Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
30. 🪰


__ADS_3

" Den, sebelah sini" ucap Pak Darman.


Tanpa menjawab Vendra segera mengikuti langkah kaki Pak Darman. Sesampainya di depan makam, terdapat dua buah patok. Hanya patok sederhana yang terbuat dari bambu. Ada tanaman silancur di kedua ujung patok itu.


" Sini Den, berjongkok" pinta Pak Darman.


Vendra segera mengikuti apa yang di sarankan Pak Darman. Pak Darman segera memulai berdoa untuk arwah dimakam tersebut.


Vendra masih mengedarkan matanya mencari - cari sesuatu. Dia merasa ada orang yang memata - matainya. Pak Darman hanya terus khusuk berdoa.


Setelah selesai berdoa, Pak Darman segera mengajak ke salah satu rumah yang biasa di sebut pakuncen. Ya, juru kunci makam disitu.


" Mari Den, ikut saya!" pinta Pak Darman.


Vendra hanya mengikuti Pak Darman tanpa banyak bicara. Sedangkan apa yang ada dipikirannya terus bermunculan. Dia hanya diam dan terus mengikuti kemana arah dan tujuan Pak Darman.


Dia mengira Pak Darman akan memberikan jawaban atas banyaknya pertanyaan yang muncul di kepalanya.


Sesampainya di rumah juru kunci makam. Pak Darman segera mengetuk pintunya.


Tok


Tok


Tok


" Assalamualaikum Mbah..." ucap Pak Darman.


Seorang lelaki tua, kira - kira berumur enam puluh sampai tujuh puluh tahun membukakan pintunya.


" Waalaikumsalam, wehh... Tamu besar. Pie Man kabare? ( Bagaimana Man kabarnya?)" tanya juru kunci.


" Alhamdulillah baik Mbah. Mbah, ini Aden" ucap Pak Darman mengenalkan.


" Hmm.. Yo, aku wes ngerti ( Ya, aku sudah tahu). Kamu ndak ngomong saja aku wes ngerti, wes paham Man" jawab juru kunci.


" Bagaimana? Ada keperluan? Ini habis nyekar to?" tanya juru kunci.

__ADS_1


" Iya Mbah. Ini ndak disuruh masuk to?" jawab Pak Darman basa - basi.


" Oh.. iya, Maaf ya cah bagus. Menunggu diluar. Kalau Darman sudah biasa di bale depan. Ndak pernah masuk. Silahkan masuk di gubug Mbah" ucap juru kunci panjang lebar.


Vendra hanya mengangguk dan tersenyum.


" Begini Mbah, Aden pingin ngerti makam siapa yang rutin saya kunjungi. Dan Mbah bisa ceritakan apapun tanpa ditutupi" ucap Pak Darman.


" Hmm... begitu. Haaahhh" jawab juru kunci.


Seperti sedang mengeluarkan segala beban yang sudah dipikulnya. ******* panjang yang lolos dari mulut orang tua itu begitu terasa. Kini Mbah juru kunci memulai bercerita.


" Cah bagus, dengarkan dengan baik - baik. Ambil sisi yang baiknya. Dan buang sisi yang buruknya" ucap juru kunci memulai percakapannya.


" Hmm" jawab Vendra irit.


" Makam itu adalah makam ibumu. Ibu kandungmu" ucap mbah juru kunci.


" Ibu? Hahhh... Bercanda !!" jawab Vendra meremehkan.


" Benar. Itu adalah makam Ibumu. Erika, Ya.. Nama wanita itu Erika. Ibumu masih mempunyai darah kental kerajaan di eropa. Dia masih keturunan darah biru" ucapnya kemudian.


" Aku sudah mengenalnya sangat lama, ketika ayahmu membawanya ke villa yang kamu tempati saat ini. Dia wanita yang baik. Dan dia meninggal karena sakit" terangnya kemudian.


" Sakit???" tanya Vendra sedikit menyelidik.


" Sakit karena penyakit itu? Penyakit yang sangat menjijikkan, dan menjadi penyakit yang menurunkan kepadaku!! Penyakit laknat ini" ucap Vendra sedikit sarkas.


" Sebenarnya...." ucap juru kunci menggantung.


" Mbah, cukup. Kita belum punya cukup bukti untuk mengatakannya!" jawab Pak Darman menyela.


" Hm.. benar katamu Darman. Erika meninggalnya sangat tidak wajar. Dan kematiannta seolah tidak ada yang mengetahuinya" jawab juru kunci.


