Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
34.


__ADS_3

Tak lama mata bulat nan idah itu kini mengerjap perlahan. Memindai seluruh ruangan yang sangat asing baginya.


" Mbok..." ucap Aisyah lembut.


" Sudah bangun?? Kumpulkan nyawa dulu cah ayu. Ndak udak keburu bangun" ucap Mbok Saroh.


" Mbok... ini dimana? Aish sepertinya tidak mengenali tempat ini?" tanya Aisyah bingung.


" Mbok..." ucap Aisyah lirih dengan sedikit menggoyangkan tubuh tua itu.


Mbok Saroh bingung akan menjawab mulai dari mana. Yang jelas saat ini dirinya masih merangkai kata yang tepat.


" Cah ayu... tenanglah. Cah ayu ingat dengan perjanjian yang cah ayu buat dengan aden?" tanya Mbok Saroh.


" Ya Mbok. Aku tahu dan aku ingat dengan pasti. Tidak akan aku lupakan!" jawab Aisyah yakin.


" Hm.. baguslah. Saat ini cah ayu ada di hotel. Cah ayu akan melaksankan pernikahan, ya.. ijab qobul dengan Aden. Cah ayu siap?" tanya Mbok Saroh yakin.


" Taa.. tapi Mbok... kenapa mendadak?" tanya Aisyah.


" Apakah di surat perjanjian itu ada tanggal dan kapan akan dilaksanakan pernikahan?" tanya Mbok Saroh.


" Emmmmbbb...." Aisyah mengingat surat perjanjian itu.


" Sepertinya tidak Mbok" jawab Aisyah sudah ingat.


" Nah.. jika begitu cah ayu ndak bisa nolak pernikahan ini. Dan ijab qobul akan terlaksana saat ini juga. Diluar sudah ada perias untuk merias cah ayu. Bersiaplah cah ayu. Mbok bantu" ucap Mbok Saroh.


Aisyah tidak mampu berkata apaoun saat ini. Hatinya sedikit tercubit dengan pernikahan perjanjian ini. Tidak ada orang tua yang hadir bahkan sanak saudara.


Impiannya untuk menikah dengan wali nikah bapaknya pun sirna. Semua hanya mimpinya dulu yang dirajut dengan indah.


Pernikahannya jauh dari kata pernikahan impian. Bahkan dia tidak mampu memimpikan pernikahan ini. Dia tidak memahami betul siapa suaminya ini. Bagaimana karakternya, bagaimana sifat dan bagaimana dia harus memperlakukannya.


Lelaki dingin, angkuh dan mengerikan menurutnya kini yang akan menjadi imamnya. Dia harus siap. Mau tidak mau, suka atau tidak pernikahan ini akan tetap berlangsung.


" Bismillahhirrahmannrirrahim " ucapnya dengan mata yang berkaca - kaca.


Mbok Saroh yang setia mendampinginyapun ikut merasakan bagaimana rasanya. Berkecamuk dan bergemuruhnya hati nan rapuh itu.

__ADS_1


Mbok Saroh hanya memberikan senyuman tulusnya dan membelainya dengan penuh kasih.


" Setidaknya ada tempat untuk berlindung cah ayu!" ucap Mbok Saroh kemudian.


Aisyah hanya mengangguk lemah tak berdaya. Pikirannya tidak karuan. Jadi inilah yang dirasakannya, kecemasan yang terjadi padanya karena hal ini.


Aisyah segera berlalu dan membersihkan diri setelah itu dia kemudian memakai bathrobe untuk segera duduk di meja rias. Sementara Mbok Saroh memanggil perias untuk masuk.


" Periasnya wanita cah ayu. Ndak usah takut ataupun risih. Mbok akan menemanimu" ucap Mbok Saroh.


Aisyah hanya mengangguk. Perias kini sudah ada di dalam kamar dan mempersiapkan alat tempurnya untuk melukis wajah calon pengantin.


" Bismillahhirrahmannrirrahim. Kita mulai ya nona" ijin perias.


" Hmm... baiklah Mbak" jawab Aisyah lembut.


" Bismillahhirrahmannrirrahim " Aisyah memulai doanya..


Perias segera melaksanakan tugasnya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk merias Aisyah yang notabennya sudah cantik.


Riasan natural yang dipakai oleh perias cukup membuat aura kecantikannya keluar begitu saja. Makeup Flawless yang diusung perias cukup menawan, membuat Aisyah semakin cantik.


" Ikhlas dalam pernikahan adalah kunci utama nona. Jadi riasan wajahnyapun akan terpancar sesuai dengan hatinya" ucap perias mengurai keheningan.


