
Dipejamkan mata indah itu dan segera kembali ke alam mimpinya. Dua pasang mata yang melihatnya dia abaikan. Seolah dialah pemilik kamar ini.
" Ishhh benar - benar !!" umpat Vendra dengan jengkelnya.
Sedangkan yang diumpat sudah sampai ke dalam mimpi indah. Kini tidurnya sangat tenang dan nyaman. Setelah melakukan sholat sunat malam. Hati Aisyah sedikit tenang. Seperti mendapatkan perlindungan yang nyata.
Vendra yang masih belum bisa terpejam segera bangun dan berjalan. Melihat selimut yang dikenakan Aisyah jatuh, dia segera memungut dan membenarkan selimut itu.
Diselimutinya gadis mungil yang baginya cukup keras kepala. Tetapi entah kenaoa setiap kata dan kalimatnya adalah belati untuk Vendra. Dan kalimat yang keluar dari bibir mungik itu memang benar adanya.
" Cantik !!" ucap Vendra.
Ya, saat ini Vendra tengah menikmati ciptaan Tuhan yang teramat sangat sempurna. Dia tidak menepis ataupun membohongi hatinya tentang itu.
" Jika saja, kamu datang sedikit lebih awal gadis kecil. Aku tidak akan seterpuruk seperti sekarang. Bagiku kamu adalah hal yang menarik. Bahkan entah kenapa setiap ocehanmu membuat semangat hidupku kembali" gumam Vendra lirih.
Setelah Vendra puas memandangi wajah nan ayu itu, dia segera membuka tirai di kamarnya. Pantulan cahaya bulan meneranginya.
" Ah... terang bulan " gumamnya.
Dia kemudian menutup tirai itu dan segera kembali ke ranjang. Dia merasa kasihan melihat Aisyah tidur meringkuk di atas sofa. Didekatinya Aisyah yang tengah tertidur pulas. Di rengkuhnya tubuh mungil gadis nan ayu itu kemudian di digendongnya untuk diletakkan di ranjang.
" Sebegitu nyamankah kamu tertidur di sofa? Hingga posisi begini saja kamu masih terlelap dengan damai" gumam Vendra.
Entah kenapa lelaki dingin yang cenderung pendiam itu kini menjadi sedikit cerewet Entah karena adanya Aisyah yang mrmbuatnya bersemangat ataukah karena ocehan Aisyah yang selalu memancing amarahnya.
" Kalau aku tidur di sofa??? Ahhh... pasti membuat badanku sakit setelah bangun. Apalagi sofa ini begitu kecil!!" gumamnya sendiri.
Setelah menidurkan Aisyah di ranjang Dia kemudian membuka pintu lemari. Di bukanya lemari besar itu kemudian dia masuk dan segera membuka tombol yang berada di dalamnya.
Selain terlihat seperti pintu lemari ternyata itu adalah pintu rahasia Vendra. Ya, Vendra kemudian masuk mencari kasur lantai yang ada di ruangan rahasia itu.
Ruangan yang lebih mirip kamar mewah nan megah. Terdapat banyak sekali dekorasi mewah didalam kamar itu. Banyak barang - barang penting yang berada di ruangan itu. Vendra menyusunnya dengan sangat rapi.
Dia kemudian mencari lemari tempat penyimpanan bed cover dan lain sebaginya. Dan dia sudah menemukan apa yang dicarinya.
Dibawanya kasur lantai itu ke kamar utama. Setelah itu dia menutup kembali pintu rahasia itu. Dan di rentangkannya kasur yang sudah dia bawa dari ruangan rahasia itu.
__ADS_1
Sebuah kasur lantai dengan ukuran yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Namun cukup untuk satu orang dan sedikit nyaman. Karena kasur tersebut cukup empuk dan nyaman.
Vendra segera mengambil dua bed cover yang ada di lemari. Kemudian dilapisinya kasur tersebut agar sedikit lebih nyaman. Kemudian dia mulai merebahkan badannya. Dan segera menarik bedcover satunya yang dia ambil.
Tak lupa dia memasang AC dengan suhu ruangan yang membuat ruangan menjadi sejuk. Dan lambat laun mata itu menjadi terpejam karena sangat nyaman.
Aisyah merasa tidurnya kali ini sangat nyaman. Terasa tidur di kamarnya. Ya, kamar yang dimaksudkan adalah kamarnya dulu. Sebelum rumah orang tuanya terbakar habis oleh si jago merah.
" Ibu.. Ibu..." rintihnya dalam tidurnya.
