
" Pertama, jika aden sudah keluar dari daerah ini jangan pernah untuk mau kembali lagi kesini. Karena tempat ini sudah tidak aman lagi"
" Kedua, saya minta jika Aden sudah menemukan jawaban dari Bidan ini. Tolong jangan pernah berkecil hati. Jadilah Aden yang angkuh dengan muka dingin Aden. Karena saya tahu, keangkuhan itu menyimpan banyak sekali kasih sayang dan kerinduan"
" Ketiga, jangan lakukan apapun terhadap Bidan ini. Lakukan menurut hati nurani. Karena akan banyak sekali informasi yang Aden dapatkan dari wanita tua ini"
" Ke empat,.."
" Hisss banyak sekali" gerutu Vendra.
" Ini yang paling penting" Ucap Tarno melanjutkan.
" Oke " jawab Vendra yang sudah malas.
" Ke empat saya minta bagian sedikit dari Aden" ucap Tarno pelan.
Vendra diam mencerna kalimat terakhir yang diucapkan oleh Tarno ' bagian'.
" Bagian?" tanya Vendra mengernyit.
" Sebutkan!!" ucap Vendra yang sedikit paham.
Vendra berpikir jika Tarno meminta 'upah' atas jerih payahnya membantu dirinya. Dan menurutnya itu tidak masalah baginya. Karena memang dia sudah siap untuk hal itu.
" Tanah di perbatasan" jawab Tarno yakin.
" Tarno !! Lancang !!" hardik Pak Darman.
Pak Darman berpikir jika yang diminta Tarno terlalu berlebihan. Pak Darman hanya mengira Tarno meminta uang kepada Adennya.
Tak lama Pak Darman maju akan memukul Tarno. Tapi, tangan Vendra memberi isyarat agar tetap diam ditempatnya. Pak Darman tahu akan hal itu.
" Berapa luas yang kau butuhkan? " tanya Vendra kembali.
" Den... jangan Den" bisik Pak Darman.
Vendra memberikan isyarat kembali agar Pak Darman tetap diam dan hanya menyimak negosiasi yang sedang berlangsung.
" Tidak banyak. Hanya cukup untuk sebuah pesantren beserta masjid dan kelengkapan lainnya" terang Tarno.
Vendra hanya manggut - manggut akan pernyataan Tarno. Kini dia paham akan permintaan Tarno.
" Pak Darman... urus semuanya!! Perbatasan memang membutuhkan itu. Tarno saya mempercayakan semua kepadamu. Dan Pak Yusuf, bisa menjadi tauladan untuk itu. Dan tolong bimbing semua yang ingin bergabung di sana, jika semua sudah terlaksana dengan baik. Jangan pernah meminta bayaran dari setiap santri yang tidak mampu. Mengerti?? Paham??" terang Vendra.
" Alhamdulillah " ucap Tarno dengan Yusuf.
" Iya Den. Terimakasih. Saya kira Aden keberatan. Hehehe" celetuk Tarno.
" Ishhh !!" desis Vendra.
__ADS_1
" Buka penutupnya!! Kasihan dia pasti kegerahan" ucap Vendra.
Vendra segera mendekati orang yang di bungkus kepalanya. Tarno kemudian segera membuka bungkus kepala orang tersebut.
" Tarno, tidurkan di kursi itu!!" perintah Vendra.
" Baik Den!!" jawab Tarno.
Kain pembungkus terbuka seluruhnya. Semua sangat antusias untuk melihatnya. Sedangkan peliharaan Pak Yusuf tak kalah keponya alias ingin tahu juga.
" Pak Yusuf, tolong peliharaannya !!" ucap Pak Darman yang ketakutan melihat sosok orang yang tidak menapak di depannya.
" Hehe, maaf Pak. Sebentar" jawab Pak Yusuf.
Pak Yusuf kemudian membacakan beberapa surat pendek yang kemudian berbicara dengan makhluk itu. Tak lama semua peliharaan Pak Yusuf sirna.
" Sudah" ucap Pak Yusuf.
" Alhamdulillah " jawab Pak Darman.
Semua sekarang fokus dengan orang yang dibungkus. Seketika Pak Darman terbelalak.
Kulitnya memang sudah tak sekencang dulu. Tapi dari gurat wajahnya Pak Darman sangat tahu dia siapa. Karena kejadian yang sudah berlalu itu terekam jelas di memorinya.
" Astaghfirullahhaladzim" ucap Pak Darman sedikit shock.
" Kenapa Pak? Ada apa?" tanya Vendra.