" Hmmm.. cantik sekali cah ayu. Sik ikhlas dan nerimo ya cah ayu. Semoga pernikahan ini adalah bentuk ibadahmu. Jangan karena sesuatu. Jangan pikirkan apapun yang mengganjal di hatimu dan dipikiranmu" ucap Mbok Saroh.


" Ya Allah, sebenarnya apa yang akan terjadi kepadaku kedepan. Semua aku serahkan kepadaMu. Aku hanya bisa berserah diri kepadaMu, bagaimana jalanMu menuntunku. Ya Allah jadikanlah aku manusia yang selalu bertawadu' kepadaMu jangan pernah Engkau menjauhkanku dariMu" bayin Aisyah.


Setelah selesai makeup, Aisyah kemudian memakai kebaya yang sudah disiapkan oleh Vendra. Ya, Vendra yang memilihnya dan membelikannya dengan harga yang lumayan mahal.


Aisyah segera memakainya dan kemudian memakai hijab. Ketika perias akan memakaikan hijab dengan beberapa aksen dan hiasan yang menurut Aisyah berlebihan, dia menolaknya.


Aisyah segera memakai hijab dengan gaya yang sederhana namun dia terlihat sangat anggun dan mewah. Bahkan perias sangat takjub dengan pilihan dan model hijabnya itu.


" Perfect!!" ucap perias.


" Ya sudah, sekarang segera ke bawah. Tuan sudah menunggu" ucap perias.


Mbok Saroh segera menuntun Aisyah untuk turun kebawah. Aisyah sangat gugup dan tangannya terlihat gemetaran. Telapak tangannya kini mulai dingin.

__ADS_1


Mbok Saroh segera meraih tangan mungil itu. Memberikan sedikit sentuhan agar tidak gugup.


" Mbok... aku gugup" ucap Aisyah yang sangat lucu.


" Ya.. Mbok pun dulu sama sepertimu. Bismillah saja cah ayu. Semoga berjalan lancar" ucap Mbok Saroh.


" Amin" jawab Aisyah.


Seorang lelaki dengan badan uang tinggi tegap bahkan terbilang proporsional denganbgaris rahang yang kokoh kini telah memandang gadis yang selama ini memberikan sedikit cahaya kehidupan untukknya.


Gadis yang selama ini dipantaunya dari kejauhan dan gadis yang selalu ada memenuhi hari - harinya walau tak pernah bertegur sapa. Kini akan menjadi istrinya.


Istri sahnya, Ravendra Gautama adalah namanya. Nama yang diberikan oleh Mamanya setelah meninggalkannya selama - lamanya.


Dia tidak mendapatkan nama belakang Ibu atau Ayahnya. Bak hidup sebatangkara dan tanpa embel - embel keluarga besarnya. Dia mampu dibesarkan dan dididik sebagaimana mestinya oleh wanita tua yang mengabdikan seluruh hidupnya untuknya.


Mbok Saroh, yang saat ini menggandeng gadis yang diimpikannya sejak dulu. Mbok Saroh, wanita tua renta yang menjadi Ibu pengganti baginya. Kini membantunya mendapatkan seorang istri.


Aisyah hanya menunduk saat sudah dekat dengan calon pengantin pria. Dia tidak mampu untuk menengadahkan kepalanya.


Dia sibuk dengan pikirannya sendirj yang sangat kacau. Kacau, karena hatinya tiba - tiba teringat orang tuanya yang telah tiada. Tidak ada yang menikahkannya hanya wali hakim yang akan menikahkan mereka berdua.


" Sudah siap?" tanya penghulu.


" Ya" jawab Vendra tegas.


" Baiklah kita mulai..." Ucap Penghulu


" Saya nikahkan engkau ananda Ravendra Gautama bin Rendra Aditama dengan Aisyah Azzahra Khumaira binti Mustofa dengan mas kawin Uang tunai sebesar 1 milyar dibayar tunai".


Kemudian Vendra mulai menarik nafas.


Saya terima nikahnya dan kawinnya Aisyah Azzahra Khumaira binti Mustofa dengan mas kawin tersebut dibayar tunai".


" Bagaimana saksi???"


Sah


Sah

__ADS_1


Sah


Hanya dengan sekali tarikan nafas Vendra mampu mengucapkannya dnegan tegas dan lantang penuh dengan keyakinan. Dan akhirnya gadis yang selama ini di pantaunya menjadi istrinya, istri sahnya baik agama maupun negara.


__ADS_2