Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
49.


__ADS_3

" Kembalilah kerumah. Sudah ada yang menunggumu disana !!" ucap Pak Kyai tegas.


" Baiklah Pak Kyai. Kami pamit" ucap Pak Yusuf.


Mereka segera berpamitan tanpa menjeda atau mengelak sedikitpun apa yang diperintahkan Pak Kyai.


Vendra semakin bingung dibuatnya. Selama perjalan dia merenung dan berpikir sebenarnya teka - teki apa lagi yang harus dia pecahkan.


Sementara dirumah putih yang sudah diceritakan oleh Pak Kyai. Aisyah masih gelisah dalam dinginyq malam.


" Ada apa nduk?" tanya Simbok kepada Aisyah.


"Allahumma anta Rabbi, La Ilaha illa anta, Khalaqtani wa ana abduka, wa ana ‘ala ahdika wa wa’dika, mas tatha’tu, audzu bika min syarri ma shana’tu, abu’u laka bi ni’matika wa abu’u laka bi dzanbi, faghfir li, fainnahu la yaghfirudz dzunuba illa anta"


" Astaghfirullahhaladzim wa atubu ilaih"


Mbok Saroh masih diam dan terus mengamati semua ucapan dan gerak gerik nyonya mudanya itu. Masih dalam pemikirannya jikalau nyonya mudanya saat jni sangat gelisah. Dia hanya diam saja dan hanya bisa menjadi pendengar.


" Ya Allah.... kenapa hatiku sangat gelisah ya Mbok?" ucap Aisyah seketika.


" Gelisah? Apa qda yang dipikirkan?" tanya Mbok Saroh.


" Iya Mbok" jawab Aisyah dengan mengangguk lemah.


" Baiklah cah ayu. Bisa di ceritakan?" pinta Simbok.


" Entahlah Mbok. Apakah saya pantas untuk memikirkannya atau tidak" ucap Aisyah melemah.


" Hiiis... ndak boleh begitu. Apapun yang ada di pikirane cah ayu itu kalau ndak di ungkapkan yo jadi gelisah. Malah jadi penyakit ati loh cah ayu!" ucap Mbok Saroh menasihati.

__ADS_1


" Ada apa cah ayu?" taya Mbok Saroh melembut sembari mengelus kedua tangan Aisyah.


" Mbok... Aish khawatir dengan suami Aish" ucap Aish murung.


" Suami... hmmm... suami ya..?" goda Mbok Saroh dengan tersenyum.


Tujuannya agar Aisyah sedikit lebih nyaman dan santai. Tidak merasa tegang dan gelisah. Hanya pengalihan sementara pikirnya.


" I.. iya Mbok.. Apakah salah?" tanya Aish mengernyit.


" Ndak... Ndak salah. Apakah hati ini sudah membuka untuknya? Lelaki batu itu?" tanya Simbok kepada Aisyah serius.


" Entahlah Mbok. Tapi bukankah khawatir kepada suami adalah hal yang wajar? Walaupun saya tahu, saya tidak dianggap istri oleh Mas Vendra" ucap Aisyah sedih.


" Nduk.. cah Ayu....Sebenarnya..." ucap Mbok Saroh menggantung.


" Sebenarnya??" ucap Aisyah mengulangi dan menunggu apa yang selanjutnya akan keluar dari mulut orang tua ini.


" Sebenarnya belum ada seorang gadis pun yang mampu menaklukkan benteng batu di hatinya. Dan tidak ada seorangpun yang masuk ke dalam kehidupannya selain kami, Simbok dan Bapak" ucap Mbok Saroh.


" Lalu?" tanya Aisyah penasaran.


" Entahlah, apakah benar apa yang ada di hati dan pikiran Simbok itu sama dengan kenyataannya. Yang pasti, Simbok pesan yo... Jaga dia dan jangan pernah sedikitpun berdusta atau menghianatinya" ucap Mbok Saroh serius.


" Mbok... apakah hatinya sudah pernah tersakiti sebelumnya? Ataukah ada trauma di hatinya selama hidupnya?" tanya Aisyah.


" Itu bukan wewenang Simbok untuk memberitahukan itu Nduk. Bersabarlah.. akan ada waktu untuk jawaban dari pertanyaanmu itu!" ucap Mbok Saroh.


" Baiklah. Huffff.... Semoga saja mereka dalam keadaan baik - baik saja tanpa kurang suatu apapun. Sehat wal afiat, selamat sampai kembali lagi" ucap Aisyah.

__ADS_1


" Kalau hatimu masih gelisah, sholatlah. Jika masih dalam keraguan, mengeluhlah sama yang nggawe urip Nduk. Pasrahkanlah!" ucap Simbok.


" Iya Mbok, Aish akan ambil wudhlu sebentar. Apakah Simbok mau menemani Aish di sini?" pinya Aisyah.


" Iya, tentu saja Nduk" ucap Mbok Saroh.


" Apa Simbok akan ikut serta untuk Sholat?" tanya aish.


" Ya... tentu saja. Mereka berdua bersama. Suami kita. Entah apa yang mereka lakukan dan kerjakan. Yang pasti gelisah itu tidak serta merta merayapi hatimu saja Nduk. Simbok pun merasakan hal yang sama. Semoga mereka dalam penjagaan Allah SWT. Aamiin" ucap Simbok.


" Aamiin" jawab Aisyah.


Mereka segera mengambil air wudlu dan segera melaksanakan sholat malam. Tak lupa setelahnya mereka bermunajat kepada Sang Khaliq. Meminta keselamatan bagi suami - suaminya yang entah berada di mana.


Hai... hai... saya kembali....


Entah kenapa rasa itu hadir merayapi diri ini. Malas tidak ada semangat sama sekali. Dan ada beberapa pekerjaan lain yang sangat menyita waktu.


Sehingga Author menjadi penulis yang pemalas. Tidak pernah up dan mungkin semua readers menunggu kelanjutannya.


Maaf yaa sudah menunggu waktu yang sangat lama..


Untuk yang sudah setia dengan karya Author. Author mengucapkan banyak terima kasih.


Jangan lupa untuk memberikan komentar, like dan vote terus ya karya Author...


Author akan kembali lagi....


Happy reading....

__ADS_1


Thank you All....


__ADS_2