Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
38.


__ADS_3

Sajadah terbentang menjadi saksi bersujudnya sepasang manusia yang selalu ingin merajuk kepada Tuhannya. Merintih dan memohon ampunan. Doa dan harapan yang terpanjat dilantunkan dua insan manusia.


" Allahhuakbar"


Takbir telah terucap dari mulut si imam. Dimulainya dengan alfatihah yang dilafadzkannya dengan makhraj dan tajwid yang benar. Tidak dikatakan sempurna karena masih dalam tahap selalu belajar.


Lidah yang tadinya kelu kini seolah seperti banyaknya minyak yang mengolesi disekitarnya. Terlihat nampak sangat mudah diucapkan tanpa kesalahan sedikitpun.


Didengarkan bacaan ayat pendek yang mengiringi sholat itu dengan sangat khusyu'. Beratambahlah bahagia dan kagum akan rasa yang kini hadir di relung hati wanita itu.


Bacaan yang mendayu membuat telinganya semakin nyaman dan terus ingin mendengarkan bacaannya. Setelah selesai melaksanakn shalat subuhnya, Vendra segera meraih ponselnya.


Dibukanya al-quran digital dari ponselnya. Dibacanya ayat - ayat suci Al- quran dengan khuyu'. Aisyah hanya menjadi pendengar setia setiap apa yang dibaca suaminya itu.


Aisyah hanya terpana dan terus terpana dengan apa yang dilakukan suaminya. Mendengarkan sama dengan mendapatkan pahala pula.


" Ya Allah.. Ya Rabb terimakasih atas nikmat yang Engkau Berikan. Tapi, kenapa dia ?? Bahkan bacaannya sangat benar. Apakah dia??" pertanyan bertubi - tubi hinggap di kepala Aisyah.


" Shodaqallahul'adziim" tutup Vendra.


" Kenapa??? Terpana??" ucapnya songong kepada istrinya.


Vendr yang sudah menyelesaikan bacaannya melihat istrinya bengong memandanginya. Dia sadar, akan menarik perhatian istrinya jika dia melakukan ini semua.


Bukannya sombong, tapi di dalam hatinya dia memang berniat akan memulainya dari subuh ini. Dan semua sudah dilakukannya.


" Ehmmm" Aisyah menetralkan lamunannya.


" Segera berkemas. Kita akan kembali ke rumah" titah Vendra.


" Hmm" jawab Aisyah singkat.


Vendra keluar meninggalkan kamar itu dan segera keluar dengan membawa sesuatu. Aisyah sedikit ingin tahu, bungkusan apa yang di bawa suaminya itu.


Segera Aisyah membereskan semua barang yang ternyata dibawakan untuknya. Kemudian dia segera duduk untuk menunggu suaminya yang entah kemana keluar dari kamar.


Terdengar decitan pintu, tanda pintu bergerak.


" Sudah??" tanya Vendra.


" Ya" jawab Aisyah singkat.


" Ayo" ajak Vendra cepat.


Aisyah tidak bertanya apapun. Dia hanya melenggang mengikuti langkah suaminya yang lebar. Sedikit berlari mengikuti langkah suaminya.


Pak Darman sudah berada di depan hotel menunggu mereka. Mbok Saroh pun sudah duduk di belakang kemudi. Segera dia bangkit.


" Den, mau duduk di depan atau di belakang?" tanya Mbok Saroh.


Vendra hanya melirik sekilas istrinya yang sedikit gelisah.


" Depan saja" jawab Vendra cepat.

__ADS_1


" Mbok dibelakang saja" perintah Vendra.


" Siap Den" jawab Mbok Saroh.


Pak Darman yang segera melajukan mobilnya sebelum matahari menampakkan dirinya. Agar sampai di rumah putih tidak dilihat warga desa yang lain.


" Pak, lewat jalan tikus saja" pinta bok Saroh.


" Gimana Den?" tanya Pak Darman meminta persetujuan.


" Aish... bersiaplah. Pegangan yang kencang" pinta Vendra.


Pak Darman segera melajukan mobil menuju jalan tikus. Ucapan Vendra dengan memerintah istrinya adalah jawaban persetujuannya.


Aisyah yang menyimak percakapan tiga orang itu hanya diam dan mengikuti perintah yang di ucapkan suaminya.


" Jalan tikus? sebenarnya jalan apa? Sampai - sampai aku harus berpegangan dengan kencang seperti ini" batin Aisyah yang penasaran.


Mobil kini telah memasuki jalan desa yang mulai bergelombang. Aisyah merasa sedikit bergoyang dari tempat duduknya.


" Astaghfirullahhaladzim " ucap Aisyah kaget.


Aisyah sudah bergejolak dalam duduknya. Vendra yang mendengar itu hanya menggelengkan kepala.


