Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
11.


__ADS_3

" Ju..ju..juragan" ucap Aisyah gugup.


" Aish.. Aish.." teriak bapak yang sudah terbakar.


" Aish".. Ibu teriak


Ternyata rumah yang terbakar sudah mulai rapuh. Dan..


Bruuuugggghhhhh....


Runtuh seketika rumah yang sudah terlalap api yang sangat besar.


" Bapak... Ibu..." teriak Aisyah histeris.


Sedangkan juragan Gandi tersenyum jahat dengan semua yang terjadi. Dasar manusia berhati iblis. Apapun bisa dia lakukan seenak jidatnya sendiri.


Aisyah yang kebingungan menangis histeris. Juragan Gandi mengambil kesempatan itu diseretnya Aisyah ke semak- semak. Di rebahkannya Aisyah, dipaksa membuka bajunya. Ketika pakaiannya akan di robek juragan Gandi, entah kekuatan dari mana yang dia dapatkan.


Dia kemudian menendang jimat keramat juragan Gandi dengan lututnya dengan sangat keras.


Dughhh...


Dughh....


" Awwww" pekik juragan Gandi.


Aisyah segera berlari secepatnya. Tidak ada yang dia pikirkan saat ini. Dia hanya ingin selamat dari juragan Gandi.


Menyelamatkan mahkota yang hampir saja direnggutnya. Aisyah hanya menangis sepanjang jalan. Dia tidak memikirkan kepalanya yang tanpa penutup. Hijabnya tidak digunakannya. Karena tidak sempat memakai saat kebakaran terjadi.


Aisyah berlari sangat kencang. Hingga sampailah di depan rumah putih. Saat itu anak buah dan centeng juragan Gandi masih mengejar Aisyah.


Aisyah sangat ketakutan. Dia kemudian masuk tanpa permisi ke dalam Rumah putih. Dia membuka pintu Rumah putih itu dan masuk tanpa meminta ijin.


Takut? tentu saja. Apalagi rumah itu sangat gelap. Tanpa pencahayaan. Sedangkan dia sangat takut kegelapan. Aisyah menahan tangisnya keluar dari mulutnya.


" Setidaknya aku selamat dari kejaran mereka. Untuk saat ini rasa takutku dengan hantu aku singkirkan " gumam Aisyah.


Sedangkan diluar semua centang juragan Gandi masih mencari, dan sepertinya semua orang kampung juga ikut mencari. Entah apa yang diucapkan oleh juragan Gandi, sehingga semua orang mencarinya.


Sorang lelaki tua, kelihatan sangat menyeramkan melihat dari semak yang ada di dalam pagar rumah itu. Seolah mengerti apa yang warga desa cari. Matanya mengarah pada pintu rumah putih yang sedikit terbuka.


Lelaki tua itu mebuat sebuah suara yang menyeramkan. Membuat bulu kuduk semua orang meremang. Satu persatu warga desa meninggalkan tempat itu. Semua bubar dengan sendirinya. Karena rumah putih terkenal angkernya.


Sementara di dalam rumah putih ...

__ADS_1


" Siapa kamu??" gelegar suara menggema.


Aisyah mencari kesana kemari orang yang bersuara itu. Dia menengok kekanan dan kekiri tidak mendapati seseorang itu. Jantungnya berpacu bak kuda lari. Rasanta mau copot dari tempatnya.


Keringat dingin bercucuran. Wajah ayunya kini menjadi pucat pasi. Dia sangat ketakutan dengan suara itu. Kini dia harus menghadapi suara yang tidak ada empuny itu.


Dengan segenap kekuatan, Aisyah membaca apapun yang bisa dia baca. Dia agar tidak diganggu dengan suara itu lagi.


" Apa yang kamu baca hey?" gelegar suara itu lagi.


Aisyah semakin ketakutan dibuatnya. Aisyah semakin khusuk membaca doa dan hafalan surat - surat pendek. Meminta pertolongan Allah dengan segenap raganya.


" Diiiiaaaammmmm!!!" teriak suara itu lagi.


Aisyah seketika diam. Kini suaranya kirih dengan doa. Tak terasa tumpukan air mata yang dia tahan tak kuasa meluncur di pipinya yang sangat halus.


" Kau budeg? Diaammmm!!! Aku benci dengan kau memuja Tuhan!!" teriak menggelegar.


Aisyah kemudian diam dan hanya menangis sesenggukan. Aisyah sangat takut saat ini. Tidak akan ada orang yang menolongnya walaupun dia akan mati disini.


