Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
26.🪱


__ADS_3

Vendra segera kembali ke kamar. Dilihatnya gadis mungil yang sudah rapi dengan hijab sebagai pelengkap pakaiannya.


" Ah... untung saja ada simbok. Kalau tidak, haduhh aku tak tahu harus memberikan alasan apa kepadanya!" gumam Vendra.


Entah kenapa matanya yang tadinya sudah mulai ngantuk, kini seperti terjaga siap dua puluh empat jam demi menjaga Aisyah. Vendra menatap iba dengan gadis kecilnya itu


" Berapa usiamu? Kamu sudah menanggung beban berat. Bahkan tidak mempunyai sedikit hartapun!!" gumam Vendra dengan memandangi wajah ayu Aisyah.


" Masalahku tidak sama dengannya. Yang sama mungkin karena kita sama - sama tersisih dari kehidupan kami. Orang - orang disekitar kami sudah tidak ada yang perduli. Tapi yang membedakan lagi, fia tidak pernah meninggalkan Tuhannya ketika jatuh ke paling dasar. Sedangkan aku? Ah... entahlah. Kenapa aku selalu merasakan hati ini sakit ketika mengingat Tuhan" batin Vendra menggerutu.


Vendra terus berjaga hingga sang fajar menampakkan sinarnya. Dia turun kebawah membiarkan Aisyah tertidur. Aisyah yang gelagapan melihat jam di dinding kamar itu sudah pukul setengah enam. Menandakan dia sudah sangat terlambat untuk bersujud pada Tuhannya.


Aisyah segera bangun ke kamar mandi dan mengambil wudhlu dengan cepat. Dan segera dia melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.


Di dalam sholatnya hanya meminta perlindungan, keselamatan, permohonan ampunan segala dosa - dosa yang dia perbuat. Baik yang sengaja atau tidak. Tidak lupa setelah melaksanakan sholat dia selalu bermunajat dengan berbagai doa untuk orang - orang yang dia cintai. Baik yang sudah tiada ataupun yang masih sehat.


Aisyah hanya selalu mendoakan yang terbaik dari yang paling baik. Ketika selesai berdoa, ada seseorang yang mengetuk pintunya. Dia terperanjat kaget.


Dibukanya pintu tersebut dengan perasaan cemas. Perlahan membuka handle pintunya. Terlihat Mbok Saroh yang membawakan baju untuk Aisyah kenakan.


Tanpa berbicara apapun, Mbok Saroh memberikan baju tersebut. Aisyah merasa aneh dengan sikap Mbok Saroh. Karena biasanya Mbok Saroh selalu bertanya apapun kepadanya.


" Kenapa muka simbok pucat ya? Apakah beliau sakit? Apa karena kurang istirahat gara - gara aku ya? Dan, tadi saat bersentuhan tangan dengannya terasa dingin. Apakah simbok masuk angin? Ah.. sudahlah, aku harus segera merapikan kamar ini dan segera turun untuk membantu simbok. Kasihan juga kalau simbok menyelesaikan semua pekerjaan sendiri" batin Aisyah.


Sedangkan seorang lelaki tengah bingung di depan kompor. Dia bolak - balik menyentuh kompor itu. Keraguan nampak diwajahnya. Aisyah yang sudah turun dan menyaksikan hal tersebut menjadi ingin tertawa.


" Tuan kenapa aneh ya? Apa dia tidak bisa menyalakan kompor? Atau dia bingung apa yang akan dimasaknya?" gumam Aisyah dalam hatinya.


" Ehemmm..." dehem Aisyah.


Vendra kaget dengan suara deheman itu. Tiba - tiba saja sudah ada orang berdehem. Sementata tidak terdengar langkah kaki mendekat.


" Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Aisyah kemudian.


" Ah.. ya. Aku ingin minum teh hangat seperti biasan. Tapi... aku tidak bisa masak" ucapnya jujur.


" Oohh.. baiklah. Tuan tunggulah di meja. Saya akan menyiapkannya" jawab Aisyah dengan memberikan senyuman tulusnya.

__ADS_1


" Alahhhh maaakkk... senyummu gadis kecil . Membuatku meleleh" batin Vendra.


Dengan cekatan Aisyah menyalakan kompor. Dan segera menuangkan teh dengan diberi sedikit chamomile agar membuat tubuh menjadi lebih relax.


Setelah itu Aisyah segera membuat telor ceplok, dan beberapa lembar selada, tomat dan ada daging. Aisyah segera mencacah dan melembutkan daging untuk dibuat daging pipih dan di masaknya.


