
Vendra segera masuk ke dalam rumah tersebut diikuti oleh Pak Darman. Pak Darman rasanya ingin memindai rumah tersebut dengan matanya. Tapi, dia teringat pesan Adennya agar tidak mengatakan apapun dan bertanya apapun. Diam berarti lebih baik menurutnya.
" Assalamualaikum " sapa Vendra.
" Waalaikumsalam " jawab lelaki paruh baya itu.
" Silahkan Den duduk " pinta lelaki paruh baya tersebut.
" Terimakasih Pak" jawab Vendra ramah.
Vendra sesekali memindai ruangan dan melihat aalah satu pintu di rumah itu.
" Sebentar lagi. Tunggulah" ucap lelaki paruh baya itu.
Sepertinya lelaki paruh baya itu mengetahui apa yang Vendra cari.
" Nama saya Yusuf, Den" ucapnya kemudian.
" Ya Pak, saya Vendra dan ini Pak Darman" ucap Vendra mengenalkan.
" Bisa dipercaya" ucap Vendra melanjutkan.
Vendra tampak mengerti dengan tatapan mata yang mengarahkan dan bertanya kepadanya 'apakah orang ini dapat dipercaya?' begitu kiranya.
" Le.. metuo ( keluar saja) " perintah Pak yusuf.
Seorang lelaki bersama seorang wanita yang terngah di tutup wajahnya dengan kain penutup.
" Wee lah dalah... dibrongsong( dibungkus) " celetuk Pak Darman secara spontan.
" Kamu !!" ucap Vendra tercengang.
Tak kalah kagetnya dengan Vendra, Pak Darman sampai tidak bisa berkata sama sekali.
" Wee lah.. Tarno!!" ucap Pak Darman.
" Hehe.. heeh Pak ( Iya Pak)" jawab Tarno santai.
" Sudah kenal bukan?" ucap Pak Yusuf tiba - tiba.
" Maaf Den!" ucap Tarno dengan menunduk.
" Ya sudah, kemarilah. Janga takut. Dan siapa itu?" tanya Vendra dengan masih menyimpan banyak pertanyaan di benaknya.
Sebelum Tarno menjawab, Vendra mengangkat tangan. Menandakan Tarno belum boleh menjawabnya.
" Pak.. Amankan dulu" perintah Vendra kepada Pak Darman.
Pak Darman hanya mengangguk. Dikeluarkannya sebuah botol yang bertuliskan ' chloroform' yangs elalu dia bawa. Memang Pak Darmans elalu membawanya jika juragannya merasa sangat kesakitan.
Dia diminta untuk menghirupkan obat bius kepada Adennya agar tertidur dan melupakan rasa sakitnya.
Pak Darman mengeluarkan sebuah tisu kemudian dibasahi dengan cairan obat bius tersebut. Selanjutnya dengan cepat membekap ke orang yang di bungkus kepalanya itu. Seketika orang itu tumbang dan tertidur.
__ADS_1
" Berapa lama efek sampingnya?" tanya Pak Yusuf.
" Kalau dia nyaman akan sangat lama. Seperti orang tertidur. Karena memang tujuannya untuk menidurkan" jawab Vendra.
" Kemungkinan lima samapi tujuh jam dia akan tersadar" jawab Vendra kembali.
" Ohh waow... " ucap Tarno.
" Tapi saya tidak memberinya terlalu banyak dan kemungkinan akan terbangun sebelum itu" jawab Pak Darman selanjutnya.
" Baiklah... ke intinya saja" ucap Vendra kemudian.
" Tarno adalah salah satu anak didik saya. Ya, saya memang mendirikan sebuah pesantren di balik bukit sebelah. Tarno meminta bantuan saya untuk hal ini. Setelah dia bercerita ada kejanggalan ketika menemukan sebuah benda asing yang ditanam kemarin di Rumah Aden" terang Yusuf.
" Tarno kemudian menanyakan kepada saya tentang rumah aden kepada saya. Maaf saya lancang untuk bercerita mengenai hal ini" ucap Yusuf.
Semua terdiam. Mereka tahu, Vendra tidak suka jika masa lalunya ditelisik oleh ' oknum' untuk mendapatkan sesuatu.
" Lanjutkan" ucap Vendra menyimak.
" Lalu saya menceritakan kejadian yang hanya sedikit saya dengar. Mungkin seingkat cerita. Karena saat itu kami juga pekerja buruh di kebun Ndoro besar" terang Yusuf.
" Apa yang anda ketahui?" tanya Vendra mulai menyelidik.
" Tentang keluarga Aden. Dan juga.." ucap Yusuf menggantung.
