Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
27.


__ADS_3

" Siapa dia Mbok?" tanya Vendra menggelegar.


" Hmmm... sudahlah tak perlu di pikirken lagi den. Nanti Bapak urus wes" ucap Pak Darman.


" Iyo Pak. Paling yo minta dikunjungi. Wes lama juga ndak kesana Pak" timpal Mbok Saroh.


" Siapa sebenarnya?" tanya Vendra sedikit marah.


Aisyah yang melihat perdebatan itu hanya diam saja. Karena memang tidak tahu perihal yang sedang dibicarakan.


" Begini Den. Acara nanti malam jadi kan? Karena Bapak wes nyiapken semuanya. Sebelum itu kita ke puncak dulu Den" terang Pak Darman.


" Pak.. saya sudah membicarakan hal ini kemarin bukan? Saya tidak akan ke sana dulu. Dan masalah di puncak bukankah sudah terhandle?" tanya Vendra.


" Bukan begitu aden..." ucap Pak Darman mulai bingung menjelaskan dari mana.


" Wes.. Pak. Aden wes gede, sudah dewasa. Disini juga ada calon istrinya. Wes, ndak perlu lagi ada yang ditutupi. Sudah cukup kita menutupinya lebih dari dua puluh tujuh tahun Pak" ucap Mbok Saroh menimpali.


Deggg


" Calon istri? Siapa? Aku? Yang benar saja?" batin Aisyah.


" Hmm lebih tepatnya calon istri kontrak!!" batin Aisyah kembali.


" Begini Den, sebenarnya Bapak sudah lama tidak nyekar ke makam leluhur Aden. Di puncak ada leluhur Aden yang di makamkan di sana" terang Pak Darman.


" Leluhur??? Siapa?" tanya Vendra penasaran.


" Entahlah Den, Bapak juga ndak tahu. Pesannya dari juragan tua harus selalu nyekar. Di bersihin makamnya gitu" terang Pak Darman kembali.


" Hmm baiklah. Saya serahkan semua ke Bapak saja. Dan untuk persiapan nanti malam sudah ready kan?" tanya Vendra ke Pak Darman.


" Beres Den. Ya wes, Mbok segera bikinke sarapan Aden sama den ayu" perintah Pak Darman kepada Mbok Saroh.


" Mbok tidak perlu, saya sudah buatkan sarapan untuk tuan dan kita semua. Dan sudah bikin teh juga. Maaf saya bikin yang praktis, biar cepet. Sepertinya jam sarapan sudah lewat. Mari silahkan" ucap Aisyah menerangkan.


Vendra segera menatap tajam kepada Aisyah. Seperti sedang mengintimidasi dan serta menguliti sikap Aisyah. Aisyah yang mendapatkan tatapan tajam itu kini hanua bisa menunduk tak mampu menengadahkan kepalanya.


" Maaf tuan. Saya lancang " ucap Aisyah yang sadar diri.


" Hmmm" jawab Vendra singkat.


" Gadis ini... sangat lancang !! Tapi kenapa aku tidak bisa memarahinya saat ini?? Bubir serta lidahku seakan kelu untuk berucap!" batin Vendra.


Mbok Saroh dan Pak Darman saling memandang. Mata mereka saling beradu seakan paham dengan situasi saat ini terjadi.

__ADS_1


" Duduk !!" peritnah Vendra singkat.


Semua orang disana saling pandang. Mereka bingung, yang diperintahkan untuk duduk itu siapa?


" Kenapa bengong?? Duduk!!" titah Vendra kembali.


Vendra baru menyadari kalimatnya.


" Semua" lanjut Vendra menimpali.


Dan semua saling pandang dan segera mengambi posisi duduk masing - masing. Vendra yang duduk berada di ujung meja makan alias kepala meja makan. Simbok dan Aisyah duduk berdampingan berada di samping kiri Vendra. SedangkanPak Darman berada di samping kanan Vendra.


" Tukar posisi!! Aisyah, duduk di sebelah kananku!!" perintah Vendra dengan tatapan yang tajam.


Aisyah yang takut akan tatapan mata itu segera beranjak dari tempat duduknya dan segera berpindah. Sedangkan Pak Darman bingung dengan sikap Adennya. Tidak biasanya dia mau bersinggungan dengan yang namanya wanita kecuali Mbok Saroh.


Mbok Saroh segera menggeser tubuhnya ke samping. Dan Pak Darman menempati posisi Mbok Saroh sebelumnya.


" Biasakan duduk di sebelahku!!" ucap Vendra tegas.


" Mmm... ba.. ik tuan" jawab Aisyah gugup.


