
Suara lantunan ayat - ayat suci alquran menggema di setiap sudut ruangan itu. Ruangan dengan ukuran tujuh kali delapan meter yang lumayan sangat mewah. Sang pemilik raga masih setia dalam tidur panjangnya dengan keluhan, desisan bahkan erangan yang menyakitkan. Entah apa yang di rasa dalam tidur panjangnya itu.
Waktu mulai menunjukkan dini hari, sang pemilik cinta masih sentiasa bermunajat kepada sang pencipta raga dan cinta untuk kesembuhannya. Ikhlas dan sabar kini mendominasi hatinya.
" Siapa sayup - sayup yang ku dengar? Suara itu??? Ya... suara itu tidaklah asing bagiku!! Seperti...."
" Aaahhhhss. Apa yang terjadi dengan badanku? Sakit, ini sangat sakit. Kenapa badanku penuh lebam dan luka?"
" Dan... dimana ini? Dunia apa ini?"
Sekejap mata indah yang kini menutup kelopaknya mengingat kembali qpa yang terjadi sebelumnya. Hanya itu yang kini mendominasi pikirannya.
" Astaghfirullahhaladzim"
" Bukankah aku tadi bersama Simbok? Dan kemana Simbok? Aku yakin seperti terjebak di dimensi lain"
" Bismillahhirrahmannrirrahim " mata indah itu menutup kembali seraya berkomat kamit, bermunajat kepada Sang Khaliq. Sang pemilik raga dan jiwanya".
"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim".
"Robbi a’uuzu bika min hamazaatisy-syayaathiin wa a’uuzu bika robbi ay yahdhuruun"
"Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi'uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai'in a'thaitanaa. Allahummaaj 'alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa 'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin 'aniid wa dzi 'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir".
*Terdengar suara samar lantunan ayat suci kembali di pendengarannya. Semakin dia bermunajat dengan bersungguh hati, semakin kentara suara berkumandang.
" Mas.."
" Ya, itu suara mas Vendra. Dia melantunkan ayat suci? "
" Alhamdulillah, entah bagaimana caranya hamba hanya bisa mengucap syukur atas semua ini*"
" Heiii !!!" ucap suara yang memekakkan telinga.
" Aku akan kembali mengusikmu, hingga kau tak dapat kembali !!! Hahahaha"
" Hahaaaa"
Suara yang sama, suara yang memekakkan telinga hingga gendang telinga berdenging dan membuat sakit siapa saja yang mendengarnya.
Tiba - tiba tanah yang dipijaknya bergetar hebat. Tubuh mungilnya tak mampu menopang keseimbangan. Terperosok jauh kini badan mungi si empunya raga.
" *Aaaaaaaarggghhh, Astaghfirullahhaladzim "
__ADS_1
" Ya Allah, kupasrahkan semuanya hanya kepadaMu*"
Mata indah itu kini memejam dan semakin berserah diri kepada Tuhannya.
Braaaaaakkkkkk !!!!!
Entah terpental berapa puluh meter dari tempat yang tadi. Sakit, tentu saja. Badan mungil itu terasa sangat remuk redam.
" Aahhhhhhh" erangnya.
Dua pasang mata tua itu terperanjat dari lelahnya mata. Dan sepasang mata yang selalu dipujanyq juga sudah menatap sumber suara.
" Alhamdulillah" ucap mereka bersamaan.
" Ambilkan minum Mbok" pinta Vendra.
" Ini Den" menglurkqn segelas air putih yang sudah di telatakkan di meja yang sudah terkontqminasi dengan bacaan ayat suci alquran.
" Minumlah " ucap Vendra.
Sura bariton itu kini mendominasi kesadarannya. Dan tak dapat berpikir lama dengan mata sedikit banyak mengerjap tubuh mungil itu menurut. Diminunya air itu.
" Bismillahhirrahmannrirrahim " ucap Aisyah.
" Alhamdulillah " ucap Aisyah lega.
" Alhamdulillah " ucapnya bersamaan.
" Ahhh... maaf" ucap Aisyah.
Setelah sepenuhnya sadar, tubuhnya dalam dekapan seseorang yang diyakini sangat membencinya itu. Mata elang itu kini menyiratkan kebingungan yang dihadapinya. Gadis halalnya menolak untuk disentuh .
