
Aisyah kini masih lemas, rasa sakit disekujur tubuhnya perlahan berkurang. Air doa yang diberikan kepadanya tidak sepenuhnya menghilangkan rasa sakit. Tapi, setidaknya rasa sakit itu sudah mulai berkurang.
" Terimakasih Mas..." ucap Aisyah dengan tersenyum tulus.
Vendra hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman. Tangan besar itu mengusap punggung tangan mungil dalam genggamannya. Diusapnya kepala istrinya dengan penuh kasih.
" Boleh aku meminta sesuatu? " ucap Aisyah.
" He em" jawab Vendra dengan mengamitkan kedua bibirnya.
" Hadehhh ... kenapa begitu?? Seksoy ihhh" batin Aisyah meronta.
" Mass ..." panggil Aisyah.
" Ya??" jawab Vendra dengan melihat netra bulat cantik itu.
" Lapeerrrr...." rengek Aisyah lirih.
" Hihi" Kikik Vendra geli.
" Mbok..." panggil Vendra.
Sementara dua orang paruh baya tersenyum lebar. mendengar keluhan gadis cantiknya. Mbok Saroh paham apa yang dimaksud Adennya. Segera Mbok Saroh turun kebawah mengambil makan serta lauk pauk yang sudah dimasaknya.
" Terang saja laper Cah Ayu!! Dari kemarin belum makan bukan???" ucap Pak Darman.
" Hehe" jawab Aisyah tertawa.
Sementara mata elang yang kini menatap gadis cantik di depan matanya nampak sibuk menelisik apa yang terjadi sebenarnya dengan berbagai pemikirannya sendiri.
" Capek??" tanya Vendra memecah keheningan.
" He em" jawab Aisyah yang masih lemas.
Kruuuuuukkkkkk
Suara melodi yang tak dinyana berada di tengah kesunyian ruangan itu. Memecah keheningan yang ada.
" Hehe... lapar sangat bukan?" tanya Vendra sambil terkikik.
Aisyah hanya tersenyum kikuk.
" Tunggu sebentar ya..." ucap Vendra dengan mengusap punggung tangan mungil istrinya.
Pak Darman masih dengan semua pemikiran di kepalanya. Pertanyaan - pertanyaan yang mulai menuju kekhawatirannya terhadap keselamatan Aisyah.
__ADS_1
" Pak... Duduklah dulu" ucap Aisyah yang paham betul dengan gurat wajah penuh kekhawatiran.
" Haa... Ah... iya Cah Ayu" jawab Pak Darman.
" Makanaann datanggggg" teriak Mbok Saroh semangat.
" Sop daging dan wedang jahe buat gadis cantik yang penuh samangat!!" ucap Mbok Saroh seraya mendekatkan nampan ke pangkuan Aisyah.
" Terimakasih Mbok" ucap Aisyah berbinar.
Tanpa kata Vendra segera meraih nampan itu. Vendra merasa tenaga istrinya belum kembali stabil. Takut belum kuat untuk menyangga nampan yang berisi banyaknya makanan di atasnya.
Aisyah hanya pasrah melihat suaminya melakukan itu. Entah kenapa selisik kebahagiaan muncul di semburat hatinya. Kehangatan itu muncul dan entah kapan rasanya mulai aneh.
" Aaaaa" perintah Vendra.
Ketika Vendra mulai akan menyuapkan sesendok makanan untuknya. Dengan penuh ragu dan dengan hati yang tak menentu di saksikan tiga pasang bola mata Aisyah mulai membuka mulutnya.
Menangkap sesuap nasi itu dan kemudian mengunyahnya perlahan. Walau sebenarnya ingin sekali makan dengan cepat. Karena alasan pertamanya adalah sangat lapar. Dan yang kedua masakan Mbok Saroh memang tiada duanya.
" Bagaimana cah ayu? Enak?" tanya Mbok Saroh memecah ke awkwrd an ini.
" He em. Perfect!" jawab Aisyah dengan berbinar.
" Ok!!" jawab Mbok Saroh denga melingkarkan ibu jari dengan jari telunjuk membentuk huruf 'o'.
Dengan sedikit mengedipkan mata penuh dengan kepuasan dari jawaban Aisyah dan dengan mantap menjawab 'ok', Vendra dapat melihat ekspresi itu.
" Hmmm sudah paham rupanya" ucap Vendra menyindir.
" Wooo laaa tentu saja to Den. Lah wong cah ayu banyak ngajarin Simbok. Ya to Cah Ayu??" ucap Mbok Saroh menyaut cepat.
Aisyah hanya tersenyum dan mengangguk. Karena Aisyah masih sibuk mengunyah makanannya dan menikmati tiap suapan yang diberikan oleh suaminya.
