
Tak ada kata dalam setiap tatapan mata itu. Tak ada yang diperlukan untuk dipertanyakan. Bukan berarti jenuh ataupun tak perlu. Hanya saja kecewa yang meresap hingga relung hati.
Vendra merasakan perubahan itu. Tak ada daya dan upaya untuk mengusahakan keadaan yang diinginkan. Hanya saja enggan mengatakan yang sebenarnya. Takut? Tentu saja. Khawatir? pasti . Harus bagaimana selanjutnya ini berlalu. Dia hanya berharap kepada sang penguasa jagat raya untuk sedikit berbaik hati memihak kepadanya.
Tok
Tok
Tok
" Aish... Aish..." sapa Vendra didepan pintu.
Si empunya kamar belum menampakkan batang hidungnya. Sautan ataupun cicitannya pun tak terdengar hingga telinganya. Masih setia menunggu penunggu kamar itu. Bertekat hingga terbuka lebar kamar itu.
" Aish... dimana kamu?" teriak Vendra lagi.
Aisyah yang mendengar dari bawah hanya berjalan santai menuju sumber suara. Tak ada niat untuk menjawab ataupun memberikan jawaban panggilan itu hanya saja kakinya melangkah menuju si empu.
Puk..puk...
Ditepuknya bahu kekar itu sebanyak dua kali. Seketika kepala menoleh ke kebelakang.
" Astaghfirullahhaladzim " ucap Vendra dengan mengurut dadanya.
" Ke.. kenapa ... kamu diluar?" tanya Vendra dengan menetralkan rasa kagetnya.
" Hmm.. kenapa? Ada apa?" tanya Aisyah singkat.
" Ti.. dak... Mas hanya ingin meminta maaf dengan kamu" jawab Vendra.
" Maaf?? Tentang?" tanya Aisyah lagi.
" Obat" jawab Vendra singkat.
Aisyah diam dan hanya mengangkat satu alisnya ke atas. Tidak ada jawaban atau pertanyaan yang keluar dari bibir mungilnya.
" Maaf soal itu. Mas belum bisa menjelaskannya. Akan ada saat itu tiba. Dan, mas akan berkata jujur " terang Vendra kembali.
" Kapan?" tanya Aisyah.
" Secepatnya!! " jawab Vendra singkat.
" Tidak ada waktu secepatnya. Itu artinya tidak tahu kapan datangnya waktu cepat dan lambat!!" jawab Aisyah dingin.
" Aish ...." ucap Vendra memohon dan memelas.
" Aku tidak akan memaksa. Dan untuk itu aku juga tidak ikut campur. Lagian aku orang asing yang hanya kebetulan Mas nikahi. Aku tidak mempunyai hak lebih dari pada ini" ucap Aisyah.
__ADS_1
" Maaf, Aish... tolonglah bersabar sebentar saja ! Mas janji akan Mas ceritakan tanpa terkecuali.
" Hm.. hanya itu?" tanya Aisyah cuek.
" Maksudmu? Marahkah?" tanya Vendra.
" Jika tak ada yang lain lagi untuk dibicarakan. Aku permisi Mas. Jika butuh sesuatu bisa panggil Aku di bawah" terang Aisyah.
" Marah!!"
" Hanya bisa pasrah saja ini mulut. Kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya saja!" batin Vendra.
" Kenapa dia sekarang yang jadi dingin ya? Aneh !! Apakah semua wanita jika marah begitu?" gerutu Vendra.
" Mendingan ngadepin dedemit itu deh, dari pada dia. Angkernya melebihi pohon gede di rumah tua" gumam Vendra lirih.
Vendra segera menuju paviliun tempat Mbok Saroh berada. Sepertinya itu salah satu ide yang baik jika bisa menemui Pak Darman. Mungkin dia akan menemukan pencerahan dari masalah yang cukup pelik ini.
Ketika dia sudah sampai di paviliun, segera dia mencari sosok yang ingin dijumpainya. Entah apa yang akan di keluh kesahkannya itu yang mungkin akan menyita sedikit waktu.
" Ehmm" dehem Vendra membuyarkan lamunan Mbok Saroh.
" E.. eh... Aden... Ada yang bisa Simbok bantu Den? atau Aden butuh sesuatu? Biar Simbok siapkan" ucap Mbok Saroh.
" Tidak Mbok. Apa ada Pak Darman? Saya ke sini untuk mencari Pak Darman. Apakah ada?" tanya Vendra sopan.
" Emmbb.. Pak' e kayane ada di rumah depan Den. Katanya tadi bilange mau ngecek - ngecek rumah. Kan kita pindah kesini. Takutnya ada sesuatu Den" terang Mbok Saroh.
