
Suiren bangun lebih telat dari biasanya, ia bahkan tidak sempat makan sarapan bersama ayahnya. Sepertinya
tubuhnya sedikit masuk angin setelah perjalanannya tadi malam.
“Lady Suiren, Ayahmu mengatakan bahwa ia akan menantikan makan malam bersamamu nanti malam.” Reina masuk ke dalam tenda sembari membawa nampan berisi makanan dan minuman, Kemudian ia meletakkan nampan itu di meja kecil di samping kasur Suiren.
Setelah itu Gilbert memasuki tenda. Ia memakai seragam lengkap dengan insignia yang disematkan di seragamnya.
“Tidak biasanya anda bangun kesiangan. Apakah anda terjaga semalaman tadi?” tanya Gilbert.
“Aku tidak bisa tidur karena nyamuk.” Suiren menjawab sembari mengambil roti lapis dari nampan dan kemudian menggigitnya. Mengerikan bagaimana ia bisa berbohong tanpa mengedipkan mata.
“Aku akan berada di tempat latihan hari ini untuk melatih pasukan penjaga tambang emas kekaisaran. Kalau ada apa-apa anda bisa langsung mencariku disana.” Ucap Gilbert sembari berjalan keluar tenda.
“Gilbert.” Panggil Suiren.
Gilbert menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Suiren. Mata hijaunya menatap mata emas Suiren.
“Kalau aku sedang dalam bahaya, kau pasti akan datang dan menyelamatkanku kan?” tanya Suiren.
“Tentu saja. Saya akan berlari sampai ujung dunia kalau anda dalam bahaya.” Jawabnya. “Tetapi mengapa anda tiba-tiba bertanya seperti itu, Lady Suiren?”
Suiren menggelengkan kepalanya dan menyeruput susu dari cangkir yang disediakan. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bertanya.”
*****
Udara di perbatasan berbeda dengan udara di Ibukota. Sementara udara di perbatasan terasa ringan, udara di Ibukota terasa berat. Mungkin karena seluruh kesibukkan bertumpu di Ibukota.
Setelah menghadiri jamuan minum teh bersama Ibu dan Lady Serena Tagates, Putra Mahkota Frederick Heliathus langsung mengadakan perjalanan ke perbatasan timur kekaisaran. Kekhawatirannya tidak terbukti, ibunya hanya mengadakan jamuan untuk mengenal kandidat permaisuri lebih baik.
“Yang Mulia, saya mendapat kabar bahwa Jenderal Themisree sudah sampai di perbatasan timur sejak kemarin sore.” Claudia mengabarkan Frederick setelah menerima kabar dari transmisi sihir ditelinganya.
__ADS_1
Frederick tidak merespon. Ia tetap membaca berkas-berkas resmi ditangannya.
“Kemudian Duke Wisteria juga sepertinya sedang ada di perbatasan timur.” Lanjut Claudia.
Frederick tetap bergeming.
“Sebenarnya, malam hari setelah anda mengkonfrontasi Permaisuri Eleanor, seseorang melihat Duke Wisteria mengunjungi istana Permaisuri.” Claudia kemudian menceritakan fakta yang ia ketahui dari salah satu subordinatnya. “Sepertinya, Permaisuri Eleanor secara pribadi memanggil Duke Wisteria.”
Setelah audiensinya dengan Kyrie Wisteria dan Suiren Themisree beberapa waktu yang lalu, Ia jelas tidak mengharapkan ibunya untuk memanggil Kyrie lagi. Karena Ibunya adalah sosok yang pendendam terhadap siapapun yang mengganggu rencananya, ia pikir ibunya tidak akan lagi meminta Kyrie untuk melakukan sesuatu untuknya. Tetapi sepertinya ada beberapa hal yang memang hanya bisa dilakukan oleh seorang Kyrie.
“Menurutmu mengapa Ibu memanggil Duke Wisteria?” Frederick bertanya disela-sela memeriksa berkas ditangannya.
Claudia terdiam sejenak sembari memikirkan kemungkinan-kemungkinan di kepalanya.
“Ibuku memang susah untuk ditebak, bukan?” Frederick kemudian berkata setelah melihat Claudia berpikir keras.
Claudia mungkin adalah seorang ksatria elit yang memiliki keterampilan berpedang jauh diatas rata-rata, tetapi ia bukanlah sosok yang pandai berstrategi atau berpolitik. Itulah salah satu alasan mengapa Frederick membiarkan Claudia menjadi pengawal pribadinya. Claudia tidak mungkin akan menusuknya dari belakang, di kepalanya hanya ada kesetiaan terhadap tuannya.
