
Kyrie tidak menyadari bahwa dinding kediamannya selalu setipis ini. Dari dalam ruang kerjanya, Kyrie dapat mendengar tawa yang keluar dari mulut Suiren.
'Apakah dinding ruang kerja ini selalu setipis ini? Bagaimana aku masih bisa mendengar suara gadis itu.'
Kyrie beranjak dari kursinya kearah jendela yang menghadap langsung kearah halaman belakang kediamannya.
Ia melihat Suiren sedang berjalan-jalan di sore hari bersama dengan pengawal pribadinya, Sergei. Mereka tampak sangat menikmati acara jalan sore mereka.
Sesekali Suiren tertawa ketika berbicara dengan Sergei.
'Apa yang sedang mereka bahas?'
Angin berhembus secara tiba-tiba dan menggoyangkan pepohonan di halaman belakang. Beberapa daun terlepas dari rantingnya dan jatuh melayang ke tanah. Beberapa tersangkut di rambut Suiren.
'Ah, daunnya tersangkut di rambutnya.'
Bersamaan ketika ia menyadari hal itu, Sergei mengambil helaian daun yang tersangkut di rambut Suiren dan kemudian membuangnya.
Tanpa Kyrie sadari, wajahnya berubah menjadi suram.
Setelah itu, Kyrie memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia sedikit mengalami kesusahan untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang menggangunya, tapi dengan sedikit waktu ia berhasil melanjutkan pekerjaannya dengan baik. Bahkan ia sampai lupa waktu, karena tanpa ia sadari matahari sudah sepenuhnya terbenam.
"Duke, apakah anda tidak akan makan malam?" Tanya Harry dari balik pintu.
Kyrie tidak menoleh dari berkas dihadapannya. "Aku akan melewati makan malam hari ini."
Setelah mengatakan itu, Harry tetap berdiri di balik pintu.
"Lady Suiren sudah menunggu anda sedari tadi, Duke." Ujarnya akhirnya.
Kyrie mengernyitkan dahinya. "Aku tidak memintanya untuk menungguku."
__ADS_1
Mendengar ucapan tuannya itu, Harry kemudian bergegas berjalan kembali menuju ruang makan.
Kyrie tahu bahwa ia seharusnya tidak mengatakan hal itu tetapi entah kenapa ia sedang tidak dalam suasana hati untuk bertemu dengan Suiren.
Ia melanjutkan pekerjaannya.
BRAKK!!!
Tak lama setelah itu, pintu ruang kerjanya terbuka lebar.
"Aku sudah bilang kalau aku akan melewatkan makan malam." Ia mengatakan hal itu tanpa mengetahui sosok yang membuka pintu ruang kerjanya.
"Apa kau melupakan perkataanku kemarin, Duke Wisteria?" Tanya suara gadis yang akhir-akhir ini sering didengar olehnya.
Kyrie mengangkat wajahnya dan mandapati Suiren sedang tersenyum kesal dihadapannya. Ia membawa nampan berisi makanan dan minuman yang seharusnya menjadi menu makan malanya hari ini.
"Aku bilang aku tidak suka makan sendirian." Suiren meletakkan nampannya diatas meja kerja Kyrie dengan kasar. Matanya berkedut karena kesal.
"Kau pikir kau sedang apa?"
Kyrie mengernyitkan dahinya dan menatap Suiren dengan tatapan kesal.
"Dengar, aku sangat lapar. Kau memang tidak memintaku menunggumu untuk makan malam, tetapi aku tidak bisa makan sendirian. Sebagai tuan rumah yang baik kau harusnya membantuku menyesuaikan diri di sini."
Kyrie tidak merespon apa yang dikatakan Suiren. Ia kemudian mengambil makanam dari atas nampan dan menyantapnya tanpa berkata satu katapun. Suiren disisi lain juga duduk di kursi seberang Kyrie dan menyantap makanannya.
"Keadaan hatimu mudah berubah-ubah ya? Kadang kau terlihat senang tetapi esok harinya kau bisa terlihat sangat murung."
Kyrie mengunyah daging yang baru saja ia suapkan kemulutnya. Sesudah itu ia menatap Suiren. "Kau juga akan seperti itu kalau harus menghadapi orang sepertimu."
Suiren memberikan tatapan bingung. "Maksudmu?"
__ADS_1
"Aku memintamu memikirkan cara untuk menarik hati para bangsawan, tetapi kau malah menghabiskan waktumu untuk menggoda pengawal barumu." Balas Kyrie.
"MENGGODA?!" Suiren merasakan suaranya meninggi.
Kyrie tidak membalas.
"Kau... benar-benar aneh." Suiren mengatur napasnya. "Tolong belajar membedakan membangun hubungan dengan menggoda, Duke Wisteria."
Kyrie menyeruput cangkir tehnya dan kemudian mengusap mulutnya dengan sapu tangan.
"Lagipula, walau aku terlihat diam-diam saja, di benakku aku sedang berusaha mencari cara untuk melakukan apa yang kau suruh." Suiren melanjutkan.
"Lalu, aku tidak habis pikir kenapa kau masih bersikap seperti orang asing kepadaku?"
Lagi-lagi Suiren menatap Kyrie dengan tatapan bingung. Hari ini banyak hal yang keluar dari mulut Kyrie yang membuatnya bingung.
"Kau baru saja bertemu dengan Sergei kemarin tapi kau sudah memanggilnya dengan nama panggilan."
Suiren mengedipkan matanya berkali-kali. "Kau... jangan bilang..."
Kyrie menaikkan alis kirinya.
"Cemburu...?"
Wajah Kyrie yang tadinya datar tiba tiba memerah sampai ke ujung telinganya. Ia terlihat seperti anak kucing saat ini.
"PFFT!!! PUAHAHAHAHAHAH!!! KAU HARUS LIHAT WAJAHMU SENDIRI DI KACA!!!" Suiren meledak dalam tawa. Ia sangat berharap ia bisa mengabadikan momen ini untuk selamanya.
"K-kau sudah gila. Jangan berbicara omong kosong." Kyrie berkata sembari mencoba mengatur ekspresi wajahnya.
"Baik. Baiklah. Kalau begitu aku akan kembali ke ruang tidurku." Suiren berdiri dan kemudian mengangkat kedua tangannya, menandakan bahwa ia menyetujui semua perkataan Kyrie.
__ADS_1
Sebelum ia benar-benar keluar dari ruang kerja Kyrie, Suiren memutar tubuhnya menghadap Kyrie. "Kalau begitu selamat malam, Kyrie." Dengan senyuman jahil di wajahnya.
Kyrie hanya bisa menutup wajahnya dengan telapak tangannya setelah mendengar perkataan Suiren.