
Blushhhh
Rona merah menghiasi wajah tampan itu. Kini hanya kikuk yang mendera di mimiknya. Dialihkan pandangannya ke arah lain hanya untuk mengelabui sepasang mata yang kini sedang menikmati wajahnya.
Malu???
Tentu saja sangat. Hal itu membuat Vendra semakin salah tingkah.
" Ehmmm" Vendra menetralkan suaranya.
Untuk menghilangkan rasa malunya berdehem ria bukanlah hal yang memalukan bukan? Vendra segera meraih sendok dan memasukkan makanannya dengan segera.
" Cepat habiskan!!" pinta Vendra singkat.
Aisyah hanya tersenyum melihat suaminya merasa malu. Dia senang menggoda suaminya yang bisa berekspresi tidak seperti biasanya.
Tok
Tok
Tok
" Den" sapa orang dari luar.
Vendra segera beranjak dari duduknya dan segera membukakan pintu.
" Ya Mbok.. ada apa?" tanya Vendra.
" Ini Den, jangan lupa diminum" ucap Mbok Saroh dengan memberikan sebuah kantong plastik.
" Ya.. makasih Mbok" ucap Vendra.
" Ya sudah Den. Selamat beristirahat Selamat malam" pamit Mbok Saroh.
" Ya" jawab Vendra singkat dan segerz menutup pintunya.
Vendra segera menyimpan kantong plastik itu. Dia tidak mau istrinya mengetahui apa isi kantong plastik itu.
Aisyah yang melihat suaminya seperti sedang menyimpan sesuatu di tangannya. Genggaman tangannya sekarang menjadi penuh. Jika menggenggam biasa saja tidak akan sepenuh itu.
" Apa yang Mas Vendra sembunyikan dariku? Kenapa dia terburu - buru menyimpannya? Apakah aku lancang jika menanyakan hal itu? Ahh.. tidak... tidak. Aku tidak mau mengusik privasinya. Walaupun kita sudah menikah" batin Aisyah.
" Sudah.. habiskan makan malamnya. Kamu sangat kurus!!" ucap Vendra kemudian.
__ADS_1
Aisyah hanya diam tidak menjawab dan terus menghabiskan makanannya. Dia segera membereskan semuanya setelah selesai makan.
" Mas... apakah ada mukena? Aku mau sholat" ucap Aisyah.
" Aish..." ucapnya menajam.
" Aku akan ke kamar Mbok Saroh. Dimana kamarnya??" tanya Aisyah tanpa memperdulikan suaminya itu.
Aisyah sudah tahu, suaminya menjauh dari sang khaliq entah karena apa. Aisyah sangat kecewa dengan suaminya yang begitu sempit dalam berpikir.
" Pergilah!!" ucap Vendra ketus.
Aisyah segera keluar tanpa berpamitan kepada Vendra. Di keluar akan mencari kamar Mbok Saroh. Tapi dia lupa jika dia tidak mengetahui dimana kamarnya.
Ketika berjalan keluar dia berpapasan dengan OB yang masih bekerja. Kemudiam dia mendekatinya dan bertanya keberadaan musholla di hotel ini.
Dan dengan baik hati sang OB menunjukkan dimana mushollanya. Aisyah merasa lega, setidaknya dia tidak melalaikan ibadahnya. Dan ternyata dia melalaikan suaminya.
" Ah... biarlah. Entah apa yang kamu rasakan hingga kamu seberani itu membenci Tuhanmu Mas. Sedangkan kamu mesih diberikan nikmat kehidupan. Bahkan masih bisa bernafas dengan gratis" batin Aisyah menggerutu.
Aisyah segera menjalankan ibadahnya. Diapun segera kembali ke kamarnya. Vendra yang masih duduk di tepian ranjang sembari membuka ponselnya menunggu sang istri kembali.
" Assalamualaikum " ucap Aisyah ketika akan masuk kamarnya.
Vendra tidak menjawab salam dari Aisyah. Itu sudah menjadi kebiasaannya. Tapi, lain halnya dengan Vendra sendiri. Hatinya terasa sakit ketika ingin menjawab salan itu.
Aisyah hanya diam tidak berkata sepatah katapun. Dia berlalu mendekat ke ranjang. Bukan mendekati suaminya dan tidur disampingnya.
Diraihnya bantal di ranjang itu dan dibawanya kedalam pelukan. Kakinya menjangkau dengan lenggang ke arah sofa yang lumayan cukup besar untuk ukuran tubub mungilnya.
Ditatanya bantal itu dengan sangat baik. Agar nyaman digunakan sebagai bantalan untuk kepalanya.