Kemudian diiringi isak tangis yang menyayat hati. Vendra yang baru saja terpejam merasa sedikit terganggu. Di dengarkannya dengan seksama dalam kondisi mata terpejam. Disimak dan didengarkan sekali lagi dalam diam.
" Aisyah??" gumamnya.
Vendra kemudian bangun dan mencari sumber suara. Dilihatnya Aisyah yang masih memejamkan mata. Tetapi tak henti - hentinya air mata itu meleleh ke samping matanya.
" Aisyah... mimpi apa kamu?" gumamnya lirih.
" Ibu.... Ibu.." ucap Aisyah masih dalam tidurnya.
Vendra hanya memanggilnya, tanpa menyentuh badan Aisyah. Terus di panggilnya nama gadis itu, tapi tak kunjung terbuka juga mata si gadis. Di sentuhnya tangan gadis itu dengan jari telunjuknya.
Vendra kemudiana memberanikan diri untu menyentuh pipi gadis itu dan dahinya.
" Panas !!! Ah... demam!!" ucap Vendra panik.
" Aisyah... Aish... bangun..." panggil Vendra lembut.
" Aish... Aish..." dipanggilnya nama itu dengan menepuk- nepuk pipinya.
" Emmmhhh" lenguh Aisyah.
Mata Aisyah sedikit terbuka dan kemudian membukanya tapi seperti nampak berat. Mata itu kini sayu, mungkin karena demam yang sangat tinggi.
" Kamu sakit Aisyah!!" ucap Vendra.
" Hmm" jawab Aisyah singkat dan mulai memejamkan mata lagi.
__ADS_1
" Ah... masih saja terlelap!! Bagaimana ini??" ucapnya bingung.
" Aku harus bagaimana???"ucap Vendra yang semakin gusar.
" Ah.. telpon simbok saja !!" ucap Vendra bermonolog.
" Tapi kasihan juga kalau simbok masih istirahat. Tapi pasti biasanya simbok bangun subuh!! Ya sudah aku akan menunggunya" gumam Vendra.
Vendra kemudian masuk kembali keruang rahasian ada teko elektrik untuk membuat kopi. Dia kemudian mengisinya dengan air biasa. Ditunggunya hingga mendidih Kemudian dia membuat air hangat untuk mengompres Aisyah.
Dengan telaten Vendra melakukan itu. Tak lupa vendra menggosokkan minyak kayu putih di tangan Aisyah. Dan sedikit memberikan pijatan lembut.
Bak merawat anaknya sendiri, Vendra dengan telaten dan sabar. Dia tidak merasa risih sedikitpun merawat Aisyah.
" Ah.. dia berkeringat!! Apa yang harus aku lakukan?? Kalau tidak diganti bagaimana? Pasti akan makin demam!!" ucapnya bingung.
Dilihatnya jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah empat. Dia kemudian berpikir menggantikan baju Aisyah sendiri. Tapi pasti itu sangatlah lancang.
" Ah.. bagaimana ini?? "
" Biar saja lah kalau dia marah!! Toh aku tidak ada niatan jahat ataupun berhasrat dengannya. Ini karena manusiawi saja" gumamnya.
Vendra kemudian mengambil piyama dengan lengan panjang. Dan segera menyiapkan semua yang akan digantikan.
" Aishh.. Aish.. dalam tidur begini kamu masih berhijab. Bagaimana aku tidak menginginkanmu. Kamu sangat menjaga dirimu. Maaf Aish jika aku lancang!!" ucapnya.
Ketika akan membuka peniti hijab, tiba - tiba suara ketukan pintu terdengar menggema. Ya, ada orang mengetuk pintu kamar tersebut.
" Ah... pasti itu simbok!!" ucapnya.
Dia kemudian membuka pintu kamar itu. Dan dilihatnya wanita yang di maksud. Simbok kemudian masuk dan melihat apa yang terjadi.
" Ah.. aku selamat !! Tolong gantikan baju Aisyah. Dia demam. Aku akan keluar!!" ucapnya.
Simbok tidak menjawab hanya mengangguk dan tersenyum. Kemudian Simbok segera mendekat ke arah Aisyah dan segera mengganti baju Aisyah beserta pakaian dalamnya.
Terkahir simbok memakaikan hijab instan yang sudah dibawanya. Kemudian kembali mengganti air kompresan dan segera mengompres kembali.
__ADS_1
Simbok kemudian keluar dan tidak mengatakan apapun kepada Vendra. Hanya senyum dan anggukan, simbok segera kembali kebawah.
" Aneh !!" gumam Vendra.