Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
16.


__ADS_3

Ravendra yang awalnya ingin makan di meja makan, kini niatnya diurungkan. Nyalinya kini menciut saat dibenaknya akan bertemu dengan gadis cantik nan ayu rupawan itu. Tentu saja dia merasa minder dengan penampilannya yang sangat berantakan.


Dilihatnya di hadapan cermin. Bagaikan orang tak terurus bahkan mencapai mirip dengan orang gila. Muka yang berjambang tebal, kusam, dengan rambut panjang yang sangat berantakan.


Memang untuk pakaian dia selalu menggunakan pakaian bersih. Bahkan bajunya tidaklah baju murahan saja. Dia selalu menggunakan baju dan bahkan seluruh isi rumahnya bukanlah barang abal -abal.


Dia terasa nyeri saat melihat dirinya. Sekelebat bayangan itu melintas di pikirannya. Membuat dia naik darah.


" Aaarrrrgggghhh" eram Ravendra.


Prannnnkkkk....


Praaakk....


Terdengar suara seperti barang - barang jatuh. Lebih tepatnya barang dilempar sangat keras. Mbok Saroh yang mendengar hal itu nampaklah tidak merasa kaget. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya dan selalu beristighfar.


" Aden.. pasti hal buruk itu kembali muncuk di pikiranmu. Hingga membuatmu menjadi emosi. Kasihan kamu anak malang" gumam Mbok Saroh lirih.


Tiba - tiba datanglah seorang lelaki paruh baya. Beliau juga mendengar adanya barang jatuh yang sangat keras. Tentu saja beliau juga mengetahui bajwa tuannya itu marah atau emosi.


" Kenapa lagi mbok? Den Vendra pasri keinget lagi dengan hal buruk itu. Kasihan Mbok. Coba kamu lihat mbok. Dia akan selalu bisa berbicara denganmu" perintah Pak Darman suami Mbok Saroh.


" Iya Pak. Ini juga simbok sudah mbawa makan siang buat Aden" jawab Mbok Saroh.


Mbok Saeoh segera menuju lantai atas, kamar den vendranya. Diketuknya pelan bahkan sangat pelan. Takut si empunya marah lagi dan akan ada barang melayang menghampirinya.


Tok... tok... tok..


" Den... Aden..." panggil simbok.


" Den.. simbok bawakan makan siang ini loh. Kesukaan aden makan siangnya ini. Opo Aden ndak laper?" ucap Mbok Saeoh lembut.


" Masuk mbok... hiks.. hiks.." jawab Vendra lirih.


" Astaghfirullahhaladzim... Aden... Sudah.. sudah.. Aden diam saja. Simbok bereskan. Lah ini ..." ucap Mbok Saroh kaget.


" Wes.. wes.. cah bagus.. duduk saja. Simbok ambil kotak obat dulu. Duduklah saja" perintah simbok.


Simbok kemudian meletakkan nampan berisi makan siang beserta lauk pauk dan pelengkap lainnya.

__ADS_1


Mbok Saroh segera keluar mencari kotak obat. Dia juga lupa ada mahkluk lain yang harus dia keluarkan dari kamarnya. Dipikirkannya matang - matang untuk membuka dan meminta gadis itu membantunya.


Kini simbok sudah menggenggam kotak obat itu. Dia kemudian menuju kamar gadis yang katanya sandra adennya itu. Di bukanya handel kunci dan kemudian dia membuka pintunya.


cekleeekk..


Si empunya menengok ke arah pintu. Di lihatnya genggaman yang ada di tangan Mbok Saroh.


" Mbok.. siapa yang sakit? Aku baik - baik saja" ucap Aisyah.


" Aden" jawab Simbok singkat.


" Nduk cah ayu. Simbok boleh minta bantuanmu?" tanya Mbok Siroh hati - hati.


" Apakah ada niatan kamu akan kabur kali ini jika simbok keluarkan kamu dari dalam kamar ini?" tanya Mbok Saroh menyelidik.


" Ah... itu.. " jawab Aisyah menunduk


Dalam pikirannya, dia hanya ingin lepas dari jeratan yang katanya " Aden " itu. Tapi dia sudah terikat kontrak. Dia tidak diajarkan untuk ingkar janji. Jadi, mau todak mau dia harus manjalankan janji itu. Walau apapun yang terjadi.


Dia juga di rumah itu tidak disiksa bahkan juga diperlakukan dengan baik. Segala kebutuhannya di penuhi. Makanan dan minumannya juga disediakan. Bahkan dia tidak di bolehkan mengerjakan apapun.


