
" Ahh... menyebalkan!! Dari awal bertemu sudah seperti monster yang mengerikan. Dan sekarang makin menyebalkan!!" gerutu Aisyah dalam hatinya.
Dokter Haris segera memeriksa kembali, obat apa yang diperlukan tubuh Aisyah dan juga beberapa vitamin yang akan diberikan untuk tubuh mungil itu.
" Dokter, apakah anda mempunyai seorang guru?" tanya Aisyah tiba- tiba.
" Hmmm" jawab dokter Haris mengernyit dan mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu, sepertinya pesan untuk seseorang.
" Kita pasang infus dulu, sembari menunggu teman - teman saya membawakan peralatan yang dibutuhkan untuk disini.
Dengan cekatan dokter haris memberikan infus yang disuntikkan beberapa obat pereda nyeri dan vitamin. Sedangkan untuk wanita itu sudah diberikan juga sebagaimana mestinya obat untuk wanita itu.
" Baiklah... sudah selesai. Jadi apa yang akan anda bicarakan nyonya?" tanya dokter Haris.
Ketiga pasang orang di sana hanya menjadi pendengar setia. Sebab mereka awam dengan apa yang sedang dokter dan Aisyah bicarakan.
" Kenapa anda menanyakan guru? Apakah anda butuh?" tanya dokter Haris.
" Lebih tepatnya seorang guru dan kyai yang sudah tahu dengan sangat baik dan mumpuni" jawab Aisyah.
Vendra mulai menyimak. Istrinya mempunya teka teki kehidupan sendiri. Yang bahkan dia tidak tahu mengenai hal ini.
" Tentang pertanyaan saya tadi belum di jawab nyonya. Dari tiga yang saya sebutkan anda menggunakan pilihan yang mana?" tanya dokyer Haris kembali.
" Last" jawab Aisyah santai.
" Why nyonya?" tanya dokter Haris yang membutuhkan jawaban.
" Karena mereka datang dan menawarkan diri membantuku" ucap Aisyah.
Ketika dokter Haris akan mengucapkan kata, Aisyah sudah memenggalnya dengan...
" Karena hanya saat itu bantuan yang ada dan yang mampu !!" jawab Aisyah tajam.
" Baiklah. Kafir atau... muslim?" tanya dokter Haris.
Semua orang yang menjadi pendengar hanya diam dan menyimak semua pembicaraan yang terjadi. Hanya dapat menggulirkan bola mata mereka ke arah suara yang terdengar.
" kafir!!" jawab Aisyah datar.
" Kafir??" ucap para pendengar.
" Huffttzz... bantu mereka kembali ke jalan Allah, supaya ilmu mereka bermanfaat dengan sempurna!!" ucap dokter Haris.
__ADS_1
" Jika kamu memilih pilihan pertama atau kedua atau bahkan keduanya tambal nyawa akan tertutup dengan sempurna. Mungkin yang terjadi secara fisik hanya lemas dan kehabisan beberapa ion di tubuh saja" terang dokter Haris.
" Otodidak atau turunan?" tanya dokter Haris kemudian.
" Bagaimana menurut dokter?" tanya Aisyah.
" Turunan... Dan jika anda tidak bisa mengendalikan. Maka anda sendiri yang akan dikendalikan!" ucap dokter Haris.
Aisyah hanya mengangguk dan membenarkan ucapan dokter Haris.
" Untuk itu saya butuh guru" ucap Aisyah kemudian.
" Ijinlah kepada suami anda dulu. Nanti saya akan bantu anda" ucap dokter Haris.
" Hmmm" jawab Aisyah singkat.
" Nyonya, luka anda tidak tertutup sempurna. Masih banyak yang bolong sana sini. Ibarat kata, jika nyonya tahu dinding dari anyaman bambu yang terkena sinar matahari. Nah... seperti itu luka anda. Karena tambal sukmo yang anda lakukan ini belum sempurna" Terang dokter Haris.
" Lantas?" tanya Vendra.
" InsyaAllah saya akan berusaha Tuan" ucap dokter Haris.
" Dokter panggil saya Aisyah dan suami saya Vendra saja. Bukan begitu Mas? Kan dokter Haris sepertinya... usianya... lebih tua dari kita" ucap Aisyah hati - hati.
" Hahaha " ledakan tawa Vendra menggema.
Dokter Haris sedikit jengkel dengan kelakuan dua manusia itu. Yang perempuan mengejek dengan kalimatnya yang lelaki dengan tawanya. Lengkap sudah deritanya.
