
Sore itu di kediaman Themisree...
Suiren telah menunggu pengawal pribadinya, Gilbert, terlalu lama. Setelah Gilbert dipanggil oleh Ayah Suiren, Jenderal Themisree, ia langsung secepat kilat berlari menemui Tuannya. Tapi sampai sekarang, Gilbert tak kunjung kembali.
Ia kemudian memutuskan untuk diam di dermaga danau teratai sambil menunggu kembalinya Gilbert. Karena menurutnya, sia-sia untuk kembali ke kediaman Themisree tanpa melihat matahari terbenam dari samping Danau Teratai. Lagipula, tujuan utama Suiren pergi ke Danau Teratai di taman kediamannya adalah untuk menyaksikan matahari terbenam.
Ia selalu menyukai matahari senja. Itu mengingatkannya pada Ibunya yang sudah tiada. Di masa kecilnya, Ibunya selalu memuji mata berwarna emas yang ia miliki. Di setiap kesempatan ibunya menatap kedua matanya, selalu ada saat dimana ibunya berkata "Kedua matamu sangat indah. Seperti langit senja dan Ibu sangat menyukai langit senja."
Tidak banyak yang ia ingat tentang Ibunya, karena ibunya telah meninggalkannya ketika ia masih berusia tiga tahun. Sudah empat belas tahun lamanya. Kalau saja bukan karena lukisan di dinding kediamannya, ia mungkin sudah lupa bagaimana wajah ibunya. Satu-satunya lukisan yang menggambarkan bahwa dulunya keluarga yang ia miliki adalah keluarga yang utuh.
Ibunya adalah seorang wanita yang sangat cantik. Walau begitu, ia sama sekali tidak mirip dengan Ibunya. Ia lebih mirip dengan Ayahnya. Kalau Ibunya adalah seorang wanita dengan rambut pirang yang menggambarkan sinar matahari, Ayahnya adalah seorang laki-laki dengan rambut perak dan mata biru langit yang menggambarkan musim dingin.
__ADS_1
Saat ini ia hanya tersisa ia dan ayahnya saja. Tentu saja ia sangat bersyukur akan hal itu, tetapi tidak jarang juga ia merindukan sentuhan hangat seorang ibu.
Matahari sudah tiga perempat terbenam dan Danau Teratai memantulkan warna keemasan dari Matahari senja.
"Haa..., sepertinya aku harus kembali tanpa Gilbert." Suiren berdiri dan membersihkan bagian belakang gaunnya dari kotoran yang menempel. Sebelum meninggalkan dermaga dan matahari senja yang sangat ia cintai itu, ia memejamkan matanya dan menghirup udara segar. Mencoba untuk meresapi keindahan momen ini.
Tiba-tiba, Suiren merasakan dorongan dari belakangnya. Seketika, tanpa ia sadari tubuhnya terjatuh kedalam danau.
"Gilbert!" Suiren berteriak, berharap Gilbert sudah kembali. Ia berteriak sampai tiga kali tetapi tetap tidak ada respon.
Justru air masuk ke dalam mulutnya, membuatnya semakin susah bernapas. Gaunnya yang menyerap air membuat tubuhnya semakin berat dan ia semakin lelah menendang.
__ADS_1
Lambat laun, Suiren mulai kehilangan kesadarannya. Ia merasa cahaya langit keemasan perlahan-lahan berubah menjadi hitam. Tetapi bukan karena langit senja berubah menjadi langit sore hari, melainkan karena pandangannya perlahan menjadi kabur. Tanpa ia sadari, ia sudah tidak berada di permukaan air danau. Ia terjatuh menuju dasar danau dengan sangat lamban.
Dadanya sakit akibat terlalu banyak air yang masuk dan kepalanya pening.
Tidak pernah sekali dalam hidupnya ia berpikir bahwa ia akan mati dengan cara yang sangat menyakitkan dan lambat. Kalau ia boleh meminta, ia ingin pergi dengan tenang dan tanpa rasa sakit sedikitpun.
'Setidaknya, aku sudah melihat matahari senja sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan dunia ini.' pikirnya.
Tetapi tetap saja, ia belum sempat mengucapkan selamat tinggal pada ayahnya.
'Kuharap Ayah tidak akan terlalu membenci Gilbert karena kejadian ini.'
__ADS_1
Setelah itu, warna dari penglihatan Suiren menghilang sepenuhnya tergantikan oleh warna gelap seperti langit malam dan ia pun kehilangan kesadarannya.