
Tatapan penuh cinta kini mendera di depan mata. Hati yang gundah gulana menyebul seketika. Entah rindu, entah prihatin, ataupun mengiba tatapan kini beradu. Tapi gadis itu tahu tatapan penuh cinta kini dimilikinya.
Menelisik lebih dalam tidak ada sedikitpun ragu atau bimbang. Yang ada penuh sesak cinta yang tersirat dimata itu. Mata tajam yang kini berubah menjadi teduh.
Direngkuhnya tubuh mungil yang ada di hadapannya. Ya, Vendra kini memeluk istri mungilnya itu. Entah kenapa secara cepat merengkuh tubuh kecil itu. Memberi perlindungan atau syukur karena sudah mendapatkan kekasih hatinya kembali.
Bola mata bulat itu kini membola. Kaget, tentu saja. Itu yang di rasakan Aisyah. Dengan tiba - tiba tangan kekar itu sudah melingkar indah di tubuh mungilnya.
" Jangan pernah lakukan lagi !!" ucap Vendra.
Aisyah yang masih kaget dengan perlakua suaminya hanya diam. Mencerna semua kata yang baru saja di dengarnya. Dan dia hanya mengangguk lemah.
" Shhhhh" desis Aisyah.
" Ahh... maaf. Sakit??" tanya Vendra dengan segera mengurai pelukan itu.
" Hmm" jawab Aisyah lemah dan hanya mengangguk.
" Maaf Aish... Istirahatlah" ucap Vendra lembut.
Tangan kekar itu kini membenarkan tidur wanitanya dengan lembut. Di tatanya denhan benar. Diusapnya pucuk kepalanya dengan penuh kasih. Mbok Saroh menyodorkan segelas air minum ke Vendra.
Ya, Air minum yang sudah di sediakan tadi saat membaca ayat suci Al quran. Dan kini diminumkan kepada istrinya. Semoga saja air itu punya syafaat untuk istrinya.
" Minumlah " ucap Vendra.
Aisyah hanya menurut. Di sruputnya air itu dengan pelan - pelan. Seteguk, dua teguk diminumnya dan berakhir dengan kandasnya segelas air minum itu. Hanya air putih biasa yang sudah ada doanya. Membuat tubuhnya yang tadi terasa lemas, kini sedikit berangsur membaik.
" Alhamdulillah " ucap Vendra yang melihat tandasnya air dalam gelas itu.
" Kamu lapar? Mana saja yang sakit?" tanya Vendra.
Aisyah hanya tersenyum manis. Senyuman yang memabukkan itu yang membuat runtuh hati batu yang dimiliko Vendra.
" Mbok tolong nanti oleskan obat di luka - lukanya. Pak tolong ambilkan obat biasa" ucap Vendra.
" Obat??" tanya Aisyah yang masih lemah.
" Ya" jawab Vendra.
Aisyah hanya menggeleng lemah.
" Kenapa? Kaku tidak bisa meminumnya?" tanya Vendra yang sudah tahu.
" Hmm tenanglah. Aku akan membuatmu bisa menelannya dengan mudah" jawab Vendra dengan pancaran mata penuh arti.
Pak Darman berlalu meninggalkan duo sejoli itu. Serdangkan Mbok Saroh masih setia menunggu.
" Den, apa cah ayu mau makan sekarang?" tanya Mbok Saroh.
Mbok Saroh sengaja bertanya kepada Adennya. Agar Adennya itu kemudian menanyakan kepada istrinya. Bisa saja Mbok Saroh bertanya langsung kepada Aisyah. Tapi, menurutnya alangkah lebih baiknya jika sang juragan yang bertanya kepada kekasih hatinya itu.
__ADS_1
" Mau makan sekarang cah ayu?" tanya Vendra.
Aisyah hanya mengulas senyum dengan pertanyaan yang dilontarkan suaminya. Sungguh klise jika dia yang bertanya. Biasanya acuh tak acuh kepadanya. Menyebut namanya saja seolah tercekat di kerongkongannya.
" Bagaimana cah ayu? Kok malah senyum - senyum. Awas nanti tersepona loh!" celetuk Vendra.
" Hehehe" kekeh Aisyah kemudian.
" Cantik!!" ucap Vendra yang melihat senyum terbit di bibir merah merekah itu.
Aisyah yang mendadak meleleh kemudian beralih wajah. Melihat wajah tua yang setia menanti perintah juragannya.
" Mass.. " ucap Aisyah yang kemudian mengeluarkan suara merdunya.
" Ya.. " jawab Vendra.
" Bisakah Mas meninggalkanku disini sendiri? Mbok juga bisakah meninggalkan saya disini" pinta Aisyah memohon.