" Hidangkan!!" perintah Vendra kembali.


Aisyah segera beranjak san menuiapkan sandwich buatannya. Sedangkan Mbok Saroh dan Pak Darman memandang aneh. Mereka berpikir tentang rasa dar sandwich ini.


" Cah ayu.. bagaimana cara makannya?" tanya Mbok Saroh.


" Begini saja Mbok. Ini sudah saya kasih bumbu di dalamnya. Cobalah Mbok, Pak. Mungkin terasa asing. Tapi akan terasa setelahnya.


" Sudah, cobalah. Sekali - kali makan makanan aneh Mbok" ucap Vendra sinis.


" Ishhh !!" decak Aisyah dalam hati.


" Astaghfirullahhaladzim " ucap Aisyah lirih.


Vendra hanya melirik sekilas gumaman Aisyah. Mereka sedikit ragu dengan makanan yang dibuat Aisyah.


Mereka berpikir Aisyah gadis desa. Bagaimana bisa masak, makanan orang barat? Bagaimana dengan rasanya?


Pak Darman yang mulai memasukkan sandwich kedalam mulutnya. Hanya sedikit yang pertama ķali masuk ke mulutnya.


Mencerna... dan, kemudian berlanjut dengan suapan berikutnya. Lahap?? Ya, Pak Darman tanpa berkata segera menghabiskan sandwich yang di buat Aisyah.


Aisyah mengembangkan senyumnya. Vendra tidak sengaja melihat ekspresi wajah itu.

__ADS_1


" Manis" gumam Vendra lirih tanpa ada yang mendengarnya.


Mbok Saroh segera menyusul menyuap makanan ke dalam mulutnya. Di makannya sedikit untuk mencicipi dan ternyata lidahnya masih bisa menerima.


" Hmmm cah ayu, kalau sarapan begini setiap hari enak ya? Bikinne gampang apa mudah to?" tanya Mbok Saroh.


" Hmmm mudah saja Mbok. Bagaimana rasanya?" tanya Aisyah.


" Lidah simbok memang lidah ndeso. Lidahnya orang desa cah ayu. Tapi makanan ini lidah simbok bisa nerima lo. Enak cah ayu" terang simbok.


Vendra segera mengikuti semua yang sudah lebih dulu menikmati sarapannya. Dan benar saja, sandwich ini sangat enak. Vendra bahkan seperti mengingat sesuatu. Matanya mulai berembun.


Mbok Saroh melihat heran dengan wajah adennya. Sepertinya adennya sedang teringat sesuatu.


" Bagaimana tuan? Enak? Ataukah tidak?" tanya Aisyah.


" En..enak... " jawab Vendra gemetar.


" Tuan.. apakah tuan baik - baik saja?" tanya Aisyah lembut.


" Mama dulu sering membuatkan ini untukku. Entah kapan itu. Tapi aku sangat mengingat rasa ini sama persis dengan buatan Mama" ucap Vendra lirih.


" Den, sudahlah. Nyonya besar sudah tenang disana. Ayo dimakan lagi. Aden pasti kangen sama nyonya bukan? Bagaimana kalau sandwich ini sebagai obat kangennya?" ide Mbok Saroh.


" Buatkan setiap aku menginginkannya !!" ucap Vendra yang kembali dingin.


" Ekspresinya dengan cepat bisa berubah. Tidak kusangka mimik wajahnya pun menyesuaikan. Bagaimana hati dan perasaannya yang bisa mengubah segala isi hayinya ya? Manusia macam apa sebenarnya dia?" batin Aisyah.


" Iya tuan" jawab Aisyah singkat.


" Cah ayu, mbok boleh nambah ndak? Enak ini. Buat camilan juga enak" ucap Mbok saroh polos.


" Hmm boleh mbok" jawab Aisyah lembut dengan menerbitkan senyum manisnya.


" Pak, segera kepuncak !!" perintah Vendra.


Pak Darman yang diam menikmati sarapan dan perbincangan pagi ini terhenyak kaget.


" Ah... iya den. Kami akan berangkat" jawab Pak Darman.


" Mbok Saroh dirumah. Saya yang akan ikut" jawab Vendra cepat.


" Baiklah Den. Sebaiknya sekrang kita berangkat. Supaya nanti siang sudah bisa kembali ke rumah. Karena di sana curah hujan juga cukup tinggi " terang Pak Darman.


" Oke. Aish, siapkan baju untukku!!" perintah Vendra yang tidak sadar.

__ADS_1


" Haa??" kaget Aisyah.


__ADS_2