Ketika langkah panjang itu mulai bergegas.
" Den..." teriak Mbok Saroh.
" Hmm, ya?" jawab Vendra dan segera berbalik.
" Den... untuk masalah obat..." ucap Simbok menggantung.
Vendra hanya diam menunggu kelanjutan dari ucapan Mbok Saroh. Diam dan mendengarkan selanjutnya dia akan menyimpulkan dan memberikan jawaban.
" Boleh bicara sebentar Den?" pinta Mbok Saroh lembut.
" Kemarilah Den, duduklah. Lagi pula kita sudah lama tidak berdiskusi kan?" ucap Mbok Saroh.
Tanpa menjawab babibu Vendra segera duduk di sebuah kursi. Kursi santai yang berada di depan teras paviliun.
" Den... maaf sebelumnya. Apakah ada sesuatu terjadi?" tanya Mbok Saroh.
Vendra hanya diam dan mengernyit, mencerna apa yang di maksudkan oleh Mbok Saroh. Sesuatu yang terjadi apa yang di maksud Mbok Saroh itu.
__ADS_1
" Cah ayu. Apakah Marah?" tanya Mbok Saroh.
" Hm.. entahlah Mbok. Dia malah menjadi diriku yang dulu. Dingin!" jawab Vendra dengan menghembuskan nafas kasarnya.
" Sudah bisa ditebak ! Maaf, boleh Simbok kasih saran?" tawar Mbok Saroh.
" Hm..." jawab Vendra dengan menengadahkan telapak tangan seraya mengayun seolah berkata "ayolah".
" Saran Simbok, berkatalah dengan jujur. Takutnya Cah Ayu bakalan ngambeknya lama. Apalagi kita masih dalam keadaan begini. Jangan sampai tercerai berai. Ya mungkin berat, tapi yakinlah. Gadis itu gadis yang baik. Simbok yakin bisa menerima" jawab Simbok.
" Gak semudah itu Mbok !! Hufff" jawab Vendra mengeluh penih dengan tekanan.
" Penyakitku ini mungkin menjadi sumber petaka di rumah tanggaku. Dan dia... akan meninggalkanku jika mengetahui yang sebenarnya! Aku takut Mbok" jawab Vendra.
" Jangan pernah takut. Masih ada kami. Dan Simbok yakin, Cah Ayu bisa menerima. Dia bukan gadis picik Den. Apakah selama ini ada hal yang dia minta? " tanya Mbok Saroh.
" Sejauh ini dia hanya diam tanpa keluhan dan tuntutan bukan?. Perlakuan Aden terhadapnya juga dia menrrima dengan lapang dada. Tidak pernah mengeluh. Bahkan dia sudah jatuh hati kepada Aden. Jangan buat kecewa lagi Den!!" terang Simbok.
Vendra hanya bisa mengusap kasar wajahnya. Kini nampaklah lelaki tua yang diharapkannya muncul menuju paviliun.
" Eh.. Aden. Sudah lama?" tanya Pak Darman.
" Belum. Baru saja" jawab Vendra singkat.
" Apa itu pak?" tanya Vendra penasaran.
" Ada orang jahat yang menanam beginian di pagar rumah depan. Entah apa tujuannya!!" jawab Pak Darman.
" Sudah di buka? Apakah sama dengan rumah yang di puncak?" tanya Vendra penasaran.
" Emm.. ya. Kurang lebih begitu" jawab Pak Darman.
" Bapak tahu dari mana?" tanya Vendra lagi.
" Cah Ayu sudah memeberi tahu bapak. Katanya ada yang aneh di rumah depan. Sesuatu yang akan mencelakai rumah!" ucap Pak Darman.
" Siapa?" tanya Vendra.
" Untuk itu saya ndak tahu Den. Saya sesegera mungkin mencari. Lah wong ndak keburu ngefek ke rumah ataupun kita!!" jawab Pak Darman.
" Ya sudah. Nanti ditanyakan saja sama Cah Ayu" ucap Mbok Saroh menengahi.
" Iya wes. Lah ini tumben ke belakang. Ada sesuatu? Atau perlu sesuatu?" tanya Pak Darman.
" Ya, biasa Pak'e . Anak muda. Masalah sama Cah Ayu yang tadi itu" jawab Mbok Saroh.
" Owh.. Marah?" tanya Pak Darman.
__ADS_1
" Hmm" jawab Vendra dengan mengangguk.
" Yo wajar kalo marah wes !!" jawab Pak Darman santai.