" Dia Den... Orang itu!!" ucap Darman kembali.
Vendra masih menunggu ucapan selanjutnya Pak darman. Karena Vendra tahu Pak Darman terlihat shock saat melihat orang tersebut.
" Bidan yang membantu melahirkan Aden" ucap Vendra.
Vendra sekarang yang terlihat kaget. Ternyata dia selama ini mencari tak tahu arah dan tujuan bahkan terkesan buntu. Kini sekarang sudah ada di depan matanya.
" Ya Allah.. Ya Rabb... Benarkah Pak?" tanya Vendra meyakinkan kembali apa yang di dengarkannya.
" I.. iya Den.. benar" jawab Pak Darman sembari mengamati wajah wanita itu.
" Tarno.. dapat dimana?" tany Vendra penasaran.
" Embb.. Panjang ceritanya Den" jawab Pak Yusuf.
" Baiklah ceritakan kembali. Saya akan mendengarkannya" pinta Vendra antusias.
" Pak... Apa benar dia bidannya? Bapak yakin kan? Coba tanyakan simbok" pinta Vendra sedikit meyakinkan kembali.
" Benar Den. Waktu itu kami pernah bertemu di pasar. Dan simbok itu bilang bahwa dia melihat bidannya Nyonya. Tapi setelah kita panggil dia malah lari. Kabur seperti orang ketakutan" terang Pak Darman.
__ADS_1
" Baiklah.. Pak Yusuf... bagaimana ceritanya?" tanya Vendra kembali.
" Yang lebih berhak bercerita Tarno saja Den" jawab Pak Yusuf.
" No..." ucap Vendra.
" Embb baiklah ... baiklah.. kalau Guru tidak mau cerita. Aku saja wes yang cerita" ucapnya selengekkan.
" Lagumu No... No.." ucap Pak Darman menimpalinya.
" Heleeeh Pak... Den, aden masih ingat dengan Paman dan Bibi aden?" tanya Tarno serius.
" Masih.. Lalu?" tanya balik Vendra.
" Mereka yang selama ini menjadi dalang hilangnya wanita ini" jawab Tarno.
" Sudah kita duga!!" jawab Pak Darman.
" No, kamu nemu wanita ini dimana? Soalnya aku sudah nyari sampe pelosok - pelosok daerah tidak ketemu" ucap Pak Darman.
" Pak, mereka sangat licik. Mereka memberikan uang banyak kepada wanita ini untuk meninggalkan desa, daerah, bahkan kota ini Pak" jawab Tarno.
" Lantas bagaimana kamu bisa menemukannya?" tanya Vendra penasaran.
" Kami melakukan wirid tujuh hari tujuh malam, meminta hajad kepada Sang Khaliq. Meminta petunjuk dimana wanita ini berada. Karena mungkin dia termasuk saksi dari kasus yang menimpa Aden" terang Tarno.
" Hmmm " jawab Vendra yang menunggu kelanjutan Tarno bercerita.
" Lah kalo Aden ndak percaya sama saya ndak apa - apa Den. Tentang saya nermunajat" ucap Tarno yang sedikit pesimis.
" No, saya percaya kekuatan doa. Karena istri saya orang yang patuh dan taat. Saya tidak meragukan akan hal itu. Lanjutkan!!" jawab Vendra meyakinkan.
" Aden sudah menikah?" tanya Tarno yang tidak percaya.
" Ups !!" Pak Darman mlengos.
" Hmm.. Lanjutkan No !!" seru Vendra.
" Akhirnya saya meminta bantuan Guru tentang petunjuk yang saya dapatkan. Memang tidak mudah Den. ini akan sangat rumit. Tapi saya rasa kita harus meninggalkan tempat ini. Sudah tidak aman. Benarkan Guru?" ucap Tarno yang menoleh kepada Pak Yusuf.
" Ayo... bawa wanita itu No. Jangan lama- lama" teriak Pak Yusuf.
Vendra dan Pak Darman semakin bingung akan tingkah dan kelakuan antara guru dan murid itu. Mereka panik dan menggotong wanita itu yang entah dibawa kemana.
" Ayo cepat jangan bengong !! Buka pintu mobilnya !! " teriak Pak Yusuf kembali.
Seketika Vendra dan Pak Darman segera bergegas dengan cepat. Tak tahu apa yang dimaksudkan mereka berdua.
Vendra dan Pak Darman hanya mengikuti kata hati mereka jika akan ada bahaya yang mengancam.
__ADS_1
" Cepat buka.. nanti saya jelaskan Den!!" teriak Tarno dengan sedikit panik.