" Tentang penyakitku?" ucap Vendra kemudian dengan mata yang sendu.
" Lantas??" Vendra bertanya kemudian.
" Saya mengatakan nama bidan tersebut. Dan Tarno kemudian yang mencari tahu tentang bidan tersebut. Dan yang menghubungi Aden untuk datang kesini juga Tarno" terang Yusuf.
" Tapi kenapa harus sejauh ini Tarno? Kamu punya alasan apa?" tanya Vendra penasaran.
" Banyak sekali Den. Tidak hanya Bidan, saudara Ndoro besar juga ikut andil akan hal ini. Tidak hanya di depan Aden saja. Mereka menyerang Aden melalui belakang" terang Tarno.
" Pak.." ucap Vendra.
" Iya Den.. mungkin" jawab Pak Darman yang paham tentang pernyataan apa selanjutnya.
" Untuk itu kami memang sengaja meminta aden ke tempat ini. Tidak akan ada yang mampu melalui banyak rintangan jika masuk kesini. Semua peliharaan abah akan menghadang" terang Tarno.
" Oooo" ucap Pak Darman yang mengerti maksud dari ' peliharaan '.
" Siapa dia?" tanya Vendra kemudian.
Tarno segera membuka bungkusan kepala si empunya. Dan Vendra hanya mengernyit saja. Karena memang tidak tahu dan tidak mengenalnya.
Berbed dengan Pak Darman. Pak Darman terlihat membelalakkan mata dan sangat kaget. Betapa tidak? Orang yang selama ini dia cari sudah ada di depan mata.
Melihat ekspresi dari masing - masing orang. Tarno bisa menyimpulkan bahwa Pak Darman mengetahui siapa orang ini.
" Pak.. Pak Darman" seru Tarno.
__ADS_1
" Ah... Iya. Bagaimana... Bagaimana kamu bisa..." ucap Pak Darman yang masih shock melihat apa yang ada di depan matanya.
" Ya.." jawab Tarno.
" Siapa Pak" tanya Vendra penasaran.
" Pak... siapa wanita tua itu?" tanya Vendra sedikit keras.
" Dia... Dia... Diaa Den!!"seru Pak Darman.
" Dia siapa?" tanya Vendra semakin jengkel.
" Bidan itu!!" jawab Pak Darman akhirnya bisa terucap.
" Ya Allah.... Alhamdulillah " ucap Vendra sumringah.
" Tapi tunggu dulu den... Saya punya perjanjian yang harus aden tepati" ucap Tarno kemudian.
" Perjanjian?" tanya Vendra mengernyit.
" Jadi kamu pamrih No ? Sama Aden??" tanya Pak Darman yang tidak menyangka akan hal itu.
" Ya.. tentu saja Pak. Saya juga perlu timbal balik. Tidak ada yang gratis di dunia ini Pak" jawab Tarno dengan memasang wajah tengil.
" Baiklah. Apa yang kamu inginkan? Uang?? Berapa?? Sebutkan!!" ucap Vendra.
Pikiran Vendra hanya itu. Karena apa lagi yang diharapkan darinya jika bukan uang.
" Lebih dari itu Den. Bagaimana? Apakah Aden sanggup memberikan itu kepada saya?" tawar Tarno.
Yusuf hanya diam menyimak antara juragan dan bawahannya. Sedangkan Vendra sudah memasang sedikit wajah juteknya. Ternyata ada anak buahnya yang masih ingin meminta lebih darinya.
" Hmmm baiklah" jawab Vendra mantab.
" Den.." ucap Pak Darman menegur.
" Tak apa Pak. Saya hanya butuh doa dari bapak" ucap Vendra.
" Baiklah deal??" ucap Tarno meyakinkan.
" Deal!!" jawab Vendra.
" Pertama, jika aden sudah keluar dari daerah ini jangan pernah untuk mau kembali lagi kesini. Karena tempat ini sudah tidak aman lagi"
" Kedua, saya minta jika Aden sudah menemukan jawaban dari Bidan ini. Tolong jangan pernah berkecil hati. Jadilah Aden yang angkuh dengan muka dingin Aden. Karena saya tahu, keangkuhan itu menyimpan banyak sekali kasih sayang dan kerinduan"
" Ketiga, jangan lakukan apapun terhadap Bidan ini. Lakukan menurut hati nurani. Karena akan banyak sekali informasi yang Aden dapatkan dari wanita tua ini"
" Ke empat,.."
" Hisss banyak sekali" gerutu Vendra.
" Ini yang paling penting" Ucap Tarno melanjutkan.
__ADS_1