Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
37.


__ADS_3

" Jangan pernah jauh dari TuhanMu, sesungguhnya kamu adalah orang yang jauh dari kata benar. Dan Allah tempat meminta dan mengaduh untuk setiap hambaNya. Jangan pernah menyerah karena rasa kecewa yang diciptakan oleh sebongkah hati. Hanya Dia yang mampu membolak balikkan hati" pesan wanita itu.


Seketika...


Srrrreettttt


" Ah... Ah..." Vendra bangun terengah - engah.


Aisyah pun tak kalah kagetnya ketika ada orang berteriak. Aisyah segera bangun dan dilihatlah suaminya yang masih diam dan terengah - engah.


Wajah tampannya kini pucat dan dipenuhi buliran keringat sebesar biji jagung. Aisyah beranjak dan segera meraih air minum.


" Minum dulu mas" ucap Aisyah.


Vendra segera meraih gelas berisi air putih itu dan meminumnya hingga tandas tak tersisa. Kini Aisyah melihat suaminya dengan wajah penuh dengen kecemasan.


" Istighfar mas" ucap Aisyah lembut.


Dengan cepat Vendra menatap tajam Aisyah. Da Aisyah kembali tertunduk lemah. Tatapan itu seperti peringatan untuk Aisyaj agar tidak lancang dalam berucap.


" As... As..." ucap Vendra yang lidahnya kelu seperti dikunci.


" Astaghfirullahhaladzim " ucap Aisyah membantu.


" As.. As tagh..."


" Aaaargggghhh... lidah ini kenapa menjadi kaku!!! Bren***k!!!" umpatnya.


" Astaghfirullahhaladzim..." ucap Aisyah tak bosan.


" Pelan - pelan saja mas. Tidak perlu dipaksakan sekali tarikan nafas. Pelan - pelan. Aku bantu" ucap Aisyah lembut.


Vendra kemudian mencobanya tanpa berhenti dan..


" Astaghfirullahhaladzim " ucao Vendra lancar.


" Alhamdulillah " jawab Aisyah.


Tidak ada umpatan, hanya ada lelehan air yang keluar dari pancaram mata tajam yang kini menjadi sendu. Ya, setelah akhirnya bisa mengucapkan Istighfar dia merasa hatinya menjadi hangat. Yang tadinya dadanya selalu sakit kini berangsur membaik.


" Aish..." ucapnya lembut.


Mata tajam itu berubah menjadi sendu dan penuh dengan kesedihan. Dengan reflek Aisyah segera meraih tangan suaminya. Diusapnya penuh dengan kelembutan.


" Sudah... Mas.. tidak apa. Mas sudah berusaha. Alhamdulillah. Bagaimana perasaan mas sekarang?" ucap Aisyah.


" Ba.. baik..." jawab Vendra yang menjadi gugup.


Entah kenapa ada sesuatu yang menjalar hingga relung hatinya. Perasaan hangat yang ingin selalu dia punya. Perasaan nyaman yang ada di hatinya. Seumur hidupnya perasaan jni yang selalu diimpikannya.


" Aish, apakah Allah akan memaafkan aku? Aku orang yang sudah berlumuran banyak dosa. Apakah, Allah akan menerima manusia hina sepertiku?" tanya Vendra.

__ADS_1


" InsyaAllah, yang terpenting di sini" ucap Aisyah dengan menunjuk dada suaminya.


" Niat, dan benar - benar meminta ampunan. Taubatan nasuha mas" ucapnya kemudian.


" Bantu aku Aish..." pintanya memelas.


" InsyaAllah" jawab Aisyah.


" Ya sudah, sekarang mas tidur. Masih malam. Aku juga akan kembali tertidur" ucap Aisyah lembut.


" Kemarilah!!" pinta Vendra.


" Kem.. kemari?" tanya Aisyah.


" Sini.." ucap Vendra dengan menepuk bahunya.


" Tidak perlu ragu, kita sudah halal bukan?" ucap Vendra menegaskan.


Perlahan Aisyah mendekat, dengan perasaan yang campur aduk dan dengan hati yang berdebar kencang tak karuan ditahannya sekuat tenaga. Perlahan dan sangat pelan, karena ragu.


Vendra yang tidak sabar melihat pergerakan istrinya langsung direngkuhnya dalam dekapan.


" Jangan pernah pergi dari sisiku. Jangan pernah berpaling dariku" ucap Vendra dengan lembut.


Di kecupnya kening Aisyah dengan penuh kelembutan. Sedangkan Aisyah sangat kaget dengan perlakuan Vendra yang begitu lembut. Membuat jantungnya tidak dalam keadaan yang baik.


