
" Bukan" jawab Vendra singkat.
" Kita duduk di sana" pinta Vendra kemudian.
Tanpa menjawab dan membantah dokter Haris mengekori Vendra dengan banyak pertanyaan di dalam pikirannya. Vendra pun demikian.
" Huffttzz " helaan nafas berat keluar dari mulut Vendra.
" Pak Darman dulu adalah anak buah Bapakku. Dan Mbok Saroh bekerja mengurus Ibuku" ucap Vendra menjeda kalimat.
Dokter Haris kini memandang lekat wajah yang mulai menyendu. Muka datar dengan garis wajah yang tegas kini berubah menjadi wajah yang berbeda.
" Bapakku sudah tiada. Ibukupun jg sudah meninggal. Beliau merawatku hingga aku dewasa dan sampai detik ini mereka bersamaku" ucap Vendra.
" Mereka menganggapku sebagai anaknya sendiri. Karena simbok tidak mempunyai keturunan. Mereka sudah cukup bahagia dengan kehadiranku didunia ini" ucap Vendra.
" Hmmm... pantas mereka memanggilmu Aden!" ucap dokter Haris.
Vendra hanya mengangguk lemas. Dan hanya tersenyum simpul. Dokter Haris merasa trenyuh mendengar hal itu. Wajah garang yang menutupinya hanya sebuak kedok.
" Istrimu?" tanya dokter Haris kemudian.
" Dia gadis kecil yang selalu ku pandangi dari jauh. Gadis kecil yang tumbuh dewasa dnegan sangat cantik. Gadis kecil yang selalu patuh kepada ayah ibunya. Dan gadis kecil yang malang" ucap Vendra.
" Aku tertarik dengan dia saa dia menginjak remaja. Setiap hari kupantau dia dari kejauhan. Setiap perkembangan hidupnya selalu ku ikuti. Hingga dewasa. Dan sampai nasib naqs itu terjadi" cerita Vendra.
" Bapak dan Ibunya tewas terpanggang api. Rumahnya di bakar orang yang sangat ku benci seumur hidupku. Dia yang memporak - porandakan hidup gadis kecilku!!" ucap Vendra.
" Tunggu... tunguu... dari mana asal istrimu?" tanya dokter Haris penasaran.
" Kenapa? Penasaran?" tanya Vendra.
" Apakah benar atau tidak. Aku tidak tahu. Aku seperti melihat bayangan seseorang di matanya" ucap dokter Haris.
" Maksudmu?" tanya Vendra penasaran.
" Ahhh... coba ceritakan istrimu" ucap dokter Haris memutus ucapan.
Vendra kini menatap tajam dan mengernyitkan jidatnya. Berpikir sebenarnya kenapa dengan orang ini. Ada apakah gerangan yang terjadi? Sehingga membuatnya penasaran.
" Kenapa begitu penasaran dengan istriku?" tanya Vendra kemudian.
" Ada seseorang yang juga meminta tolong kepadaku" ucap dokter Haris.
__ADS_1
" Siapa?" tanya Vendra cuek.
" Cewek?" tanya Vendra kembali.
" Huftzz... coba ceritakan dulu nanti aku akan menceritakan hal itu. Apakah benar berhubungan atau tidak" jawab dokter Haris.
" Ya itulah.... semua terjadi begitu saja. Aku tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupku. Tapi kehidupan istriku aku pasti tahu!" ucap Vendra.
" Dia tumbuh dari keluarga sederhanya. Bapak Ibunya pun orang baik dan gak banyak gaya. Kehidupannya yang serba sederhana dan menerima menjadi nilai lebih ku padanya" cerita Vendra.
" Ada sosok lelaki bejat yang jatuh hati pada istriku. Dia begitu terobsesi memiliki istriku. Hingga dengan bengis orang itu menghalalkan segala cara agar istriku menjadi miliknya. Itu sebelum aku peristri!" ucap Vendra.
" Ya... dan sepertinya kamu pun melakukan hal yang sama kepada gadis itu. Menghalalkan segala cara. Betul bukan? Hahaha" tawa ejekan dari dokter Haris.
" Hm... hehehe. Ya hanya itu yang bisa aku lakukan untuk melindunginya dari jahatnya dunia. Kejamnya kehidupan. Hidup kami berdua sama - sama menyakitkan. Kehilangan kedua orang tua yang meninggal mengenaskan" ucap Vendra.
" Maksudmu?" tanya dokter Haris penasaran.
" Ahhh... kau tidak perlu tau. Kau... ceritakan sama tidak dengan apa yang kau punya cerita?" tanya Vendra mengalihkan perhatian.
" Hmmm... Aish... gadis yang dicari oleh seseorang" ucap dokter haris.