" Hmm" jawab Vendra dingin.
Ya, Vendra menyadari akan hal itu. Sikap dinginnya selalu mendominasi. Diam tanpa ada suara, perintah tanpa ada bantahan. Entah kenapa mata itu menyiratkan kebingungan dan kekecewaan yang silih berganti terpampang.
Gadis manis itu hanya menunduk dan kikuk. Di tolehnya kesana kemari seperti orang linglung. Mata indah itu kini menelusuri setiap ruangan. Dijangkaunya hingga tak bersisa.
" Apa yang kamu cari cah ayu?" ucap Mbok Saroh.
Suara wanita tua itu menyadarkan kebingungannya. Dia kemudian mendongak memandangi sumber suara. Bingung bercampur aduk. Sesekali meraba ranjang mewah yang mendominasinya.
" Auratmu sudah tertutup" kalimat dingin sudah meluncur dengan cepat.
__ADS_1
Tangan mungil segera meraba pucuk kepalnya hingga menengok seluruh tubuhnya. Bingung yang menderanya kini menguap entah kemana. Yang ada hanya kelegaan hatinya. Dia tidak mau mengumbar auratnya di depan orang yang bukan mahromnya.
Vendra? Tentu bukan. Mbok Saroh? Dia sesama wanita. Pak Darman? Ya, tentu saja lelaki tua itu. Siapa lagi? Tubuh mungilnya masih berbalut mukena yang tadi dipakainya sebelum terlelap dan kejadian itu menimpanya.
" Alhamdulillah " ucapnya lirih.
" Kejadian? Ah... Kejadian itu?" batin Aisyah.
" Mbok..." ucapnya lirih.
" Ya cah ayu, simbok disini. Ndak perlu takut, kami menjagamu di sini" ucap Mbok Saroh memberi ketengan.
" Bagaimana? Apa yang kamu alami?" tanya Vendra langsung.
Mata elang itu seketika memicing dan mengintimidasinya. Tatapan itu membuat Aisyah sedikit gemetat dan ketakutan. Belum hilang ketergagapannya dengan apa yang menimpanya baru saja.
" Den, sabar. Belum sepenuhnya sadar" Pak Darman mengingatkan.
" Aish.." ucap Vendra lirih.
" Ya Mas" jawab Aisyah dengan menunduk karena ketakutan.
" Kemarilah" ucap Vendra tegas.
Gadis itu takut dan sedikit tergagap dengan penuturan si empunya. Mulut pedasnya masih teringat jelas di telinganya hingga saat ini. Egonnya yang tinggi yang dia bangun sendiripun masih nampak jelas di mata Aisyah. Dan tingkah dingin dan acuhnya masih terasa hingga ke relung kalbunua.
" Mendekatlah" ucap Mbok Saroh meyakinkan dengan anggukan dan senyum tulus di wajah tuanya yang telah menyiratkan garis - garih halus.
Ragu itu pasti, gemetar apa lagi. Hanya bisa memandang mata itu dengan tatapan yang sedikit melunak. Terus memandangi mata itu hingga tidak adanya penolakan atau kemarahan yang berarti.
Diraihnya lengan mungil itu tanpa persetujuan dan aba - aba kemudian di dekapnya dalam kungkungan pelukan kenyamanan. Dibelainya pucuk kepala hingga mengusap halus punggung gadis itu.
" Maaf" ucapan Vendra lirih.
Hanya itu kalimat yang didengar oleh Aisyah. Pelukan yang selama ini dibutuhkannya untuk meneguhkan dan menguatkan hatinya dalam menjalani hidup. Entah rasa apa yang menjalar dan mendominasi hati Aisyah saat itu.
" Mas" ucap Aisyah lirih.
" Sekali lagi" pinta Vendra lembut.
" Maaa...." ucap Aisyah yang belum selesai.
Dikecupnya bibir mungil yang sudah sejak tadi melantunkan nama " Mas" versinya. Dan itu membuat getaran tersendiri dalam hati Vendra. Entah apa rasa itu. Nano - nano? Tentu saja...
__ADS_1