
" Mas... " ucap gadis cantik bermata bulat.
" Ehmm" jawab singkat Vendra.
" Hmm" jawab Aisyah singkat.
" Istirahatlah, Mas yang akan berganti berjaga kembali. Istirahatlah dengan tenang" ucap Vendra.
" Iya" jawab Aisyah singkat.
Tanpa melepas mukena yang menempel di tubuhnya. Aisyah segera duduk di ranjang besar itu san bersandar di kepala ranjang.
" Bisakah kita diskusi?" ucap Aisyah yang kini sudah mendapatkan ketenangan hati.
" Hm" jawab Vendra singkat.
Vendra segera mensejajarkan badannya di ranjang. Tapi Aisyah menolak. Dia menginginkan suaminya berada di sampingnya naik ke atas ranjang. Tanpa ada bantahan Vendra segera melakukan permintaan sang istri.
" Mas, sebenarnya apa yang terjadi? Bolehkah aku tahu?" tanya Aisyah lembut.
" Hmm.. semua berawal sudah sangat lama. Masalah ini sudah mengakar kuat dari jaman dulu. Bahkan Mas juga tidak tahu mulai dari mana" terang Vendra.
" Mas bisa ceritakan garis merahnya saja. Nanti jika aku belum paham dan belum mengerti, bisakah aku bertanya kembali?" tanya Aisyah.
" Apa yang ada di pikiranmu, akan Mas jawab!" jawab Vendra yang sudah mulai lelah.
" Baiklah, jika itu membuat beban untuk Mas. Aku tidak akan bertanya. Istirahatlah. Aku akan berdzikir sembari menunggu subuh" ucap Aisyah.
Vendra hanya diam dan menatap nyalang ke arah jendela kamar itu. Tak dapat mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi. Dia tidak mampu untuk membuka tabir hidupnya. Takut.
Ya, dia takut jika gadisnya akan pergi menjauhinya jika memang benar adanya dalam kenyataan hidup yang dia jalani. Bukan karena tidak siap, bahkan lebih dari siap. Hanya takut akan sakitnya rasa ditinggalkan orang yang di sayangnya.
Sayang? Ah... entah rasa apa yang sedang bersemayam dalam lubuk hati lelaki itu. Hanya takut kehilangan, mendapatkan kekecewaan dan tentunya rasa yang kini terisi akan hilang.
Sampai kapan akan disimpan bara dalam sekam itu? Jika bara itu akan menghanguskan sekam dalam waktu yang tidak dapat di prediksi. Vendra hanya dapat menghembuskan nafas kasarnya. Diam, bukan salah satu solusinya.
Betapa sakitnya rasa itu jika terjadi. Tapi setiap masalah pasti ada solusinya. Mungkinkah solusinya ada di gadis pujaannya itu?
__ADS_1
" Setiap masalah akan ada solusinya, Mas. Jangan pernah menghindar dari masalah. Tapi hadapi kenyataan yang ada. Jangan pernah takut. Allah bersama kita" celetuk gadis bermata bulat Aisyah.
Kepala lelaki itu seketika menoleh ke sumber suara. Baru saja apa yang ada di pikirannya terjadi. Apakah ini de javu ataukah gadis itu cenayang?
Mata Vendra membelalak akan mengatakan sesuatu.
" Aku bukan cenayang yang tahu apapun " ucap Aisyah tanpa melihat suaminya.
Seketika mengatuplah bibir itu dengan rapat. Benar diluar dugaannya.
" Benar - benar cenayang!! Apa yang aku pikirkan bisa dibacanya juga. Sungguh aneh!! Ataukah hanya kebetulan saja?" batin Vendra.
" Jangan dipikirkan, jika memang benar apa yang aku katakan. Jangan pernah membatinku atau apapun yang ada dalam diriku ini. Kuatnya ikatan akan lebih kuat lagi jika dipupuk kepercayaan" ucap Aisyah kembali.
" Hehe" kekehan kecil Vendra.
Tak lama suara tawa terbahak - bahak keluar dari mulut lelaki itu. Diiringi mata kedua sejoli yang sudah lebih dari setengah abad membuka mata.
Masih dalam keadaan bingung. Dua orang itu hanya masih mengerjap dan mengucek kedua matanya sembari menajamkan telinganya masing - masing.
" Jangan menatapku seperti itu !!" sentak Vendra menyudahi tawanya.
" Aneh !!" celetuk Aisyah lirih.
