
Nampak jejak langkah terdengar terburu - buru. Seperti mengejar waktu yang sudah terlewat. Aisyah segera mempercepat langkahnya.
Vendra nampak terburu dan dengan cepat menyambar sweaternya. segera berlalu sudah. Dia hanya sekilas menengok kearah istrinya.
" Makan malamlah dengan simbok. Jangan menungguku!" ucap Vendra dengan berlalu begitu cepat.
" Tuuu..." ucap Aisyah yang belum selesai.
Vendra tanpa mengucapkan salam pergi begitu saja. Bahkan langkah kaki mungil Aisyah tak mampu menjangkau langkah kaki Vendra yang jenjang.
" Assalamualaikum " gumam Aisyah.
Aisyah membalikkan badan dan merapikan beberapa barang yang berantakan. Tak terdengar langkah kaki, tapi terdengar suara pintu dibuka.
Aisyah segera mebalikkan badannya. Dan...
cuppp
Sebuah kecupan di dahinya mendarat dengan sempurna.
" Assalamualaikum " ucap Vendra dengan tersenyum.
Vendra segera berlari keluar tanpa memperdulikan istrinya yang tengah diserang badai kaget. Hihihi seperti apa saja autor ini bahasanya.
Aisyah hanya diam mematung dengan perlakuan Vendra. Entah rasa apa yang menjalar keseluruh tubuhnya. Kaku, tak dapat digerakkan itulah saat ini yang dia rasakan.
Baru kali ini dia mendapatkan sebuah ciuman. Bahkan ciuman dari suaminya sendiri. Selama ini dia menjaga kesuciannya. Dan kini suaminya yang mencium keningnya.
Ya, Aisyah masih tabu dengan sebuah ciuman. Hanya Bapak dan Ibunya saja yang mencium keningnya. Dan hingga saat dewasa bahkan hanya Ibunya saja yang mengecupnya begitu.
" Astaghfirullahhaladzim. Ya.. Allah.. Aku harus mengucapkan apa... Ya Allah... Ya Allah.." gumam Aisyah sendiri.
Kini kakinya terasa lemas tak berdaya, layaknya tak bertulang. Aisyah hanya diam sembari mengingat kejadian singkat itu. Sesekali mengusap keningnya yang baru saja mematri di ingatannya.
" Kenapa jantung ini?? Berdebar tak karuan. Dan rasa aneh apa ini yang menjalar di tubuhku? Ya Allah... Astaghfirullahhaladzim " ucapnya lagi.
Aisyah masih shock dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Dia hanya bisa meringkuk di sudut ranjang sembari bergumam - gumam sendiri. Karena masih sangat bingung.
Sementara lelaki dewasa yang baru saja membuat shock hanya tersenyum riang. Sesekali senyuman itu terbit menghiasi wajah tampannya.
Sementara ada sesosok lelaki yang mulai senja mengamatinya dengan rasa keheranan. Tapi ditepisnya dengan cepat.
" Ehemmm... Ya, maklumlah.. penganten baru. Adanya yo, seneng terus yo den?" ucap Pak Darman.
" Hehe... nggak juga Pak" jawab Vendra.
__ADS_1
" Terus.. lah itu apa senyam senyum begitu " tanya Pak Darman penasaran.
" Hehe, sedikit membuat shock terapi buat dia" ucap Vendra.
" Dia??" tanya Pak Darman.
" Istriku" jawab Vendra datar.
" Oh... istri.. Cie.. yang sudah beristri" goda Pak Darman.
" Hmmm" jawab santai Vendra.
Seketika suasana di dalam mobil sepi tanpa ada percakapan sedikitpun. Wajah tampan itu kini terlihat serius dan hanya memandangi jalan yang dilewatinya.
Pak Darman kini memposisikqn dirinya agar mengikuti suasana hati juragannya.
" Pak, bagaimana perasaan bapak saat pertama kali jatuh cinta?" tanya Vendra membuka percakapan.
" Lah yo... bahagia to Den" jawab Pak Darman.
" Ya, maksudku secara rinci. Itu kan hal umum" ucap Vendra.
" Bahagia, kadang seperti orang bodo. Kadang bersikap aneh. Dan terkadang sekeliling kita rasanya tidak ada. Ndak dianggep. Pokoknya rasane campur aduk Den. Dan kalau ketemu rasanya deg - degan tapi seneng" terang Pak Darman.
" Mungkin" jawab Vendra singkat.
" Mungkin??" tanya balik Pak Darman yang sedikit ingin tahu.
" Hmm. Sudahlah Pak.Fokus saja di jalan" pinta Vendra memutus percakapan.
" Den, jika memang benar itu nyata maka nyatakanlah kepada yang harus diberikan kenyataan. Jangan pernah menganggap itu hanya semu. Yakinkanlah semua itu dengan pasti" ucap Pak Darman kemudian.