" Pegangan yang kuat!!" teriak Vendra.


Pak Darman membawa mobil dengan sangat hati - hati. Jalanan berlubang, membuat semua orang yang ada di dalam mobil bergejolak.


Mbok Saroh menengok melihat Aisyah yang sepertinya sudah pucat. Seperti akan muntah. Mbok Saroh segera mengeluarkan kantong plastik untum Aisyah.


" Cah ayu.. ini" ucap Mbok Saroh memberikan.


Aisyah menggeleng cepat.


" Tidak Mbok. Susah nanti. Malah kemana- mana muncratnya!!" ucap Vendra.


Vendra yang mendengarkan percakapan di belakang jok nya segera mengetahui topik apa yang tengah diperbincangkan.


" Pak cepatlah sedikit" perintah Vendra.


Pak Darman hanya mengangguk, dan segera menancap gas dengan cepat.


" Tahanlah!! sebentar lagi sampai" ucap Vendra.


Tak lama mobil telah terparkir di sebuah basement yang sedikit gelap. Pak Darman turun dan segera menyalakan lampu basement.


Aisyah seger turun dan mengeluarkan segala isinya. Tetapi karena belum terisi makanan sedikitpun, hanya cairan sedikit yang keluar.


Keringat telah membanjiri kening Aisyah. Seger Vendra merengkuh dan membawanya dalam gendongannya.


" Mas.. mas... turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri" teriak Aisyah dengan memukul - mukul bahu suaminya.


" Diamlah dan menurut!!" ucap Vendra.

__ADS_1


Aisyah hanya diam tanpa perlawanan yang berarti. Vendra segera membawa ke sebuah pintu yang dibaliknya ada anak tangga yang tidak terlalu banyak.


Diturunkannya Aisyah dari gendongannya. Aisyah kemudian mengedarkan seluruh pandangannya ke segala arah.


" Mas... ini dimana?" tanya Aisyah.


Vendra segera membuka kunci kamar tersebut dengan sebuah kode. Dia kemudian masuk dan segera menggandeng Aisyah masuk.


Sebuah kamar luas dengan dekorasi yang sangat simple namun terkesan elegan dan sangat nyaman. Seperti yang di inginkqn Aisyah.


" Suka??" tanya Vendra singkat.


Aisyah hanya mengangguk dan tersenyum. Vendra yang melihat binar mata istrinya sangat bahagia diapun juga terlihat senang.


" Kemarilah!!" perintah Vendra.


Vendra kini duduk di sebuah ranjqng dengan ukuran king size. Aisyah segera mendekat dan duduk di hadapan suaminya.


" Ya mas.." jawab Aisyah.


" Kita tinggal disini. Ini kamar kita" ucap Vendra.


" Ini? Tapi ini dimana mas?" tanya Aisyah penasaran.


" Hmm.. lihatlah keluar" ucap Vendra dengan menunjukkan arah Jendela kamarnya.


Tanpa menjawab suaminya, Aisyah melangkahkan kakinya dan menyibakkan gorden yang melekat pada jendela itu.


" Subhanalllah " ucap Aisyah takjub.


" Apakah kau suka? " tanya Vendra kemudian.


" Ya mas, sangat indah" jawab Aisyah yang masih memindai pemandangan di luar.


" Embbb... mas" ucap Aisyah sembari berbalik.


" Tapi, bukankah ini masih di rumah putih? Kenapa berbeda?" tanya Aisyah sedikit ingin tahu.


" Nanti kau akan tahu! Jangan banyak bertanya. Mandilah! Karena aku tidak suka jika kau menempel di ranjang ini ketika terkena debu luar" ucap Vendra sedikit menekan.


" Baiklah tuan..." jawab Aisyah menekan juga.


" Aku tidak suka itu Aish!!" teriak Vendra menggelegar.


Dengan cueknya Aisyah segera masuk ke kamar mandi. Dan dia snagat terkejut dengan design kamar mandi serta perabotan penunjang lainnya.


" Sebenarnya siapa suamiku ini? Dari mas kawin hingga apapun yang digunakannya nampak semua barang dengan fasilitas dan teknologi yang mumpuni. Kenapa aku tidak mengetahui apapun tentangnya. Bahkan dia sangat tahu detil tentang semua dariku"


" Apakah dia seorang mafia? Ah.. kebanyakan baca novel nih, jadi berpikir aneh - aneh. Apakah dia orang yang benar - benar kaya? Lalu apakah kerjanya? Sepanjang hari dia hanya dirumah!!"


" Kebun?? Ahh.. ya, apakah dia bekerja di kebun?"


Begitulah gumaman Aisyah di sepanjang dia masih melakukan aktifitas mandinya.

__ADS_1


__ADS_2