
di sebuah apartemen mewah di pusat kota, viona sedang buru-buru memakai sepatu heels hitam nya menuju parkiran mobil.
hari ini merupakan hari pertama ia bekerja di salah satu perusahaan ternama di kota ini.
sebenarnya tanpa bekerja , harta peninggalan orangtua viona cukup untuk membiayai hidup viona hingga tujuh turunan namun ada satu hal yang sedang ia target kan maka dari itu ia memutuskan untuk melamar di perusahaan tersebut sebagai seorang sekretaris.
beruntungnya viona di terima langsung oleh bagian hrd mungkin karena melihat pengalaman dan viona merupakan lulusan luar negeri.
" kamu terlambat tiga menit di hari pertama "
ucap salah seorang pria yakni adalah deni yang sudah menunggu di ruangan dimana viona di arahkan untuk menemui nya terlebih dahulu.
" ma..maaf pak alarm saya gak nyala "
viona mencoba beralasan.
padahal bukan nya alarm nya tidak nyala, tetapi karena ia baru pulang ke apartemen pukul tiga dini hari untuk hanya sekedar melakukan kebiasaan buruk nya yakni mabuk-mabukan di club.
ia sudah melakukan nya sejak duduk di bangku kuliah semester pertama dan alfino sangat mengetahui ini makanya ia pura-pura tidak tahu kalau dahulu viona mengincar dirinya.
selagi deni menangkap basah viona yang terlambat datang, viona dan dirinya di kejutkan oleh para karyawan yang tiba-tiba hening serta menundukkan kepala.
ternyata yang membuat mereka begitu adalah kedatangan sesosok pria tampan dengan setelan jas rapi berwarna krem di kombinasi dengan kemeja hitam.
bentuk badan yang proporsional membuat pakaian yang di kenakan nya terlihat semakin sempurna di tambah lagi dengan gaya rambut rapi yang di sisir ke belakang ala oppa korea.
" hei "
deni membunyikan jari nya untuk membuyarkan lamunan viona yang sedang asyik menatap kedatangan alfino.
" hemm ya pak "
viona tertunduk.
" jangan di lihatin terus entar selera kan bahaya "
" udah punya istri soalnya "
" ikuti saya "
ucapan deni berubah-ubah sepertinya sudah ketularan atasan nya.
kadang lembut kadang buas seperti harimau.
TOK..TOK..TOK
deni mengetuk pintu ruangan CEO dan meminta viona menunggu di luar.
" selamat pagi papi bucin "
deni masuk ke ruangan alfino dan meledek nya.
" asisten kurang ajar "
maki alfino lalu melemparkan pulpen ke arah deni yang kini sedang memakai setelan jas berwarna biru dongker.
" noh di luar ada karyawan baru lulusan harvard yang ingin melamar sebagai sekretaris lo "
beritahu deni dan mendudukkan dirinya di kursi tepat di hadapan alfino.
" harvard ? "
tanya alfino bingung.
" yes harvard "
__ADS_1
" eich ei ar vi ei ar di "
jawab deni mengejakan setiap detail huruf nya .
" emmm aku gak butuh sekretaris "
" cuma kamu yang aku butuhkan "
ucap alfino lalu memgedipkan matanya sebelah ke arah deni.
" banci lo geli ihhh "
deni menggeliat memasang wajah ingin muntah melihat tingkah konyol atasan nya itu.
" suruh masuk aja dulu kali ya siapa tahu lo kepincut dengan keseksian nya "
goda deni lalu membukakan pintu untuk menyuruh viona masuk.
" selamat pagi pak "
viona memberi salam dengan sedikit menunduk.
" viona ?? "
alfino kaget begitupun deni.
" alfino "
viona pura-pura kaget.
" oh udah saling kenal "
ucap deni.
tanya alfino langsung pada intinya.
" harya segunung pun kalau tidak bekerja pasti akan habis pak alfino "
viona mulai sedikit sopan mengingat deni ada di sebelah nya.