" Seseorang? Lelaki atau perempuan?" tanya Vebdra langsung.
" Hmmm tidak... hanya bertanya. Lanjutkan!" ucap Vendra kemudian.
" Seorang gadis. Muda, cantik, dan ... baik" ucap dokter Haris disertai dengan senyuman.
" Hmmm simpati atau ada hati?" tanya Vendra blak - blakan.
" Entahlah.... huffff. Susah..." ucap dokter Haris lemah.
" Tidak ada yang susah di dunia ini. Yakin. Berusahalah. Rayulah Tuhanmu melebihi kau merayu wanitamu" ucap Vendra.
" Dingin, kaku, keras.. itu yang ku pikirkan darimu. Setiap katamu menghujam tajam bak belati. Tapi setiap ucapanmu mengandung banyak arti. Saran mu ku terima dengan senang hati" ucap dokter Haris.
" Dia seorang dokter. Dia sedang mencari adiknya . Bukan adik kandung, tetapi sudah menganggapnya sebagai adik kandungnya. Karena dia dulu dibesarkan oleh kedua orang tua gadis yang dia cari. Karena Bapak Ibu angkatnya ini meninggal karena tragedi pembakaran rumah" ucap dokter Haris.
Vendra semakin menyimak kaya demi kata yang terucap dari mulut dokter Haris. Entah kenapa seperti mengetahui sosok yang dimaksud oleh dokter Haris.
" Namanya...." ucap dokter Haris menggantung.
" Clara??" jawab Vendra cepat.
__ADS_1
" Clara" jawab dokter Haris bersamaan.
" Ya... dan... kau tahu??" tanya dokter Haris penasaran.
" Hm... ya... mungkin hanya dia yang dipunya istriku juga saat ini. Tapi rencanaku belum terlaksana. Suatu saat aku akan menemukan mereka. Tenang saja dokter. Clara seorang dokter. Dulu dia bertugas di puskesmas desa tempat istriku. Dan entah bagaimana cerita itu bisa terjalin. Dan seperti garis takdir" terang Vendra.
" Apakah Aisyah adalah Aish? " tanya dokter Haris.
Vendra hanya mengangguk lemah.
"Apakah Aisyah anak Pak Mustofa?" tanya dokter Haris kembali.
" Hm... dan benar" jawab Vendra mengiyakan.
" Oke.. deal... sudah ketemu ya... Masalah apa yang menimpa kalian?" tanya dokter Haris.
" Pelik!!" jawab Vendra.
" Oke... baiklah... kau pasti tidak akan menceritakan hal itu. Tapi jika aku bisa InsyaAllah aku bantu sebisaku" ucap dokter Haris meyakinkan.
" Sesama manusia, sesama muslim kita harus saling tolong menolong tanpa melihat materi atau apapun penunjang untuk mah membantu bukan?" ucap dokter Haris kemudian.
" Aisyah sudah ngrogoh sukmo !!" ucap Vendra seperti melepaskan beban.
" Aku tidak tahu demikian. Hanya ketika Aisyah merogoh sukmo aku disuruh menjaga badannya saja. Dan yerus berdoa, bermunajat kepada sang pencipta" terang Vendra.
" Apa dia mempunyai tujuan? Ataukah hanya iseng?" tanya dokter Haris.
" Wanita itu, wanita yang aku dapatkan saat di hutan puncak desa. Wanita itu saksi kunci hidupku. Wanita itu juga yang tahu kebenarannya" ucap Vendra.
" Hmmm... apa yang mau kau ketahui sehingga banyak sekali pengorbanan istrimu?" tanya dokter Haris.
" Aku tidak menyuruhnya untuk berkorban. Tapi kata Pak Kyai hanya istriku yang bisa membantuku. Aku tidak tahu apa itu. Dan ternyata seperti ini yang didapatkan!" ucap Vendra menyesal.
" Tidak ada yang salah jika suami istri saling membantu. Hanya saja istrimu baru sekali merogoh sukmo tanpa pendampingan oranf yang ahli. Dan ilmu itu didapatnya karena turunan" ucap dokter Haris.
" Aku akan membantumu. Yaa... sebagai cari muka didepan Clara" ucap dokter Haris dengan terkekeh.
" Cih... ada tujuan tertentu rupanya menggunakan istriku!!" ucap Vendra tak kalah sengit.
" Ya... dan sebentar lagi kau jadi adik iparku!! Hahaha" ucap dokter Haris bahagia.
" Hiiiihhhh.... mimpi!!! Clara menyukai Pak Lurah!!" ucap Vendra cuek.
__ADS_1
" Maksudmu???" tanya dokter Haris bingung.