhul jangan di sepelekan!!" ingat Vendra.
" Hmm" jawab Vendra dengan mengangguk.
" Saya permisi. Assalamualaikum " ucap Vendra.
" Waalaikumsalam " jawab Pak Darman dan Mbok Saroh bebarengan.
Vendra segera bergegas kembali ke kamarnya, untuk memastikan negara qpinyq yang sudah dalam tahap penyerangan ke berapa. Atau mulai dengan gencatan senjatanya.
" Ya Allah, semoga selalu dlaam lindunganNya yo Pak. Wes dewasa, Cah Ayu ngasih dampak yang positif. Berdeda dan berubah!!" ucap Mbok Saroh.
" Gimana ndak berubah. Lah jadi tukang keker ( teropong) tiap hari dari atap rumah. Yang di keker cuma gadis cantik itu. Sopo sik ndak kesengsem. Pilihane juga ora main- main. Jan pinter!!" ucap Pak Darman.
" Loh, Pak' e tahu juga???" tanya Mbok Saroh penasaran.
" Yo sopo yang gak tahu. Kegiatan rutinnya cuma itu!! Kalo pas marah - marah ke atap, ngeker. Terus turun- turun wes baik lagi itu!!" terang Pak Darman.
__ADS_1
" Ndak, maksudku... Bapak tahu kalo Aden ngekeri Cah Ayu setiap hari? Ambendino??" tanya Mbok Saroh penasaran lagi.
" Iyo!!" jawab tegas Pak Darman.
" Wo alah, teropong cinta judule Pak!!" ucap Mbok Saroh binar.
" Yang pasti, semoga saja sampai janah menjalankan rumah tangganya. Dijauhkan dari segala masalah" "terang Pak Darman.
" Kita kan tahu Mbok, mereka menjalaninya karena apa? Awalnya kan ndak bagus. Karena kontrak, terpaksa, takut dan lain halnya. Itu memang hanya akal - akalan Aden sebenarnya. Tapi pernikahan itu jangan dijadikan mainan. Awalnya bapak ndak setuju!! Lah tapi gimana, wong juragan!! Yang nggaji kita juga dia kan?" ucap Pak Darman.
" Kuta bisa doakan mereka yang terbaik Pak " ucap Mbok Saroh.
" Ya.. memang harus begitu !! Kita sudah rmnganggap mereka anak kita sendiri. Ya to??" ucap Pam Darman.
" Ho'oh " jawab Mbok Saroh dengan mengangguk.
Sementara di depan pintu kamar. Seorang lelaki masih dengan kegelisahannya untuk mengetuk pintu atau tidak. Dia hanya ragu. Sementara penghuni kamar sudah mulai terlelap karena semalaman begadang tiada hentinya.
Tok.. Tok.. Tok..
" Aish... kamu di dalam?" teriak Vendra.
Tidak ada jawaban dari penghuni. Sebelumnya Vendra sudah mencari gadisnya keseluruh ruangan rumah. Tidak ada dijumpai batang hidungnya. Tapi pintu kamar tertutup rapat, tanda ada penghuninya .
Vendra membuka handel pintu secara perlahan sehingga suara deritan pintu sampai tak terdengar. Dan si empunya kamar telah tertidur lelap diatas pembaringan.
Entah kekuatan dari mana dan keberanian dari mana asalnya, kaki itu melangkah. Mendekat untuk memindai sang gadis pujaan hatinya. Entah rasa apa yang menyelimuti pikirannya.
Di julurkannya tangan kekar itu, kemudian diusapnya rambut dengan lembut. Disingkirkannya anak rambut yang menutupi wajah cantik itu.
" Cantik!!" ucap Vendra lirih.
Dikecupnya kening wanita itu dengan penuh kasih. Di urutnya ke hidung hingga berujung ke bibir mungil yang merona itu. Dikecupnya perlahan, tanpa napsu.
Segera dia membasuh diri dan naik ke singgasananya. Direngkuhnya tubuh mungil mendekat ke dadanya. Di dekapnya dalam hembusan nafas lirih yang menjadi candunya.
__ADS_1
Terhipnotis... dalam lelap dan tertidur....