
Mbok Saroh segera membereskan meja makan. Vendra kemana? Jangan ditanya, setelah percakapan itu dia sudah beranjak dari meja makan dan pergi entah kemana.
Mbok Saroh dan Aisyah segera menyelesaikan pekerjaan itu dan segera pergi ke kamar sesuai perintah sang tuan rumah.
" Ayo cah ayu... Kita ke kamar" ajak Mbok Saroh.
" Iya Mbok" jawab Aisyah singkat.
Langkah kaki segera dirapatkan dan merengkuh tubuh tua itu. Ya, hanya itu yang bisa Aisyah lakukan agar rasa cemasnya sedikit hilang.
" Wes... ndak apa cah ayu. Ada Allah pelindung kita" ucap Mbok Saroh menenangkan.
Aisyah tidak menjawab. Hanya anggukan kepala dan segera berlalu. Mulutnya tak henti - hentinya berkomat kamit bak baca mantra. Padahal hanya lafadz Allah yang selalu dia ucapkan.
Sesampai di kamar yang sudah membuat Aisyah menjadi ketakutan itu, Aisyah tidak berani mengedarkan netranya untuk memindai yang ada di dalam kamar itu.
" Mbok, cepatlah sedikit" pinta Aisyah memelas.
Mbok Saroh hanya tersenyum dan segera merapatkan langkahnya supaya segera sampai kamar adennya.
Kini mereka sudah berada dikamar yang ukurannya dua kali lipat kamar yang pertama Aisyah tempati.
" Mbok, kita belum sholat isya bukan?" tanya Aisyah.
" Iya cah ayu. Lah.. ayo kita sholat" ajak Mbok Saroh.
" Tapi mbok.. Mukena Aish ada di kamar sebelah. Tadi kan belum sempat memindahkan semuanya" jawab Aisyah.
" Ya wes, tunggu disini. Simbok ambilkan. Cah ayu ndak usah takut. Kamar Aden aman terkendali" ucap Mbok Saroh menenangkan.
" Aish ikut Mbok saja boleh?" pinta Aisyah.
" Lah yo wes, ayo.." ajak Mbok Saroh.
Mereka kemudian keluar dan kembali ke kamar itu. Aisyah tidak sedetikpun melepaskan tangan tua itu. Digenggamnya jemari yang sudah keriput itu dengan sedikit sarkas.
" Cah ayu, jangan terlalu erat to. Lah simbok wes tua. Tangannya yo agak nyeri ini kalau begini" ucap Mbok Saroh.
" Maaf mbok" jawab Aisyah menyesal.
Mereka dengan cepat mengambil buntalan yang berada di atas ranjang. Segera Aisyah memeluk dan mengajak Mbok Saroh keluar kamar itu.
Mbok Saroh pun sebenarnya tak kalah takutnya dengan Aisyah. Tetapi Mbok Saroh berusaha setenang mungkin agar Aisyah tidak panik dan ketakutan. Mereka segera kembali ke kamar Vendra.
" Alhamdulillah.. " ucap Aisyahdan Mbok Saroh bersamaan.
__ADS_1
" Wes, cah ayu duluan sholatnya. Simbok tak jaga disini. Takut aden kembali" ucap Mbok Saroh.
" Baiklah Mbok, Aish ambil wudhlu dulu" jawab Aisyah.
Aisyah segera mengambil wudhlu dan setelahnya melaksankan ibadahnya. Setelah Aisyah selesai sholat, kink gantian Mbok Saroh yang melaksanakan sholatnya.
Aisyah kini yang berjaga, ketika Mbok Saroh sudah berada di rakaat terakhir terdengar langkah kaki yang sedikit keras. Aisyah semakin takut jika sang pemilik kamar sudah kembali.
Mbok Saroh yang sudah berada di antara salam segera mempercepatnya dan melipat Mukena yang dipakainya.
" Mbok..." ucap Aisyah lirih.
" Wes.. ndak apa.. tenanglah. Bismillahhirrahmannirrahim " ucap Mbok Saroh.
Mereka duduk menunggu langkah kaki itu yang tak kunjung sampai ke kamar Vendra. Aisyah kini paham dengan langkah kaki itu. Wajah cantiknya menjadi pucat dan semakin terlihat raut ketakutannya.
Dia selalu melafadzkan surat - surat pendek dan selalu bermunajat kepada Allah untuk meminta perlindungannya.
