My Fiancé Is The 2nd Male Lead

My Fiancé Is The 2nd Male Lead
Kota Birmin


__ADS_3

Kota Birmin tidak seramai kota Sefath ataupun Ibukota Kekaisaran, Diora. Walau begitu, Suiren hampir bisa menemukan semua hal di kota ini. Toko perhiasan, pakaian, pernak-pernik, buku dan berbagai macam toko lainnya.


Mata Suiren tertuju pada sebuah toko di ujung perempatan, sebuah toko buku yang lebih terlihat seperti toko barang antik.


“Aku ingin kesana sebentar.” Ujar Suiren kepada Sergei. Ia berjalan menuju toko buku itu dan memasukinya.


Di dalam toko buku itu, rak-rak setinggi tiga meter memenuhi toko itu. Tinggi rak itu sampai ke langit-langit sehingga untuk mencapai ke bagian paling atas rak harus menggunakan bantuang tangga. Toko buku itu berbau seperti buku-buku kuno, bau yang sangat Suiren sukai. Ia bisamenghabiskan seluruh waktunya disini dan ia tidak akan merasa bosan.


Suiren menyusuri lorong demi lorong toko buku itu hanya untuk mengagumi jumlah buku yang begitu banyak. Ia membaca sekilas judul buku yang terletak rapi di bagian-bagian rak.


Matanya tertuju pada sebuah buku bersampul merah muda dan bertuliskan ‘Diriku dan sang Pangeran Jilid 2’. Ia mengulurkan tangannya untuk meraih buku itu. Tetapi alih-alih mendaratkan tangannya di buku itu, ia mendapati tangannya mendarat diatas tangan seseorang. Tangan seorang gadis.


“Oh, maaf!” sosok pemilik tangan itu berkata.


Suiren menoleh kearah suara dan mendapati seorang gadis berambut cokelat dengan poni depan dan sepasang bola mata berwarna hijau tua sedang menatapnya dengan senyuman diwajahnya.


“Ah tidak, buku itu milik anda. Saya akan mencari buku lain.” Suiren berkata sembari membalas senyuman sang gadis.


“Tidak-tidak, aku tidak tertarik untuk membelinya. Sebenarnya aku sedang mencari jilid pertamanya.”


Suiren menatap sang gadis dengan mata berbinar. Ia tidak menyangka akan menemukan seseorang yang membaca buku yang sama dengan dirinya. “Apa anda menyukai buku ini?”


Sosok tadi menganggukan kepalanya. “Sangat! Aku sudah membaca jilid duanya tetapi belum membaca jilid pertamanya, aku mencari kemana-mana tetapi belum menemukannya.”


“Saya sudah membacanya. Kalau anda tertarik, saya bisa menceritakan isinya kepada anda.” Suiren tersenyum.


“Benarkah?! Aku sangat tertarik dengan tawaranmu.” Balas sang gadis dengan mata berbinar. “Omong-omong, namaku Satia Iris.”


Iris. Nama belakangnya adalah nama bunga, itu artinya gadis ini adalah anggota keluarga bangsawan.

__ADS_1


Suiren kemudian membungkukkan wajahnya untuk memberi hormat. “Lady Iris, perkenalkan saya Suiren Themisree.”


Kali ini Satia menatap Suiren dengan tatapan kaget. Mata hijau gelapnya terlihat seakan-akan mau keluar dari kelopak matanya. “Apakah anda tunangan Duke Wisteria?!” tanyanya.


Suiren menganggukkan kepalanya. Ia tidak tahu kalau ia seterkenal ini.


“Ma-maafkan saya karena sudah bersikap lancang, Lady Themisree.” Kini gantian Satia yang membungkukkan dirinya. “Saya tidak menyangka akan bertemu anda disini. Sejujurnya, anda terlihat seribu kali lipat lebih cantik dari lukisan yang digambarkan di surat kabar. Maafkan saya karena saya tidak mengenali anda.”


Suiren tersenyum canggung. Ia tidak menyangka bahwa pertunangannya dengan Kyrie akan membawanya pada situasi seperti ini. “Lady Iris, apakah anda tahu tempat dimana kita bisa lebih banyak berbincang? Saya ingin menceritakan tentang buku ‘Diriku dan sang Pangeran Jilid 1’.”


“Tentu saja! Ikuti saya, Lady Themisree.”


Setelah itu mereka pergi keluar dari toko buku itu.


