
Vendra segera membuka pintu mobil dan menyambangi Pak Darman yang tengah merokok dan menikmati teh panasnya yang mulai mendingin.
" Pak... Capek?" tanya Vendra.
" Eh.. Den, tadi bensin habis. Saya ngisi dulu. Terus ngeteh dulu den. Dingin sekali soalnya. Aden mau?" tawar Pak Darman.
" Boleh Pak. Tolong pesankan. Saya akan mengambil bekal. Kasihan jika tidak dimakan" jawabnya dengan senyuman.
" Iya Den.. " jawab Pak Darman.
Sementara Vendra mengambil bekal, Pak Darman memesankan teh panas untuk Adennya. Dengan memandangi adennya yang kini tengah bahagia.
" Semoga wajah itu akan selalu begini, bahagia. Semoga penyakitnya bisa ada obatnya!!" gumam Pak Darman lirih.
Vendra kini sudah duduk di rest area bersama Pak Darman. Dibuka tempat bekal yang Aisyah bawakan.
" Hmmm, Pak.. ternyata dia membawakan empat potong sandwich. Dia tidak egois bukan. Dia tahu aku bersama Bapak" ucap Vendra dengan tersenyum.
" Pak, silahkan" tawar Vendra.
" Udah buat Aden saja. Lah itu yang buat cah ayu to? khusus buat Aden" jawab Pak Darman yakin.
" Ambillah. Jangan menolak rezeki. Aku juga tidak akan habis makan semuanya. Ambillah !!" pinta Vendra.
Pak Darman kemudian mengambil sandwich itu. Dan segera memasukkan kedalam mulutnya.
" Walaupun dingin tidak begitu hambar ya den. Masih enak saja sandwich buatan cah ayu" puji Pak Darman.
" Hmm... " jawab Vendra singkat dan dengan sedikit senyuman di bibirnya.
Pak Darman begitu senang dengan perubahan Adennya yang begitu bahagia hanya dengan sebuah bekal.
Mungkin dia merindukan sosok wanita , tempat berkeluh kesah untuk menunpahkan segala kegundahannya. Karena dengan Mbok Saroh masih ada yang di tahan tidak semua perasaan yang dirasakannya di ungkapkan kepada Mbok Saroh.
" Gadis itu..." ucap Vendra.
Pak Darman diam dan hanya menyimak, mungkin akan ada kelanjutan kalimat berikutnya.
" Gadis itu, sudah sangat lama aku selalu memantaunya di atap rumah. Gadis itu menarik " ucap Vendra dengan rona kebahagiaan yang tak terkira.
Pak Darman tersenyum menanggapi ucapan Adennya.
" Sayang, nasibnya sangat menyedihkan !!" ucapnya kemudian.
" Seharusnya dia menetap saja dikota. Jangan kembali ke desa laknat itu !!" ucap Vendra geram.
__ADS_1
" Sudahlah den, semua sudah ada yang ngatur. Lah, kalau dia kerja di kota. Aden ndak bakal ketemu kayak sekarang bukan?" tanya Pak Darman membenarkan.
" Hmm.. " Jawab Vendra dengan berpikir membenarkan kalimat yang diucapkan Pak Darman.
Akhirnya tidak ada lagi kalimat yang keluar dari mulut dua orang lelaki itu. Hanya diam menikmati bekal dan sesekali menyeruput teh hangat yang kini menjadi teh dingin.
" Den, kalau sudah. Kita lanjutkan perjalanan. Kita bisa lanjutkan perbincangan di dalam mobil " ucap Pak Darman.
" Ya, baiklah. Mari Pak" jawab Vendra.
Mereka kemudian masuk kedalam mobil dan Pak Darman segera melajukan mobil untuk segera sampai ke rumah putih.
" Pak, setelah acara nanti. Aku mau kalian buka pintu belakang rumah kalian" pinta Vendra.
" Ya, Den. Saya Paham!" jawab Pak Darman yang diberikan tugas.
" Den, tadi ada orang suruhan saya menelpon. Bagaimana kalau pernikahan itu dilaksanakan di sebuah hotel. Pinggiran kota saja. Agar semua berjalan dengan sebagaimana mestinya?" tawar Pak Darman.
Vendra hanya diam belum menjawab. Dia nampak berpikir untuk menimbang tawaran itu. Baik buruknya dia harus mempertimbangkan akan hal tersebut.
"Embb.. Pak, Bapak yang urus semuanya. Aku mau, dia tidak menyadari saat pergi dari rumah putih!" ucap Vendra.
" Baiklah" jawab Pak Darman.