" Ooo begitu? Apa saja yang diajarkan gadis ini Mbok?" tanya Vendra menelisik.
" Banyak lah Den... urusan wanita!!" jawab Mbok Saroh.
" Ooo urusan wanita... Jangan lupa, Mbok juga harus ajarkan bagaimana cara menjadi istriku" ucap Vendra dengan penuh penekanan.
" Halah, ndak diajarin wes pinter sendiri to Den. Aden saja yang aneh sama istrinya!!" jawab Mbok Saroh meledek.
" Aneh??" tanya Vendra mengernyit.
" Lah iyo.. Di luarnya cuek bebek. Ehh ternyata banyak cinta di relung hatinya" ledek Mbok Saroh .
__ADS_1
Pak Darman hanya menjadi pendengar setia saja. Mengomentari dengan anggukan dan membenarkan dalam hati setiap ucapan dan kalimat yang keluar.
Hingga tak terasa obrolan itu mengiringi setiap suap makanan yang masuk kemulut gadis mungil itu. Makanan tandas tak tersisa, kini Aisyah meminum wedang jahe untuk menambah semangatnya.
" Loh Cah Ayu, lah itu buahnya belum dihabiske. Dihabiske, nanti mubazir. Jangan buang - buang makanan. Itu kan ajaran dari Cah Ayu??" ucap Mbok Saroh.
" Habiskan, pelan - pelan saja!" perintah Vendra.
Aisyah mulai mengunyah buah itu pelan dan perlahan.
" Sudah Mas, kenyang. Perutku terasa menggelembung seperti ikan buntal" jawab Aisyah.
Akhirnya Vendra yang menyambar untuk menghabiskan dalam satu 'hap' kunyahan. Entah kenapa kalimat Mbok Saroh ' jangan membuang makanan' membuatnya merasa aneh digelayar hatinya. Selama ini dia sering menyia - nyiakan makanan jika tidak nafsu makan. Entah dikemanakan makanan itu.
Jika dimakan berdua dengan Pak Darman tentu itu sangat berlebih. Hingga bertemu dengan jam makan berikutnya, menunyapun berganti.
Sebelum adanya Aisyah pasti makanan itu berakhir di tempat sampah. Tapi setelah adanya Aisyah tidak nampak makanan itu di tempat sampah. Vendra menatap tajam istrinya penuh dengan selidik.
" Makanan sisa yang selama ini di bungkus cah ayu. Kalau Simbok kepasar yo tak bawa. Sepanjang jalan kalau ada pengemis atau orang yang butuh tak bagikan Den" jawab Mbok Saroh cepat yang mengerti tatapan tajam juragannya.
Seketika mata tajam itu melembut dan berakhir dengan senyuman terukir di bibir lelaki itu. Dengan bangga diusapnya kepala istrinya.
" God job!!" ucap Vendra dengan tersenyum.
" Mbok Sudah!! Tolong ya mbok" ucap Vendra dengan memberikan nampan yang sudah kosong itu.
" Mbok... terimakasih makanan lezat ini. Semoga Allah selalu melindungi dan merahmati Mbok dan keluarga" ucap Aisyah lembut.
" Aamiin" jawab Mbok Saroh mengaminkan setiap doa Aisyah.
Vendra mengernyit kembali dengan ucapan yang keluar dari bibir mungil istrinya. Kalimat ajaib kembali terucap di bibir itu. Gelayar kembali menelusup ke hatinya.
" Wes, ndak perlu dipikirkan to Den. Cah Ayu memang begitu. Setiap dia diberikan apapun. Setiap kebaikan yang dia terima pasti dia membalas dengan doa - doa ajaibny!" ucap Mbok Saroh kembali mematahkan pikiran dan pertanyaan Vendra.
" Hmm" jawab Vendra kembali lega.
Mbok Saroh mengambil nampan dan segera akan turun untuk membersihkan nampan itu. Aisyah yang melihat gerakan itu akan terjadi, segera dia menghentikannya.
" Mbok... duduklah dulu" ucap Aisyah lembut.
Mbok Saroh yang bingung kemudian memandang wajah nan ayu itu. Senyum terbit menghiasi wajah ayu itu disertai dengan anggukan. Seakan kode alami, Mbok Saroh mengiyakan dengan anggukan pula. Mencari tempat duduk ternyaman dan meletakkan nampan dimeja.
" Sudah siap?" tanya Aisyah memcah keheningan.
Semua pasang mata menatap heran dengan pertanyaan Aisyah. Vendra yang paham dengan itu hanya menjawab dengan anggukan lembut.
__ADS_1