Makan malam telah terhidang di meja makan. Saat ini Aisyah masih berada di kamarnya. Rencana Vendra adalah meminta mbok Saroh untuknya makan bersama. Bergabung di meja makan.


Mbok Saroh pun mengikuti kemauan tuannya itu. Mbok Saroh sudah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Dan itu tidaklah hal buruk. Menurutnya itu akan membuka interaksi sosial pertama kalinya yang dilakukan oleh Adennya.


Tokkk


Tokkk


Tokkk


" Den... aden...." sapa Mbok Saroh.


" Ya mbok..." jawab Vendra lemah.


" Bolehkah simbok masuk den?" ijin mbok Saroh.


Dibukanya pintu kamar yang tidak terkunci itu. Kamar yang penuh dengan pecahan belinh dan banyak sekali barang - barang berserakan. Bagaikan tempat sampah yang sudah tidak ada rupanya.

__ADS_1


" Maaf Den... Simbok minta ditemani Aisyah untuk membantu simbok. Adeb tetaplah disitu" pinta Simbok.


Sedikitpun mulut itu terkunci rapat saat tahu ada sosok wanita lain yang masuk ke dalam kamarnya saat berantakan. Ya, berantakan hati serta keadaannya seperti ini.


Simbok kemudian mengkode Aisyah denfan anggukan dan senyuman. Mbok Saroh tahu, Aisyah adalah gadis lembut dan penyayang. Dia juga tidak mempunyai rasa jijik dan takut untuk menghadapi apapun.


Aisyah berjalan mendekati Vendra. Dengan penuh hati - hati agar tidak menginjak pecahan kaca yang berserakan. Dia kemudian mengambil sapu dan peralatan kebersihan.


Mbok Saroh dengan perlahan meninggalkan dua insan yang saling diam tersebut. Sebenarnya Aisyah dalam keadaan yang sangat takut.


Karena melihat prnampilan Vendra yang dilihat sangat mengerikan. Lebih tepatnya seperti orang depresi. Aisyah kemudian memberanikan diri untuk mengambil kotak obat yang sudah diletakkan di nakas samping tempat tidur oleh Mbok Saroh.


Didekatinya Vendra, di lihatnya tangan kekar yang penuh dengan luka. Aisyah dengan sangat telaten dan dengan kehati- hatiannya membersihkan luka - luka itu kemudian mengobatinya.


Setelah selesai di obati, luka Vendra di balut dengan perban. Agar tidak tergores dengan lain - lain. Aisyah kemudian membersihkan kamar yang berantakan itu dengan sangat cepat dan memang pekerjaannya sangat rapi serta bersih.


Vendra hanya diam memandang keluar jendela kamarnya. Dia acuh dengan orang asing di dalam kamarnya itu. Entah apa yang ada di dalam pikirannya.


" Aish... Ambilkan bajuku di lemari itu !!" ucap Vendra secara tiba - tiba dengan menunjuk sebuah lemari yang sangat besar.


" Ba...ba..iikk tuan" jawab Aisyah gugup.


Aisyah kemudian berjalan pelan menuju lemari yang di maksud. Aisyah membuka perlahan lemari tersebut. Tanpa dia bertanya kepada Vendra, dia mengambilkan sebuah piyama tidur untuk Vendra. Di ambilnya piyama berwanrna nevy tersebut dan di berikannya kepada Vendra.


" Pakaikan!!" perintah Vendra tanpa menayap wajah Aisyah.


Blussshhhh


Wajah nan ayu itu kini merah merona menampakkan semburat jingganya. Memebuat wajah itu kini semakin berseri nampaknya.


" Ttaapi.." jawab Aisyah gugup.


" Pakaikan !!" ketus Vendra.


Aisyah dengan takut akan posisinya dan statusnya kini perlahan membuka baju yang dipakai Vendra. Dengan lembut Aisyah membukanya.


" Astaghfirullahhaladzim " pekik Aisyah.


Vendra hanya terdiam tanpa kata. Tidak ada rasa bingung dan kaget. Aisyah yang melihatnya kini mulai terlihat panik. Tidak menyangka luka goresab di perutnya sangat lebar.

__ADS_1


Aisyah segera lari ke kamar mandi mengambil air dan handuk. Dia kemudian melihat ada cairan antiseptik di kamar mandi. Diteteskannya sedikit untuk membasuh luka Vendra.


__ADS_2