
Mata bulat terlihat berbinar. Menandakan keadaan yang sangat baik. Bahkan sampai ke perasaan akan terasa baik. Begitulah sekiranya.
" Masss... Benar... tidak terlalu kasar lidah ini. Dan rasa panas sedikit berkurang. Oke. Recomended banget ini mah. Terimakasih Mas..." ucap Aisyah dengan disertai puppy eyesnya itu.
Ah... jantung aman kan? Itu yang ada di benak Vendra. Bagaimana tidak meleleh jika disuguhi pemandangan seperti itu. Vendra segera menganggukkan kepala dan senyum. Tangan kekarnya terulur mengusap pucuk kepala istrinya.
" Mbok kira kenapa gitu loh cah ayu. Ndak taunya bener - bener deh ah!!! " gerutu Mbok Saroh.
" Hehe.." tawa lebar dari bibir mungil nan merekah itu.
" Assalamualaikum " suara bariton yang tidak asing ditelinga mereka terdengar memenuhi ruangan.
" Waalaikumsalam " jawab mereka semua serentak.
Ya, Pak Darman bersama dokter Haris. Aisyah sedikit teesentak kala melihat dokter itu. Vendra yang menyaksikan riak wajah istrinya menjadi berpikir. Gurat wajah seketika mengeras menutupi wajah tampannya.
" Perkenalkan saya dokter Haris. Kalau tidak salah, ini anak Pak Darman yang pernah bapak ceritakan sebelumnya bukan?" ucap dokter Haris.
" Hmmm... Ya..." jawaban singkat Vendra yang acuh.
Kedua tangan kekar itu kini saling menjabat. Sementara mata bulat itu segera memindai wajah sang suami. Begitu kentaranya kemarah di wajah tampan itu.
Tangan mungil itu terulur menarik ujung kaos Vendra. Dengan sedikit deheman sebagai kode. Vendra yang tahu akan hal itu hanya cuek saja dengan wajah dinginnya.
" Dan... ini....??" ucap dokter Haris mengernyit memandangi wajah Aisyah.
" Bukan muhrim !! Jaga pandangan!!" ucap Vendra ketus.
" Maafkan suami saya dokter. Dia memang suka begitu. Maaf ya dokter sekali lagi. Hehe" ucap Aisyah yang merasa tidak enak hati.
" It's okay Nyo...nya..." jawab dokter Haris tergagap.
" Baiklah dokter. Ini orang yang saya ceritakan. Dan beginilah keadaannya" ucap dokter Haris.
" Maaf Pak Darman, saya akan periksa dulu" ucap dokter Haris kemudian.
Dokter segera memeriksa 'orang' itu. Diam, sepi dan semua mata tertuju kepada apa yang dilakukan sang dokter. Tak begitu lama semua di periksa secara detail.
" Apa perlu alat untuk menunjang kesembuhan dokter?" tanya Pak Darman kemudian.
__ADS_1
" Nanti akan saya bantu Pak. Bapak tidak perlu memikirkan apapun. Dan, Tuan... bolehkah saya memeriksa nyonya? Sepertinya dia juga butuh" ucap dokter Haris.
" Hmm silahkan" jawab Vendra singkat.
Dokter Haris segera menuju ke tempat pembaringan Aisyah. Memeriksa dengan teliti. Ekspresi wajah dokter itu ditangkap langsung oleh Aisyah.
Mengernyit dan berpikir dalam...
" Maaf nyonya, apakah boleh bertanya sesuatu?" tanya dokter Haris yang begitu penasaran.
" Periksa saja, dan lakukan sebagaimana semestinya tugas anda Pak Dokter!!" ucap Vendra sinis.
" Tapi.. maaf Tuan... " ucap dokter Haris menggantung.
" Mas... biarkan saja" ucap Aisyah lembut.
Suara lembut mendayu dan mengalun indah terasa memenuhi penjuru gendang telinga uang mendengarnya. Vendra saja terasa dihipnotis dengan ucapan itu. Apalagi dokter Haris yang baru saja mendengar ucapan Aisyah itu.
" Baiklah" jawab Aisyah.
" Apa yang akan anda tanyakan?" tanya Vendra.
Aisyah segera mengulurkan tangan kepada Vendra. Berharap tangan itu segera diraih oleh suaminya. Tujuannya jelas, agar suaminya tidak begitu kentara marah tidak jelas didepan orang lain serta memberikan kenyamanan yang lebih kepadanya.
Vendra yang dengan reflekpun segera meraih tangan itu. Mengusapnya dengan lembut. Sepasang mata dari lawannya itu segera mengembangkan senyum tulus.