Aisyah nampak lebih tenang jika tidak ada Vendra di rumah itu. Selama seharian penuh dia bisa melaksanakan ibadah dengan sangat khusyuk.
Entah kenapa hatinya seperti tidak tenang. Seperti sedang menanti sesuatu yang akan terjadi.
Aisyah masih dalam kekalutan hati yang kian melanda di lubuk kalbunya. Tak terasa waktu bergulir menuju senja.
Mbok Saroh yang melihatnyapun ikut menjadi bingung sendiri. Ponsel Mbok Saroh tiba - tiba saja berdering. Seperti pesan masuk ke dalam ponselnya. Segera diraih ponsel itu dan dibukanya.
Setelah membaca pesan ponsel itu, Mbok Saroh menuju dapur untuk membuatkan minuman hangat agar Aisyah tidak begitu gelisah.
" Cah ayu, kemarilah. Duduklah. Dan Mbok Sudah membuatkan minuman jahe untukmu. Agar hangat ditubuhmu" perintah Mbok Saroh.
" Terima kasih Mbok, entah kenapa hati ini merasa gelisah" ucapnya kepada Mbok Saroh.
" Istighfar dibanyakin cah ayu. Ndak usah takut. Allah bersama hambanya yang selalu bertawadu'. Wes, ndak usah dipikirin. Ini diminum dulu biar badan enakan" ucap Mbok Saroh.
" Iya Mbok, makasih banyak ya Mbok" jawab Aisyah tulus.
Aisyah kemudian meminum jahe anget yang dibuatkan Mbok Saroh. Sedikit demi sedikit lama - lama habis tandas tak tersisa.
" Mbok, kenapa mataku terasa berat ya?" tanya Aisyah yang sudah merasakan ngantuk tak tertahan.
__ADS_1
" Ya sudah, buat tidur saja cah ayu" jawab Mbok Saroh.
Belum juga Aisyah beranjak, dia sudah tertidur di meja. Mbok Saroh ternyata memberikan obat tidur untuk Aisyah. Agar bisa segera dibawa langsung ke hotel pinggiran kota.
Agar dia tidak tahu jalan keluar yang akan ditujunya. Mbok Saroh nekat memberikan obat tidur kepada Aisyah.
Sedangkan Vendra sudah menunggu di hotel tersebut. Orang - orang yang diperintahkannya pun segera datang dan melaksanakan apa tugas dan pekerjaannya.
Setelah semua selesai, mulai dekorasi dan lain sebagainya. Kini giliran calon pengantin yang harus berdandan.
Vendra juga sudah menyewa perias terbaik di kota itu untuk mendandani calon istrinya. Dan sementara dia sudah mulai berganti dengan setelan jas berwarna biru lautnya.
Sedangkan calon pengantin wanita baru saja tiba di hotel. Dan, Vendra melihat bahwa Aisyah terlihat di gendong oleh Pak Darman.
" Ada apa? Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Vendra memberondong pertanyaan.
" Sudah, Den. Ndak perlu tanya. Tak ke kamar dulu. Dandani cah ayu. Nanti tak jawab semuanya wes. Aden juga sudah siap bukan?" ucap Mbok Saroh panik karena terburu - buru.
Setibanya di kamar, Mbok Saroh mengusir semua orang yang berada di dalam kamar tanpa terkecuali. Vendra bahkan sangat bingung dengan kelakuan Mbok Saroh.
Pintu kamar segera di tutup Mbok Saroh. Diluar pintu semua orang hanya diam dan berpikir masing - masing.
Sementara di dalam kamar Mbok Saroh berusaha membangunkan Aisyah.
" Cah ayu... bangun" ucap Mbok Saroh sembari menepuk pipinya sedikit keras.
Tak lupa Mbok Saroh memberikan minyak angin di hidung Aisyah agar segera bangun.
" Cah ayu... cah ayu.. bangun" ucapnya lagi.
Tak lama mata bulat nan idah itu kini mengerjap perlahan. Memindai seluruh ruangan yang sangat asing baginya.
" Mbok..." ucap Aisyah lembut.
" Sudah bangun?? Kumpulkan nyawa dulu cah ayu. Ndak udak keburu bangun" ucap Mbok Saroh.
" Mbok... ini dimana? Aish sepertinya tidak mengenali tempat ini?" tanya Aisyah bingung.
Hai... readers... jangan kemana - mana ya.. author akan kembali...
Jangan lupa like, komen dan vote ya...
Yang banyakk ya...
Thank you 💖💖💖💖💖
__ADS_1