Mbok Sarohpun tak kalah takutnya. Diikutinya Aisyah yang bermunajat dengan khusuk. Kini suara derap langkah kaki itu sudah tidak terdengar kembali. Mereka akhirnya lega dan segera kembali duduk dengan tenang.
" Mbok.. apakah sebelumnya juga pernah terjadi?" tanya Aisyah penasaran.
" Selama simbok disini ndak pernah terjadi apapun cah ayu. Mungkin mereka kenalan dengan cah ayu ya?" jawab Mbok Saroh menerka.
" Mungkin juga si mbok. Sebenarnya tidak mengapa mereka menyapaku. Teyapi jika bentuk dan wujudnya menyeramkan, itu membuatku ketakutan" ucap Aisyah teringat sosok itu kembali.
Suara derao langkah kaki yang seperti orang berlari menaiki tangga. Suara itu semakin lama semakin dekat dan mendekat.
Aisyah dan Mbok Saroh saling berpegangan erat. Mereka kembali melafadzkan nama Allah.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu yang membuat mereka merapatkan pegangan dan saling pelukan.
Tok
Tok
Tok
Mereka tidak segera membukakan pintu, melainkan hanya saling pandang dan kembali berpelukan. Merepatkan tangan dan berpelukan kembali. Tak dipungkiri, ketakutannya mengalahkan logikanya.
__ADS_1
" Mbok..." ucap Aisyah.
Tiba - tiba pintu terbuka sangat lebar. Menampilkan pemilik tubuh kekar yang dipenuhi dengan bulu halusnya. Dan kini menatap sebal kepada kedua orang wanita yang berbeda generasi tersebut.
" Kenapa tidak dibuka? Sahutan pun tidak ada!!" ketus Vendra.
" Maaf" jawab Aisyah cepat.
" Oalah... aden to. Maaf den.. kita berdua ketakutan. Sebab tadi..." jawab Mbok Saroh menggantung.
" Tadi kenapa Mbok?" tanya Vendra menelisik.
" Ah.. tidak ada apa- apa tuan. Baiklah mungkin saya akan kembali ke kemar yang lama saja dan atau mungkin saya ikut Simbok saja. Bolehkah Mbok?" tany Aisyah.
" Boleh cah ayu. Lah ayo sudah malam juga kan!!" ajak Mbok Saroh.
Mereka berdua segera beranjak dari ranjang berukuran king size dan segera akan ke luar dari kamar.
" Siapa yang menyuruh kalian???" ucap Vendra sedikit keras.
Mbok Saroh dan Aisyah segera berhenti dan menghadap pemilik kamar.
" Aisyah, tidurlah di sini. Mbok... kembalilah" perintah Vendra.
Buat Mbok Saroh perintah adennya adalah mutlak. Tidak bisa di ganggu gugat bahkan tidak diperlukan argumen atau sanggahan.
" Baiklah Aden. Cah ayu, Simbok kembali ke rumah belakang ya. Cah ayu di sini sama Aden. Wes... ndak usah takut. Aden akan menjaga cah ayu" ucapnya lembut dan menenangkan.
" Ta..tapi Mbok.. Kita bukan muhrim" jawab Aisyah dengan menunduk.
" Wes, percaya saja sama Aden. Aden ndak akan berbuat macam - macam. Percayalah..." ucap Mbok Saroh.
" Den, tak kembali ke rumah belakang. Aden tolong jaga cah ayu. Jangan kecewakan Simbok" pinta Mbok Saroh penuh dengan penekanan.
" Kenapa Mbok Saroh bisa begitu mengintimidasi Tuan Vendra. Sebenarnya siapa Mbok Saroh dimata Vendra?" bayin Aisyah.
" Hm" jawab Vendra singkat.
Mbok Saroh segera kembali ke rumah belakang karena suaminya sudah menunggunya dirumah. Pintu kamar itu segrra di tutup.
Vendra kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu dia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathtroubenya.
Vendra kemudian ke ruang ganti baju dan berganti dengan pakaian tidurnya. Piyama, ya..Vendra menggunakan piyama dengan lengan panjang dan celana panjang.
Kenapa begitu? Ya, karena saat ini dia bersama dengan wanita di dalam satu kamar. Dia menjaga tubuhnya yang tertutupi piyama.
__ADS_1
Saat Aisyah akan kembali duduk di sofa yang berada di sisi ranjang berukuran king size itu, Aisyah melihat tanda goresan di punggung dan lengan Vendra.
" Kenapa itu?" batin Aisyah.