" Tapi Aish"
" Tapi cah ayu"
Ucapan kedua orang berbeda generasi bersamaan. Membuat Aisyah menjadi tersenyum. Aisyah tahu, mereka sangat mengkhawatirkannya. Tapi dia harus segera mungkin mengusir mereka.
" Tapi kenapa? Apakah kami mengganggu? Apakah kehadiran kami membuat kamu enggan berhadapan?" tanya Vendra memberondong.
" Tidak .. Mas. Mengertilah. Aku ingin istirahat sebentar " jawab Aisyah.
" Mass" ucap Aisyah memelas.
" Tidak Mas bilang Aish. Kamu... tahukah kamu bagaimana khawatirnya aku tadi? Bagaimana kecemasanku tadi? Tanpa izin dariku kamj melakukan sesuatu hal yang membahayakan dirimu. Tahukah kamu, kami berarti bagiku??" ucap Vendr dengan kilat amarah ketegasan.
" Mas... aku mohon. Beri aku ruang dan waktu" ucap Aisyah melembut.
" Istirahatlah!! Tapi tunggu dulu sebelum kamu minum obatnya dulu!!" pinta Vendra.
" Baiklah" jawab Aisyah lembut.
" Sebenarnya ada apa dengan dirimu Aish? apakah kamu tidak nyaman dengan keberadaanku disini?" batin Vendra.
" Mas..." panggil Aisyah lembut.
" Hmmm.. yaa?" jawab Vendra sedikit tergagap.
" Aku baik - baik saja. Dan aku tidak mempermasalahkan adanya mas disini. Aku hanya butuh sedikit waktu untuk mengistirahatkan badan ini" ucap Aisyah menjawab keraguan di hati suaminya.
" Iya" jawab Vendra singkat.
Masih tidak yakin dan percaya dengan jawaban Aisyah yang seperti itu. Vendra terus menyelami bola mata bulat itu dengan sorot mata tajamnya.
" Ada yang kamu sembunyikan dari Mas?" tanya Vendra menelisik.
__ADS_1
" Ah.. ti.. tidak mas" jawab Aisyah tergagap.
" Den... ini obatnya" ucap Pak Darman yang memecah suasana canggung itu.
Hening, dan hanya saling menatap wajah tua yang baru saja membuyarkan percakapan yang terbangun.
" Hiiihhh ini aki - aki ndak ada toleransine blas. Wong gek suasana romantis gini kok tiba - tiba muncul!!" batin Mbok Saroh menggerutu.
" Emmm.. maaf " ucap Pak Darman mengetti situasi yang terjadi.
" Sini Pak obatnya" pinta Vendra kemudian.
" Ini Den" jawab Pak Darman dan segera menyodorkan obat tersebut.
" Obat apa Mas?" tanya Aisyah.
" Vitamin pemulihan badan. Hanya itu. luka ditubuhmy juga berkurang rasa sakitnya" terang Vendra.
" Ohh.. Pereda nyeri" jawab Aisyah lirih.
" Hmmm semacam itu. Tapi ini dengan dosis yang tinggi. Jadi pemulihan bisa cepat" ucap Vendra kemudian.
" Takar sesuai dosis saja Mas. Apapun yang berlebihan tidak akan baik" ucap Aisyah menerangkan.
" Hmm.. ini sesuai dosis untukmu. Aku sudah tahu!!" ucap Vendra tajam.
" Mas.. cepatlah. Mataku lelah" ucap Aisyah yang sudah terdesak.
Butiran obat itu kini sudah mulai di telapak tangan sang suami. Aisyah hanya diam terpaku mandangi butiran itu.
" Bagaimana cara menelannya? Dulu saja Bapak yang menghaluskan obat jika aku sakit dan harus minum obat. Duhhh Mas... !!" batin Aisyah menggerutu.
Vendra hanya diam menatap wajah istrinya yang kebingungan. Dia sudah paham. Di minumnya obat itu dan kemudian mengambil air putih.
" Loh Masss... koo......." ucap Aisyah yang masih menggantung.
Tangan kekar itu sudah menarik tengkuknya dan segera menyambar bibir merah merona yang sudah dipandanginya sejak tadi. Dan...
*Cuppp.....
Glekkkk*.....
Tertelan sudah obat itu dengan cepat. Bola mata bulat itu hanya membola dan mengerjap sekali. Sedangkan wajah merona sudah tak terkira tampaknya.
" Manis" ucap Vendra lirih.
" Ciuman pertamaku!!" batin Aisyah.
" Ehhhmmmm" deheman Pak Darman membuyarkan keduanya.
" Maaf loh ya... lihat filmnya live ini loh!! Hahaha... wes Pak. Ayo kita keluar. Ganggu saja kita disini" celetuk Mbok Saroh.
__ADS_1