*****


Aroma kayu manis dari roti kayu manis hangat yang disajikan di hadapan Suiren memenuhi udara di sekitar Suiren. Ia sangat tidak sabar mencicipi roti yang direkomendasikan oleh teman barunya ini.


“Terima kasih karena telah bersedia menceritakan buku ‘Diriku dan sang Pangeran Jilid 1’ kepada saya, Lady Themisree.” Satia berterima kasih sembari menuangkan teh beraroma mawar di cangkirnya.


“Sama-sama, Lady Iris. Tolong, panggil aku dengan namaku saja.” Suiren berkata.


“Kalau begitu kau bisa memanggilku dengan Tia, Suiren.” Balas Satia.


Setelah itu mereka berdua menikmati pesanan yang mereka pesan masing-masing. Sementara mereka berbincang di dalam café, Sergei menunggu Suiren di luar café.


“Omong-omong, apakah kota Birmin selalu sepi seperti ini? Suasana dan tingkat keramaian kota ini sangat berbeda dengan Sefath.” Suiren bertanya setelah ia menghabiskan roti kayu manis yang ia pesan.


Satia menatap Suiren dengan tatapan gelisah. Kemudian ia menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah-olah sedang memastikan bahwa tidak ada yang mendengarnya. “Sebenarnya, Birmin adalah kota yang sangat ramai. Tetapi beberapa bulan terakhir ini, telah terjadi hal-hal yang membuat orang-orang waspada untuk keluar.”

__ADS_1


Suiren menaikkan alisnya. “Hal-hal seperti apa?”


“Beberapa bulan ini, kota Birmin sedang digemparkan oleh pembunuhan berantai. Dimana targetnya adalah gadis bangsawan.”


Suiren diam dan mendengarkan.


“Semua dimulai sekitar tujuh bulan yang lalu, ketika Lady Rhiannon Freesia ditemukan tidak bernyawa dengan bekas cekikan di lehernya disebuah penginapan. Kemudian korban selanjutnya adalah Lady Tremaine Orchid, yang juga ditemukan dalam keadaan yang sama dengan Lady Freesia di pinggir sungai. Lalu yang terakhir adalah dua bulan yang lalu, Lady Gracia Gypsophila juga ditemukan tak bernyawa di pinggir jalan. Semua ini membuat orang-orang menjadi was-was untuk keluar rumah, terlebih lagi para wanita bangsawan.”


Suiren menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ia bergidik mendengar kisah yang diceritakan oleh teman barunya ini.


“Sejujurnya, aku kaget Duke Wisteria membiarkanmu pergi ke kota di saat situasi sepert ini.” Satia menatap Suiren dengan wajah bingung. “Tetapi kita sedang membicarakan Duke Wisteria, saya yakin ia telah memerintahkan banyak pengawal untuk mengikuti anda secara diam-diam.”


‘Atau Kyrie melupakan situasi ini setelah ia memutarbalikan waktu.’ Pikir Suiren.


“Apakah Ksatria Kota Birmin sudah berusaha mencari pelakunya?” tanya Suiren.


“Tentu saja, tetapi sampai saat ini mereka tidak menemukan apapun. Aku berharap semoga masalah ini cepat selesai supaya warga Birmin bisa keluar rumah dengan perasaan aman seperti dahulu.”


Suiren mengangguk-anggukan kepalanya.


Satia melirik kearah jam yang menempel di dinding café, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.


“Ah, maafkan aku Suiren. Tetapi aku memiliki janji setelah ini, apakah kau tidak apa-apa jika aku pergi lebih dulu?” tanya Satia dengan wajah tak enak.


Suiren menggelengkan kepalanya dan kemudian tersenyum. “Tidak,tidak. Terima kasih karena sudah menemaniku hari ini, Tia.”


“Sama-sama.” Tia kemudian berdiri dari kursinya. Sebelum ia meninggalkan Suiren ia meraih tangan Suiren dan meremasnya. “Bagaimana kalau kita bertemu lagi, dua hari dari sekarang?” tanyanya.


Suiren mengangguk. “Tentu saja!”

__ADS_1


Setelah itu Satia pergi keluar dari café dan menghilang di jalanan.


“Sepertinya aku telah menemukan sesuatu hal menarik.” Gumam Suiren. Ia kemudian berdiri dan keluar dari café. Ia berjalan bersama Sergei dan menaiki kereta kudanya untuk kembali ke kediaman Wisteria.


__ADS_2