" Ceritakan!!!" ucap Vendra sedikit meninggi.


" Aden yakin??" tanya Pak Darman.

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan Pak Darman Vendra hanya diam dan menatap tajam juru kunci.


" Katakan yang sebenarnya!! Yang kalian ketahui!!" ucap Vendra tegas.


" Hmm..baiklah" jawab juru kunci.


" Saat kejadian pembunuhan dulunya kami adalah pekerja di kebun milik keluarga Ayahmu. Ayahmu menikahi Ibumu karena memang sangat cantik dan baik. Wanita yang lembut. Ayahmu sangat mencintai Ibumu" Juru kunci memulai cerita.


" Untuk mendapatkan Ibumu saja, Ayahmu harus ke Eropa untuk meminta restu langsung kepada Orang tua ibumu. Yang notabennya adalah seorang bangsawan eropa yang sangat kaya. Ibumu mempunyai usaha yang cukup berkembang di wilayah ini. Ibumu membuka pabrik gula di puncak sebelah sana" ucap juru kunci dengan menunjuk arah.


" Pabrik itu sangat membantu perekonomian warga. Membuka lapangan kerja baru untuk warga sekitar. Dan itupun dilakukannya dengan sangat bijaksana. Orang tuamu adalah orang tua yang sangat bijaksana dan baik hati dan lagi dermawan".


" Saat itu mbah adalah pekerja kebun teh milik ayahmu. Bahkan sudah cukup lama bekerja dengan ayahmu. Dan setelah beberapa tahun datanglah Darman dan Saroh untuk melamar pekerjaan".


" Saat itu hanya Darman yang di terima, karena belum ada pekerjaan yang pas untuk Saroh. Karena pekerja saat itu sudah cukup banyak. Dan dirumah itu juga sudah cukup pelayan yang mengabdi"


" Darman diberikan rumah di gubug sebrang sumur tua yang tidak ditempati. Karena saat itu memang Darman datang dengan tidak mempunyai ongkos sedikitpun. Kami saat itu belum mengenal satu sama lainnya"


" Tak lama, kabar kehamilan Ibumu terdengar. Ibumu saat itu mengalami mual yang cukup hebat. Hingga dia membutuhkan perawat khusus. Karena semua pelayan dirumah itu sudah ada bagiannya. Akhirnya Ayahmu meminta Darman untuk menjadikan istrinya perawat Nyonya Erika"


" Dengan senang hati Saroh menerima pekerjaan itu. Saroh dengan sepenuh hati melayani Ibumu. Tanpa mengeluh sedikitpun. Ibumu juga tak kalah sayangnya dengan Saroh. Dia merasa menemukan saudaranya di sini"


" Karena setahu Mbah, ketika memutuskan menikah dengan Ayahmu. Maka gelar kebangsawanannya dihapus dan dia tidak dianggap oleh keluarganya di Eropa. Karena Ibumu sangat mencintai Ayahmu, dia rela melepaskan semuanya"


" Hingga akhirmya tiba kamu akan dilahirkan. Saat itu di desa ini hanya Ayahmu yang mampu mendatangkan dokter terbaik dari kota. Dan dia melakukan hal tersebut"


" Dokter melakukan banyak serangkaian tes kesehatan kepada Ibumu dan kamu. Tes darah yang dilakukan saat itu agar terlihat penyakit keturunan atau tidak oleh dokter yang menangani. Seketika dokter terhenyak mendapati Ibumu mempunyai HIV"


" Saat itu hati Ibumu sangat hancur. Bahkan keprawanannya sudah diserahkan kepada Ayahmu. Dan dia tidak berhubungan dengan lelaki manapun. Hanya Saroh yang setia menemaninya. Memberikan dukungan tanpa ada rasa jijik menggelayutinya"


" Ayahmu yang mengetahui hal itu tidaklah kaget. Ayahmulah yang menularkan virus laknat itu kepada Ibumu. Dia..." ucapnya menggantung.


" Teruskan !!" ucap Vendra.


" Awal pernikahan Ayahmu memang belum mempunyai penyakit itu. Penyakit itu dia dapatkan ketika mendapatkan jamuan oleh rekan bisnisnya di Jakarta. Dia diberikan wanita penghibur. Dan wanita itu diduga penyebab penularan virus itu"


" Saat itu Ayahmu mengatakan demikian. Kenyataan yang sebenarnya Mbah tidak tahu. Ayahmu sudah bermain gila dengan berapa banyak perempuan itupun dia yang tahu"

__ADS_1


__ADS_2