" Aneh??? " ucap Vendra dengan kilatan matanya.
" Ya" jawab Aisyah menunduk karena takut.
" Kenapa? Apakah aneh?" tanya Vendra kepada Pak Darman dan Mbok Saroh.
" Lohhhh??? Ya iya, Aden ndak pernah tertawa begitu kok !!" ucap Pak Darman.
" Benarkah??" tanya Vendra kembali.
" Alhamdulillah. Seperti itu yang kami rindukan" ucap Mbok Saroh menimpali.
" Apakah selama itu Mbok?" tanya Vendra mengerut.
__ADS_1
" Tentu saja, Cah bagus" jawab Mbok Saroh lembut.
" Apa yang membuat jadi begitu? " tanya Mbok Saroh penasaran.
" Dia" jawab Vendra dengan menunjuk dengan dagunya.
Aisyah hanya mengernyit tidak paham. Apa maksud suaminya itu sehingga dia yang tidak paham akan apapun menjadi tumpuhan kesalahan. Ataukah yang dia katakan menjadi sebuah lelucon untuk suaminya itu.
" Aku? Kenapa aku Mas? Apakah ada kesalahan atau perkataanku hanyalah lelucon untukmu?" tanya Aisyah yang semakin tidak paham akan jalan pikoran suaminya.
" Kamu !!" tunjuk Vendra dengan menatap mata bulat istrinya.
" Kamu yang mengembalikan senyum di bibir ini. Kamu !! Kamu yang mampu memporak - porandakan duniaku. Kamu !! Kamu yang mampu menghuni hatiku yang beku " ucap Vendra lantang.
Mbok Saroh dan Pak Darman terperangah kaget. Mbok Saroh langsung menghampiri suaminya dan hanya saling menatap. Melihat situasi di depan matanya.
Sementara Aisyah hanya diam menatap keanehan yang terjadi di depan matanya. Suaminya yang mengatakan ketegasan itu tetapi dengan sorot mata yang lembut penuh dengan puja.
Mata yang menentramkan namun mampu menghunus sampai relung hatinya. Mengoyakkan jiwa raga yang kini sudah terpatahkan dengan satu tarikan nafas kalimat itu terucap langsung dari bibir lelaki yang ada di hadapnnya.
Yakin. Itu yang kini ada di hati Aisyah. Allah tidak akan menguji hambanya melebihi dari kemampuannya pula. Dan ini mungkin jawaban semua itu. Saat hanya bisa sabar dengan perlakuan dingin sang suami. Kini secara langsung dia mendengar ungkapan hati suaminya itu.
" Ya kamu !! Alasan kenapa aku bertahan dan berubah. Alasan kenapa tawa ini terlepas. Alasan banyak kata keluar dari bibir ini yang terbiasa kelu" ucap Vendra yang membuyarkan pikiran Aisyah.
" Karena mungkin aku mencintaimu !!" ucap Vendra lirih.
Dua orang tua yang menyaksikan kejadian itu. Hanya saling pandang dan kembali menyaksikan. Hanya pegangan tangan saling menguatkan. Membenarkan apa yang selama ini dirasa dan dipikirkan mereka berdua.
" Mas..." ucap Aisyah lirih.
Vendra hanya diam dan melihat kedalam mata bulat itu. Mencari keberadaan dirinya dimata itu. Dengan nyata sirat bahagia ada di mata bulat itu. Hatinya kian terselimuti kebahagiaan yang entah berapa jumlahnya.
Membuka rentangan tangan dengan lebar, memanti gadisnya dalam pelukan. Untuk hanya sekedar merasakan nyaman dan helaan batu yang sudah runtuh karena ungkapan.
Segera gadis itu masuk dalam pelukan. Mencari kenyamanan dan perlindungan yang mrmang benar adanya dari setiap ucapan. Aisyah yang kini dalam pelukan merasakan kebahagiaan yang kian terpancar.
" Mas, entah apa rasa ini kepadamu. Aku hanya merasa khawatir saat Mas pergi. Takut saat Mas marah. Dan sedih saat Mas mengatakan sesuatu dengan ketus. Dan kini aku yakin, itu bukan rasa biasa yang merayap dihati ini. Bukan pula rasa kasihan yang menggelayuti. Entah dari mana rasa itu hadir. Tapi... siramilah selalu rasa itu dengan keyakinan" ucap Aisyah yang masih dalam pelukan.
__ADS_1