" Alhamdulillah nikmatMu hari ini... Bismillahhirrahmannrirrahim...Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut” doa Aisyah akan tidur.
Aisyah segera merebahkan diri dengan nyaman. Sedangkan Vendra hanya meniti dan mengamati kegiatan istrinya didepan matanya.
" Kenapa dia tidur disitu? Apakah jijik berada di sampingku? Atau..." gumamnya dalam hati menggantung.
" Hei..." tegur Vendra.
" Aish..." panggilnya sedikit keras.
Aisyah tak bergeming mendengar panggilan suaminya. Dia tetap memejamkan matanya. Mengindahkan panggilan suaminya itu.
__ADS_1
" Kamu pindah ke sini atau aku yang memaksamu dan menggendongmu ke sini?" perintah Vendra.
Diam...
Masih tidak ada jawaban. Hening... dan hening..
" Satu.... dua....." Vendra menghitung.
Diam....
Hening...
" Jangan pura - pura tidur!! Jika masih mengindahkan perintahku, akan ku panggilkan lelaki lain yang akan menidurimu !!" ucap Vendra yang sudah mulai jengkel.
Tanpa menjawab, Aisyah segera bangun dan berdesih sebal dengan suaminya. Aisyah segera merebahkan badannya di ranjang dan segera memunggungi suaminya.
Aisyah segera memejamkan matanya. Berusaha memejamkan mata tetapi tidak bisa. Sedangkan Vendra terlihat sudah menguap beberapa kali. Ponselnya segera di letakkan ke nakas.
Dia kemudian membenarkan selimut dan segera terlelap tidur. Tak dihiraukannya istri yang tengah gelisah tak dapat terpejam matanya.
Aisyah berpindah posisi, Vendra merasa ada pergerakan dari ranjang itu hanya diam saja. Tetapi, ranjang kembali bergerak tidak hanya sekali dua kali bahkan berkali - kali.
Vendra tahu, istrinya merasa gelisah ataupun tidak nyaman. Vendra berusaha diam dan tidak mau merespon. Seketika terdengar decakan dari suara wanita.
" Ck... Astagfirullah... kenapa dengan mataku !!" gerutu Aisyah lirih.
Takut membangunkan suaminya yang sepertinya sudah terlelap. Aisyah hanya mengeluh sedikit agar tak di dengarkan oleh suaminya.
" Mas Vendra sudah tidur pulas rupanya" ucapnya kemudian.
Aisyah segera beranjak dari ranjang dan segera mengambil wudhlu. Setelah dia mengambil wudlu, direbahkan badannya dan melantunkan surat - surat pendek agar tidurnya nyaman dan segera terlelap.
Vendra hanya memejamkan mata dan dia bahkan menahan kantuknya untuk mendengarkan omelan dan gerutuan istrinya.
Aisyah memulai dengan surat al - ikhlas. Dilantunkannya pelan dengan bacaan tajwid yang benar. Suara itu bertalu - talu. Tidak keras, namun jika dalam keadaan senyap akan sangat jelas terdengar.
Tak lama Aisyah sudah menguap, sedangkan Vendra yang mendengar itu merasa nyaman, tenang dan damai. Ada rasa yang sudah lama hilang kini hadir dan menghangat di setiap relung hatinya.
Diresapinya bacaan itu dan dia teringat kala dia berada di pesantren. Ya, dulu Vendra sempat di pesantren. Karena memang Vendra dibesarkan oleh Mbok Saroh dan Pak Darman yang notabennya adalah orang desa terpencil.
Dan di sana hanya ada sebuah pesantren untuk anak menimba ilmu. Dan agar Vendea tetap mendapatkan pendidikan maka Mbok Saroh memasukkannya ke pesantren. Lumayan lama, dan dia berbekal cukup ilmu agama.
Namun, karena adanya masalah yang dirasanya tidak adil kepadanya. Dia sangat jauh dari Tuhannya. Bahkan dia sangat benci jika ada orang di sekelilingnya memuja Tuhan semesta Alam.
__ADS_1
Sebegitu kecewanya kepada Sang Khaliq hingga menutup segala telinga dan matanya. Kini Vendr merasa malu. Sangat malu, wanita yang kini mrnjadi istrinya bahkan sangat banyak bebannya. Tetapi dia selalu bertawadu'.
Vendra akhirnya terlelap dalam mimpinya. Didalam mimpinya dia bertemu dengan seorang wanita. Tidak terlalu jelas wajahnya, tapi seperti orang luar negri. Noni, ya noni yang seperti mirip dengan ibunya.