" Ya Allah.. penyakit apa ini? Jantungku seolah akan terlepas. Haiiissss... bodohnya aku!!" gerutunya dalam hati.


Vendra segera melonggarkan pelukannya. Membiarkan istrinya sedikit bernafas lega. Dan sepertinya benar adanya.


" Mas.. sudah.. tidur" ucap Aisyah sedikit gugup.


Vendra kemudian berbaring dengan posisi ternyamannya.


" Kemarilah, aku ingin kamu berada di pelukanku" perintah Vendra.


" Mas.." ucap Aisyah.


" Kemarilah..." pinta Vendra kembali.


Aisyah segera membaringkan badannya dalam dekapan suaminya. Kini mereka tidur dalam keadan saling berpelukan satu sama lain.


Nyaman? tentu saja, dengkuran halus yang keluar dari masing - masing hembusan nafas kedua insan itu menandakan bagaimana keadaan yang sebenarnya.


Keesokan paginya, kumandang adzan subuh telah menggema. Aisyah segera terbangun. Kemudian dia masuk ke kamar mandi untuk mandi dan membersihkan diri serta wudhlu.


Dia harus segera menuju mushalla hotel. Karena dia tidak ada mukena untuk melaksanakan kewajibannya. Aisyah juga tidak memaksakan suaminya untuk sholat.


Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Vendra segera bangun dari tidurnya. Didudukkannya tubuhnya yang entah kenapa sangat segar, tidak seperti hari biasanya.


Perasaan nyaman dan tenang kini dirasakannya. Tiba - tiba terdengar suara pintu terbuka. Vendra segera mengedarkan matanya ke sumber suara.

__ADS_1


" Mas... aku akan ke mushalla" ucap Aisyah.


Ucapan sederhana yang berarti dia berpamitan, atau mengajak ikut serta dan memberitahunya akan menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.


" Tidak perlu!!" jawab Vendra dingin.


Sebenarnya dia merasa malu dengan istrinya. Semalam dia membutuhkan belaian dari seorang wanita. Wanita itu adalah istrinya sendiri.


" Duduklah !!" perintah Vendra.


" Tap..." Aisyah akan menjawab.


" Ini perintah!! Jangan membantah!!" ucap Vendra.


Vendra segera meraih ponselnya, mengotak atik ponselnya dan terdengar suara ponsel seperti jawaban pesan.


Vendra berlalu begitu saja, sedangkan Aisyah mulai panik akan waktu subuh berjamaah di mushalla usai.


Ketika Vendra sudah beranjak dari tempat tidur dan akan masuk ke kamar mandi. Aisyah akan bergegas ke mushalla dengan tanpa ijin suaminya.


klik


Terdengar pintu terkunci otomatis. Aisyah yang akan membuka pintu merasa heran.


" Terkunci!!" ucap Aisyah.


Aisyah kemudian mendekat ke arah pintu kamar mandi.


" Mas..." panggil Aisyah dengan mengetuk pintu.


" Mas.. aku akan berjamaah di mushalla. Keburu habis waktunya mas. Tolong jangan bermain - main" teriak Aisyah.


Terdengar gemericik air yang sangat deras, sehingga dari dalam tidak mendengar teriakan Aisyah. Tapi Vendra sudah tahu, istrinya akan mengomelinya sepanjang waktu.


Setelah dirasa cukup, Vendra memakai bathrobenya dan berlalu. Dia kemudian membuka lemari kecil di ujung kamar. Digantinya bathrobe dengan koko dan sarungnya.


Kemudian masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Aisyah yang dari tadi sudah mendongkol sempurna. Kini hanya dibuat melongo oleh tindakan suaminya.


" Gelar sajadahnya" perintah Vendra sebelum masuk kamar mandi.


Aisyah hanya terpaku, dan sekerjap merasa takjub.


" Ya Allah Engkaulah Tuhan semesta alam. Yang dapat dengan mudah membolak balikkan hati seseorang. Alhamdulillah Ya Allah" ucap Aisyah senang didalam hati.


Perasaan senang, dan hangat kini mrnjalsr di seluruh rongga hatinya. Ucapan syukurnya tak henti diucapkan. Aisyah tersenyum senang akan perubahan suaminya.


Di gelarlah sajadah yang membentang. Dengan satu sajadah berada di depan. Dan itu tandanya imam akan ada di antara sholat itu.


Vendra keluar dengan memakai stelan koko lengan panjang, peci yang menutupi kepalanya dan sarung yang sangat serasi dengan warna kokonya.


Vendra kemudian tersenyum dan berucap lirih.

__ADS_1


" Bismillahhirrahmannrirrahim "


__ADS_2