My Fiancé Is The 2nd Male Lead

My Fiancé Is The 2nd Male Lead
Ketika tokoh utama dan karakter sampingan bertemu


__ADS_3

Pertemuan dengan Putra Mahkota Frederick Helianthus dan Permaisuri Eleanor Helianthus menghabiskan tiga perempat tenaga yang dimiliki Suiren. Ketegangan di dalam dirinya yang mati-matian ia coba untuk tutupi menguras lebih banyak tenaga ketimbang ia harus berlari mengitar istana imperial.


Kyrie masih menggenggam tangannya ketika keluar dari aula Kaisar dan ia tak melepaskannya bahkan sampai mereka benar-benar menghilang dari pandangan Putra Mahkota dan Permaisuri. Sepertinya, penting untuk menjaga sandiwara sampai akhir. Untuk berjaga-kaga jika Permaisuri Eleanor menaruh mata-mata di sekitar istana imperial.


“Anda tahu, dari awal saya merasa ada yang aneh.” Bisik Suiren.


“Apa maksudmu?” Tanya Kyrie.


“Putra Mahkota sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan padaku. Aku bisa merasakan itu. Lalu semuanya menjadi semakin aneh ketika Permaisuri mengatakan bahwa ia yang memasukkanku ke dalam daftar kandidat Putri Mahkota.”


“Anda hanya kesal karena ternyata bukan Putra Mahkota yang memilihmu.”


Suiren menghentikan langkahnya dan menatap Kyrie dengan tatapan tidak percaya. “Saya tidak seputus asa itu.”


Kyrie tidak merespon. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka untuk keluar dari istana imperial. Setelah melewati taman di dalam istana imperial, tiba-tiba Langkah Kyrie berhenti. Ia langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Suiren.

__ADS_1


Dihadapan mereka, Serena sedang berjalan dengan anggunnya bak kupu-kupu berwarna emas kearah mereka. Ia tersenyum lebar dan melambaikan tangannya kearah Suiren dan Kyrie. Disetiap langkahnya, bunga seolah-olah bertumbuhan. Ia mengenakan gaun chiffon berwarna hijau muda yang terlihat sangat lembut. Ia terlihat seperti musim semi berjalan.


Ia pasti sedang dalam perjalanan untuk audiensi dengan Putra Mahkota dan Permaisuri.


“Kyrie! Suiren!” Serena berteriak sembari mempercepat langkahnya.


Suiren menoleh kearah Kyrie dan ia terkejut melihat ekspresi wajahnya. Kyrie tersenyum lembut tulus, seakan-akan ia lega telah melihat Serena. Satu hal yang ia yakin tidak berubah di dalam novel ini, bahwa perasaan Kyrie kepada Serena tetap sama.


“Serena!” Suiren berlari kearah Serena diikuti dengan Kyrie dibelakangnya.


“Selamat atas pertunangan kalian!” Serena berkicau. Ia terlihat benar-benar senang dan tulus ketika mengucapkan itu. Betapa bersalahnya perasaan Suiren karena ia membohongi orang setulus ini.


Serena mengangguk kecil sembari menatap Suiren dengan tatapan tidak enak. Ia pasti khawatir Suiren akan berpikir yang tidak tidak kalau Kyrie memerlakukannya seperti ini.


“Kau terlihat sangat cantik, Serena.” Ujar Suiren dengan senyum cerah.

__ADS_1


Ketika Kyrie dan Serena berbincang-bincang, Suiren merasa seperti ia sedang membaca novel favoritnya. Ada sedikit perasaan bahwa dirinya tidak seharusnya menjadi bagian dari gambaran yang terbentang dihadapannya ini, tetapi Suiren berusaha keras untuk mengabaikannya. Sepertinya itu adalah salah satu kerugian kalau kau mengetahui segalanya. pengetahuan akan masa depan datang dengan harga yang mahal.


“Baiklah, aku akan pergi menemui Putra Mahkota dan Permaisuri.” Serena berkata sembari tersenyum lebar. “Doakan keberuntunganku.”


Kemudian ia berjalan menjauh menuju aula kaisar. Wangi parfumnya tetap tertinggal di udara bahkan setelah ia menghilang sepenuhnya dari pandangan Suiren dan Kyrie.


“Serena dan Putra Mahkota akan menjadi pasangan yang sangat serasi.” Ujar Suiren mencoba memancing amarah karakter favoritnya itu.


Sebab di dalam novel, Kyrie sangat membenci segala omongan yang berkaitan tentang


hubungan Serena dan Putra Mahkota Frederick.


Kyrie hanya diam sembari terus memandangi koridor kosong yang tadi dilewati oleh Serena.


“Bukankah begitu, Duke Wisteria?” lanjutnya.

__ADS_1


Kyrie tersenyum. Tetapi kali ini senyumnya terlihat tulus. “Saya setuju.”


Sebuah jawaban yang sama sekali tidak diharapkan oleh Suiren untuk keluar dari mulutnya.


__ADS_2