Dia kemudian sedikit memberi mentega di permukaan roti tawar dan memanggangnya. Dia membuat sandwich ala dia sendiri.


Dengan cekatan Aisyah segera membawa sandwich dan teh chamomile ke hadapan tuannya itu.


" Maaf tuan, lama menunggu. Silahkan tuan" Aisyah meletakkan sandwich dan teh tersebut.


Dari aroma tehnya sudah membuat Vendra memejamlan mata. Seperti menikmati harumnya chamomile yang terseduh bersama teh hangat itu.


" Duduklah, temani aku!!" pinta Vendra dingin.


" Sebentar tuan, saya akan membersihkan dapur. Jika tidak, semut akan segera mengotorinya. Hanya sebentar. Tidak akan lama" pinta Aisyah.


" Baiklah. Cepatlah!!" ucap Vendra ketus.


" Loh... itu Mbok Saroh" ucap Vendra yang didengar Mbok Saroh.


" Kenapa Den?" tanya Mbok Saroh mendekat.


" Mbok dari mana saja? Meja masih kosong Mbok. Aku juga kelaperan" gerutu Vendra.


" Maaf Den. Simbok tadi habis subuhan ketiduran. Baru sekarang bangun Den. Nyuwun ngapura ( Minta maaf ) Den" ucapnya tulus.


" Haahhh???" Vendra tercekat.


" Mbok... bagaimana mungkin??" tanya Vendra heran.


" Bagaimana mungkin apanya to den?" tanya Simbok penasaran.


Aisyah yang mendengar pembicaraan ituu kemudian mendekat.


" Mbok... beneran Simbok baru saja ke sini?" tanya Aisyah penasaran.

__ADS_1


" Iya cah ayu. Simbok loh.. baru saja kesini. Ehh lah itu Bapak. Kalau ndak percaya bisa tanyakan sama Bapak" ucap Mbok Saroh yang melihat suaminya.


" Pak.. benar begitu?" tanya Vendra mengintimidasi.


" Apanya Den?" tanya Bapak balik.


" Simbok baru saja kemari? Apa tadi tertidur setelah subuhan?" tanya Vendra tegas.


" Ya, seperti yang diucapkan simbok Den. Memangnya ada apa to Den?" tanya Bapak penasaran.


" Astaghfirullahhaladzim" ucap Aisyah.


Semua mata memandang ke arah Aisyah. Aisyah baru menyadari akan kejadia yang tadi dia lalui.


" Tuan... apakah... apakah sama?" tanya Aisyah memberanikan diri.


" Apa yang kamu alami setelah tidak ada aku di kamar?" tanya Vendra penasaran.


" Tuan... tadi setelah saya sholat subuh. Simbok mengetuk pintu. Memberikan baju dan hijab ini. Yang saya pakai" ucapnya dengan terbata - bata.


" Ah..." ucap Vendra.


" Dan.." lanjut Aisyah.


" Dan apa Aish??" tanya Vendra penasaran.


" Saya rasa itu bukan simbok. Simbok terlihat aneh tuan. Mukanya pucat dan tidak bicara. Saya ajak bicara cuma tersenyum saja. Tanpa jawaban" terang Aisyah.


" Saat hendak memberikan baju ini, tagan simbok sangat dingin. Aku takut simbok kenapa - napa. Ataukah masuk angin" terang Aisyah.


" Semalam, kamu demam Aish. Dan baju yang kamu pakai basah. Aku akan menggantikannya saat tengah malam tadi. Tapi aku bingung, jika aku menggantikan bajumu. Aku takut mengganggu simbok jika memintanya menggantikan bajumu" terang Vendra.


" Ketika aku memberanikan diri akan membuka hijabmu. Tiba - tiba suara pintu diketuk. Dan terlihatlah simbok. Simbok kemudian masuk dan meggantikan bajumu Dan dia juga bawa baju serta hijab komplit loh. Padahal aku belum memberitahukannya" terang Vendra.


" Mbok... " ucap Bapak.


" Iya, pasti beliau Pak. Wes... ndak usah dipikirin. Sik penting sekarang Aden sama cah ayu ndak kenapa - kenapa to? Aden juga diselamatkan dari yang namanya zina mata. Cah ayu juga ndak rugi kan. Terus cah ayu juga memakai pakaian yang tepat " terang Mbok Saroh.

__ADS_1


__ADS_2