Diam, itulah yang terjadi setelah Pak Darman memberikan sebuah pesan. Vendra tidak menjawab sedikitpun. Hanya diam dan mencerna setiap perkataan yang dilontarkan oleh Pak Darman.
" Pak,bagaimana dengan bidan itu?" tanya Vendra memutus percakapan secara sepihak.
" Sepertinya buntu Den.Kita belum menemukan. Tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin" jawab Pak Darman.
" Lakukanlah Pak. Semoga terlihat hasilnya" jawab Vendra.
" Sebenarnya kita akan menemui siapa kali ini Den?" tanya Pak Darman penasaran.
" Orang yang terlibat dalam masalaluku. Dia akan tahu persis apa yang terjadi" jawab Vendra.
Pak darman hanya manggut - manggut saat dijelaskan. Hanya berfikir siapa orang yang akan ditemui. Untuk bertanya lebih, Pak Darman terlalu sungkan. Hanya menerka - nerka saja yang terlintas di dalam pikiran Pak Darman.
__ADS_1
" Tidak perlu di pikirkan Pak. Nanti bapak akan tahu siapa orang itu" ucap Vendra membuyarkan pikirannya.
" Hehe.. habisnya Aden rahasia - rahasia sama Bapak" jawab Pak Darman.
" Emmm..den. Boleh bapak sedikit lancang mengutarakan isi hati bapak?" tanya Pak Darman hati - hati.
" Silahkan pak" jawab Vendra singkat.
" Jaman sekarang bukankah alat kesehatan dan alat kedokteran yang canggih dan maju sudah sangat banyak Den? Kenapa Aden tidak mencoba untuk periksa ulang?" tanya Pak Darman.
" Pak...Bapak sudah tahu bukan hasilnya?" jawab Vendra lesu
" Embb... bagaimana kalau coba di sebuah rumah sakit yang nahus dikota Den? Atau kalau perlu bisa ke luar negri?" tawar PakDarman.
Tampak Vendra diam dan sedikit berpikir. Isi hatinya mengatakan "iya" tapi pikirkannya kini belum bisa maksimal jika akar permasalahnnya belum juga terselesaikan.
" Tidak perlu Pak. Kita fokus masalah ini dulu. Usul Bapak saya tampung. Saya akan pertimbangkan" jawab Vendra dengan menatap lurus kedepan.
" Maaf Den, jika usul saya keterlaluan" jawab Pak Darman penuh sesal.
Akhirnya dua lelaki itu hanya saling diam dan menikmati perjalanan dengan penuh kebisuan dan dengan masing - masing pemikiran serta pemahaman.
" Pak, kenapa Bapak bisa menyarankan tadi?" celetuk Vendra dengan menatap tajam Pak Darman yang sedang menyopir santai.
" Huffft... sebenarnya saya ndak yakin kalau... Maaf, Aden punya penyakit itu. Soalnya masalah dulu saja belum terselesaikan loh Den. Nyonya besar dan Tuan Besar saja meninggalnya tidak jauh waktunya. Itu salah satu pertanyaan saya dari dulu Den" terang Pak Darman.
" Emmbb... Saya tidak tahu pastinya Pak. Tapi mungkin nanti setelah menemui orang ini kita akan mendapat sedikit pencerahan" jawab Vendra.
" Dan yang paling anehnya lagi loh Den. Itu bidan yang dulu mbantuin nyonya besar lahiran kok wes gak ono ( sudah tidak ada) hilangnya ghoib atau raib seperti di gondol ( dicuri) maling" tutur Pak Darman.
" Hmm.." jawab Vendra santai.
" Setahu saya, nyonya besar juga menikah dengan tuan besar saja. Saat itu nyonya besar juga masih gadis ting - ting" jelas Pak Darman.
" Lah, itu kalau liat Cah ayu lemah lembutnya seperti nyonya besar. Wes plek ketiplek ( sama persis)" lanjut Pak Darman.
" Lah mosok, bisa kena HIV. Lah kalau Tuan besar bisa jadi begitu Den. Lah wong tiap hari dolan nang sastro ( tiap hari mainnya ke sastro)" terang Pak Darman.
" Sastro?" tanya Vendra penasaran.
" Kalau jaman sekarang yo semacam tempat seneng - seneng gitu Den. Tempat mabuk, dan ada main perempuan. Bedeng lah kalau dulu itu namanya. Ya, Sastro Bedeng" jelas Pak Darman.
" Lokalisasi maksudnya?" tanya Vendra kembali.
" Lah.. kui .. itu.. namanya itu Den. Angel wes kui jenenge ( Susah itu namanya ) Kolalikasi" jawab Pak Darman.
__ADS_1