*Sreekkkk


Srekkkkk*


" Ya Allah.. lindungilah hamba... lindungilah hamba" lirih Aisyah.


Sesosok bayangan berada tepat di depan Aisyah. Wajah ayunya kini menjadi seputih kapas. Rasa menyeruak kembali mengampirinya setelah pertama kali masuk rumah itu terasa bau kembang.


Bulu kuduk Aisyah mulai meremang. Dinginnya tangan dan keringat membasahi tangannya.


" Ehemmm" suara bariton deheman seseorang.


Aisyah yang saat itu ketakutan tidam berani melihatnya. Hanya menunduk dan terus berdoa. Dia kemudian sangat ketakutan mendengar deheman itu.


" Maaf, saya tidak mengganggu anda. Saya dalam keadaan terdesak masuk kerumah ini. Jika tidak saya akan ditemukan oleh banyak orang" ucap Aisyah terus terang menjelaskan.


" Kenapa kamu tidak menatapku?" ucap suara itu lagi.


" Saya bukan hantu!!" ucap suara itu lagi.


Aisyah perlahan menaikkan mukanya untuk melihat. Dipaksanya kepala itu menengadah memandang sumber suara. Aisyah hanya melihat remang - remang wajah itu. Karena cahaya sangat minim dirumah itu. Hanya ada lampu teplok yang bersumber dari satu arah.


" Maaf, saya tidak sengaja mengusik ketentraman dirumah ini. Maafkan saya" ucap Aisyah.


" Hmm.. kenapa kamu masuk ke rumah ini hee?" tanya suara itu lebih keras.

__ADS_1


" Sa..sa..ya.. " ucap Aisyah gugup.


Saat matanya melihat wajah tua itu Aisyah teringat seorang kakek yang membantunya di depan rumah ini.


" Ka..ka..kek" cekat Aisyah.


" Jika kamu sudah masuk kesini, kamu tahu bukan konsekuensinya?" tanya Kakek itu


" Tii.. tiidak kek" jawab Aisyah menggeleng lemah.


" Kamu akan ditumbalkan!" teriak kakek itu.


" Tummbaall??" ucap Aisyah terpekik.


"Ya, kamu masih perawan. Dan belum menikah. Baumu sangat harum. Darahmy begitu murni. Jadi kamu jadi tumbal" ucap kakek itu.


" Ya Allah.. Ya rab... " ucap Aisyah.


Aisyah hanya lemas dan pasrah. Apakah pelaku pesugihan itu masih ada pada era jaman moderen seperti saat ini? Dan anehnya di desa ini masih ada pelaku pesugihan yang tidak pernah tircium atau terjaman warga desa.


" Kenapa harus menjadi pemuja kesesatan kek?" tanya Aisyah.


" Lancang!!!! Kurung dia" teriak kakek.


Tiba- tiba ada satu orang lelaki yang memakai seluruh pakaiannya hitam. Tanpa terlihat mukanya. Dan tangan itu sangat dingin. Persis seperti mayat. Bau kemenyan menyeruak dihidung Aisyah.


" Astaghfirullahhaladzim " sebut Aisyah.


Aisyah terus berdzikir dan bermubajat kepada Allah. Agar selalu dilindungi dalam keadaan apapun.


" Masuk!!" teriak kakek.


Sebuah kamar yang lumayan luas. Hanya ada penerangan lilin dan itu sangat minim. Bahkan jika berjalan pun harus meraba- raba dengan sangat hati - hati.


Aisyah kini hanya pasrah dan tertunduk lesu. Selain dzikir dan doa yang dia baca, dia juga menangisi nasibnya yang sangat miris.


Dia lari dari bahaya, sekarang malah menjemput kematiannya. Aisyah hanya menangis dan terisak mengingat kejadian itu. Bapak dan Ibunya tewas terbakar. Akibat ulah juragan Gandi. Dia juga hampir diperkosa oleh juragan Gandi.


Selesai masalah satu kini dia harus menjadi tumbal pesugihan rumah angker. Benar kata banyak orang, rumah ini rumah angker. Tetapi kenapa ada orang dirumah ini? Bukankah rumah ini rumah kosong?


Apakah ada oknum yang memanfaatkan rumah ini?"


Aisyah kini tertunduk lesu di samping jendela. Karena ruangan kamar itu berada di atas. Netranya kemudian menjelajah pemandangan sekitar. Aisyah menyibakkan korden yang melambai- lambai.


" Haaa... Astaghfirullahhaladzim... makam??" pekik Aisyah.

__ADS_1


__ADS_2