" Den... ehh Maksud saya... Mas, jangan begitu. Dokter Haris tidak tua, namun beliau sudah matang. Begitu lebih tepatnya" ucap Pak Darman menambahi.
" Hiisss Bapak itu. Bapak sama anak kok ya hobi banget sih ngejek saya. Begini - begini juga pernah laku loh" ucap dokter Haris bangga.
" Pernah?" tanya Vendra.
" Iya Pernah" jawab dokter Haris sembari membuka ponselnya.
" Sekarang..... Masih?" tanya Vendra kembali.
" No !!" jawab dokter Haris jengkel.
" Hahahaha" kembali tawa Vendra meledak.
" Masss" Aisyah memperingatkan tawa Vendra yang menggema.
__ADS_1
" Ouuhhh... maaf. Perutku sakit sekali karena tertawa. Akhirnya...." ucap Vendra yang memelankan tawanya dan mengusap ujung matanya yang berair karena tertawa berlebihannya.
" Iyaaa saya memang sudah mateng!! Puass???" ucap dokter Haris sewot.
Setelah terdengar bunyi ponselnya segera dokter Haris melesat pergi keluar. Pak Darman segera membuntuti dokter Haris. Seperti reflek terhadap sesuatu yang selama ini terjadi dalam hidupnya. Siap siaga menghadapi apapun.
Setelah sampai di depan dokter Haris berhenti. Pak Darman yang dengan sigap menyusul menabrak punggung kekar itu.
bruukkk
" Maaf Pak. Begini saya reflek keluar cepat. Belum meminta ijin kepada Bapak atau anak Bapak. Ini teman saya ada di halaman luar depan sana. Membawa beberapa alat medis yang kita butuhkan. Bagaimana Pak?" tanya dokter Haris.
" Mari dokter. Untuk itu saya ada alasan mengikuti langkah anda keluar bukan?" jawab Pak Darman.
" Baiklah. Mari Pak!! " jawab dokter Haris dengan mengembangkan senyum merekah.
Mereka segera bergegas ke depan ujung jalan. Jalanan masuk yang tidak dijangkau banyak orang. Karena rumah itu memang dari luar seperti rumah biasa. Bisa dibilang rumah dengan berdinding kayu dan sudah sangat tua.
Awalnya dokter Haris pun mengira demikian. Ditambah dengan tampilan fisik Pak Darman yang dihiasi sedikit cacat di area wajahnya. Pak Darman juga tidak pernah memakai pakaian yang mahal ataupun mencolok.
Hanya pakaian biasa, kaos celana kulot dan pasti mengalungkam saruh di bahunya. Biasanya juga memakai penutup kepala seperti kupluk buluk atau peci yang sudah mulai memudar warnanya.
Karena akan hal itu dokter Haris merasa iba dan tanpa berpikir bahagaimana keadaan rumah ataupun biaya dia kesampingkan. Ternyata rumah itu tertata dan terawat dengan sangat baik di dalamnya.
Dan, Pak Darman juga membayar dengan tanpa mengiba meminta keringanan. Dokter Haris mulai tertarik dengan Pak Darman. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar. Dan dokter Haris terus memendamnya selama Pak Darman belum menceritakan apapun.
" Disana dokter?" tanya Pak Darman.
" Ya Pak. Sengaja. Saya takut ada yang tidak berkenan mengetahui sesuatu" ucap dokter Haris.
Pak Darman hanya tersenyum dan mengangguk. Dan tibalah mereka di depan mobil boks yang sudah membawa banyak sekali alat medis yang dibutuhkan.
" Letakkan semua disini. Kami akan mengangkatnya" ucap dokter Haris.
Melihat wajah Pak Darman yang mengerikan dengan luka cacat di wajahnya membuat orang suruhan dokter Haris ketakutan. Tatapan tajam Pak Darman menunjukkan keangkeran. Seperti suasana sekitarnya saat ini.
" Iii... yaa ... " jawab mereka gugup.
" Jangan takut, dia ayah dari pasienku. Beliau orang baik!" hanya itu yang dikatakan dokter Haris.
Tatapan kedua orang suruhannya mewakili wajah takutnya melihat Pak Darman.
" Iya tuan.. saya memang begini!" ucap Pak Darman singkat.
__ADS_1
" Kami bantu bos??" tawar anak buah satu.