" hem baiklah kamu boleh keluar dulu , aku ingin berdiskusi dengan pak deni "
ucap alfino.
setelah kepergian viona keluar ruangan nya, alfino menjambak rambut deni.
" berani-berani nya lo nerima karyawan seperti dia "
pekik alfino.
" sakit brengsek "
ucap deni mengusap-ngusap rambut nya yang sedikit berantakan akibat ulah alfino.
" lo inget gak kemarin sore aku telfon ada yang ingin melamar kerja lulusan harvard dan lo jawab yaudah trus lo langsung matiin telfon "
pekik deni.
" dan yang lo maksud adalah viona ? "
" kenapa lo gak ngomong bego "
tanya alfino dengan suara menahan geram.
" lo ga nanya curut dan langsung iyain aja "
__ADS_1
bentak deni.
" ya sorry aku lagi sibuk bermain dengan Bara " ucap alfino mengeles.
dan mau tidak mau alfino menerima viona sebagai karyawan perusahaan nya tapi bukan di jabatan seperti yang viona inginkan yakni sekretaris ceo.
viona di letakkan sebagai sekretaris juga tetapi sekretaris manager utama yang ruangan nya berada di lantai tiga.
alfino sengaja meminta deni agar viona tidak bisa dekat-dekat dengan nya untuk menghindari fitnah yang mungkin akan terdengar di telinga caramel suatu saat nanti.
sore ini akan di adakan konferensi pers mengenai pemberian nama pewaris sakura group generasi ketiga yakni baby bara.
caramel juga akan di hadirkan di konferensi pers ini dan akan di antar oleh supir bersama baby bara.
hari ini merupakan hari pertama akan di up ke sosmed foto baby alfino dan caramel yang mana sebelumnya masih belum pernah diketahui seperti apa rupa nya.
" Sayang, aku meeting sepuluh menit doank, tunggu disini ya "
" halo jagoan papi mmuuahh "
alfino mengecup kening istrinya lalu bergantian mengecup gemas pipi bara yang sedang di gendong caramel.
bi putri juga ikut ke kantor dan duduk manis di sofa dengan menggendong sebuah tas yang berisi peralatan bara.
" hemm aku ikut "
" aku rindu suasana kantor "
pinta caramel sambil memegang tangan alfino yang hendak berdiri.
" no sayang , kamu akan di tatap oleh beberapa staf keuangan, manager serta para pria hidung belang yang akan meeting denganku "
tolak alfino dengan lembut.
caramel mengernyitkan dahi nya merasa heran apakah benar di kantor ini ada pria hidung belang.
" keuangan ? "
" berarti ada gula donk "
" aku mau ikut atau kamu gak mau bawa aku karena kamu punya simpanan "
pekik caramel.
" tidak akan pernah "
ucap alfino lalu membawa caramel ikut meeting dadakan.
" selamat sore pak alfino, bu caramel "
para karyawan menyapa mereka secara bergantian.
sementara gula yang duduk di ujung langsung melambaikan tangan kegirangan melihat kehadiran caramel dengan penampilan super anggun di balut dengan biru muda dengan lengan panjang model balon.
pandangan caramel tertuju pada seorang wanita yang duduk satu barisan dengan nya namun di pisahkan oleh dua orang staff di antara mereka.
ia merasa seperti pernah bertemu wanita tersebut namun karena alfino memulai meeting maka caramel beralih fokus kepada suami nya yang cukup tampan itu.
alfino pun jadi semakin semangat sebab cinta nya kini sedang tersenyum di hadapan nya tanpa memperdulikan ada sepasang mata yang jijik melihat tingkah mereka yang sok romantis bagi nya.
gula pun menangkap tatapan mencekam viona serta kepalan tangan yang berada di bawah meja di atas paha nya.
" hem pasti iri nih anak baru "
batin gula.
__ADS_1