" Tak apa Mas. Jangan halangi seorang dokter bekerja Mas. Pak dokter juga sedang memeriksa pasien dengan cara bertanya tanpa menyinggung perasaan orang lain. Untuk itu beliau meminta ijin kepada keluarga pasien dan lebih utamanya ijin dari pasien itu sendiri. Jadi, mengertilah..." ucap Aisyah yang menerangkan dengan lembut bak sihir itu.
" Hmm baiklah" jawab Vendra lemah.
Sedangkan dua insan paruh baya itu kini tersenyum saja melihat perlakuan nyonya kecilnya yang dengan mudah melumpuhkan adennya itu. Ya mereka tahu bagaimana kemarahan dan akibat yang ditimbulkan oleh Adennya itu. Mereka sangat paham.
" Bisakah kita berbicara berdua saja nyonya atau ditemani dengan tuan?" tanya dokter Haris.
" Tidak perlu. Disini saja. Semuanya bisa mendengarkan dan bahkan boleh saja mengetahui" jawab Vendra tegas.
" Baiklah kalau begitu " jawab dokter dengan mengembuskan nafas kasarnya.
Dokter Haris paham dan hanya tersenyum ringan mendengar penolakan keras dari Vendra. Mungkin hanya cemburu atau memang tipikal pria yang protektif itu yang dipikirkannya.
__ADS_1
" Begini nyonya, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa luka anda tidak hanya sekedar luka kecil?" tanya dokter Haris yang butuh penjelasan.
Pak Darman, Mbok Saroh dan Vendea melihat lecet - lecet kecil yang tidak terlalu banyak di tubuh Aisyah. Dan mengernyit bingung dengan ucapan dokter Haris.
" Apa yang anda lihat dokter?" tanya Aisyah lembut dan tersenyum.
Kedua manik mata itu bertemu, menelisik satu sama lain. Mencari sesuatu yang mereka pikir akan menemukan jawaban dari semua yang mereka pikirkan masing - masing.
" Saya lihat luka nyonya cukup dalam. Butuh sesuatu untuk melakukan terapi ini. Jika dibolehkan saya meminta ijin untuk memberikan terapi dan juga pengobatan itu" ucap dokter Haris.
Mata melotot, rahang mengeras dan tangan kekar yang menggenggam kuat hingha jemari kuku menusuk hingga ke buku jarinya dan menjadi pucat.
" Tenang dulu. Nyonya baru saja melakukan tambal sukmo bukan? " semua orang itu terkejut.
Tapi dua mata bulat itu hanya diam dan tersenyum. Sedangkan mata elang menatapnya dengan tajam. Entah kenapa ada yang aneh dengan dokter ini. Aisyah sudah bisa menduganya.
Tatapan matanya yang tajam dan meyakinkan itu terlihat seperti orang yang penuh dengan keilmuan yang sudah sangat mumpuni. Punya pengalaman lebih banyak dari pada Aisyah yang baru saja mencoba kelebihannya itu.
" Begini, tambal sukmo bisa dilakukan oleh seseorang yang mempunyai ilmu tinggi, entah ilmu qgama dan kanuragan yang mumpuni dan juga ...." ucap dokter Haris menjeda.
" Seorang makhluk halus yang bisa membantu itu!" ucap dokter Haris.
Semua mata tertuju kepada Aisyah. Dan Aisyah hanya tersenyum. Semua ucapan dokter itu memang benar adanya. Dia tidak menampik apapun yang kaluar dari mulut dokter Haris.
" Lalu?" tanya Vendra kemudian.
" Tolong jelaskan jangan menjeda!!" ucap Vendra yang sudah tidak sabar menunggu jawaban apa yang akan dibicarakan dokter Haris.
" Hufffff.... baiklah" ucap dokter Haris dengan menghembuskan nafas.
" Jadi... pilihan mana yang anda pilih nyonya?" tanya dokter Haris.
" Dokter tolong berikan perawatn medis terlebih dulu. Sepertinya saat ini saya sangat butuh itu!" ucap Aisyah yang sepertinya membutuhkan cairan infus.
" Baiklah, saya akan memeberikan itu. San anda juga bisa menjelaskan kepadaku. Embbb... tidak. Kepada kami semua?" ucap dokter Haris.
" Apakah ini negosiasi? Bukankah ini tugas anda sebagai seorang dokter. Hehehe. . . sangat lucu!" jawab Aisyah dengan terkekeh.
Mata elang semakin menajamkan matanya. Sekelebat mata bulat menggulirkan arah pandang dan melihat kilatan itu.
__ADS_1
" Jadi suami Ambekan!!!"