Claudia hanya mengangguk-angguk. “Bagaimana Duke Wisteria bisa membantu mengatasi masalah di tambang emas kekaisaran? Bukankah wilayah tambang emas tidak masuk kedalam jurisdiksinya?”
Frederick memberikan senyum tipis kepada Claudia. “Entahlah. Tetapi selama aku mengenalnya, Kyrie selalu bisa membuat hal mustahil menjadi tidak mustahil.”
Kemudian kereta kuda berhenti. Claudia memutuskan turun terlebih dahulu untuk melihat keadaaan disekitar perkemahan pasukan kekaisaran.
Melalui jendela kereta kuda, Frederick melihat kearah tenda-tenda yang sudah terpasang dengan rapi
dengan bendera kekaisaran berkibar disetiap atap tenda. Semua orang sibuk melakukan pekerjaan masing-masing. Ia melihat ksatria penjaga perbatasan timur sedang berlarian kesana dan kemari, ada yang sedang berlatih pedang dan ada yang sedang melakukan latihan fisik.
Matanya tertuju kepada sosok gadis berambut perak yang baru saja keluar dari tendanya. Gadis itu menoleh kekanan dan kekiri seolah-olah sedang memastikan bahwa tidak ada yang sedang memerhatikannya. Setelah gadis itu yakin tidak ada yang sedang mengamatinya, ia kemudian mengitari tendanya.
Frederick tidak mungkin melupakan rambut perak yang berkilauan itu. Hanya ada segelintir orang di Kekaisaran yang terlahir dengan warna rambut seperti salju itu dan salah satunya dimiliki oleh keluarga Themisree.
__ADS_1
Keluarga Themisree adalah keluarga yang bergerak di bidang militer, walau mereka tidak memiliki gelar bangsawan kedudukan mereka sederajat dengan bangsawan di Kekaisaran Helianthus.
Frederick kemudian memutuskan untuk turun dari kereta kudanya dan menghampiri gadis tadi.
Gadis tadi bahkan tidak menyadari kehadirannya dari belakang, ia sibuk mengikatkan tali berwarna merah di salah satu kaki tenda.
“Lady Themisree.” Sapa Frederick.
Gadis tadi tentunya kaget bukan main. “WAA!!!” saking kagetnya ia refleks berteriak.
“Aku minta maaf karena sudah mengagetkanmu, Lady Suiren. Aku tidak ada maksud untuk membuatmu terjengkang seperti ini.” Frederick cepat-cepat mengulurkan tangannya untuk membantu Suiren berdiri.
Suiren kemudian meraih uluran tangannya sambil tersenyum canggung. Setelah ia berdiri, ia membersihkan bagian belakang roknya yang terkena tanah. Kemudian ia membungkuk dan memberi hormat kepadanya.
“Saya cukup terkejut menemukan anda di tempat seperti ini, Lady Themisree.” Frederick berkata sembari tersenyum. “Apakah anda kesini bersama tunangan anda?”
Suiren cepat-cepat menepis perkataan Frederick. “Saya kemari bersama Ayah saya, Yang Mulia. Duke Wisteria datang kemari dengan urusannya sendiri.”
Frederick mengangguk kecil. Matanya tertuju kepada tali berwarna merah yang diikatkan di salah satu kaki tenda oleh Suiren tadi.
“I-Ini karena semua tenda terlihat sama dan saya sering salah masuk tenda.” Ujarnya dengan terbata-bata. “Saya tidak ingin tiba-tiba memasuki tenda tempat para ksatria sedang berganti pakaian, jadi saya rasa mengikatkan tali sebagai penanda akan sangat membantu.”
Frederick tertawa kecil.
Tiba-tiba dari arah kereta kuda yang ditumpangi Frederick tadi, Claudia kembali dengan tergupuh-gupuh. “Yang Mulia Frederick!” panggilnya.
Frederick menoleh untuk melihat pengawalnya itu.
“Saya mencari anda kemana-mana.” Claudia berkata sembari terengah-engah. “Pertemuan dengan Jenderal Themisree sudah hampir dimulai.”
“Baiklah Lady Themisree, ada pertemuan yang harus kuhadiri. Tolong sampaikan salamku kepada Kyrie.” Frederick berkata sembari berjalan meninggalkan Suiren. Suiren membungkuk dan memberi hormat.
__ADS_1