
Terry menatap sahabatnya dengan tatapan tidak percaya. Ia tahu dari lama kalau sahabatnya ini memiliki sifat mengerikan kadang-kadang tetapi ia tidak menyangka bahwa sahabatnya akan berbuat sejauh ini untuk dirinya.
“Bagaimana kalau Kepala Sekolah tidak berada di dekat toilet pada waktu itu?!” Terry berkata setengah teriak. Wajahnya terlihat khawatir.
Ella menggelengkan kepalanya. “Kepala Sekolah memiliki penyakit diabetes akut, Terry. Aku tahu karena ia pergi ke rumah sakit milik Ayahku. Dalam rekam medisnya ia harus pergi ke toilet tiga puluh menit setelah ia selesai makan ataupun minum. Jadi, aku telah memperhitungkan semuanya dengan baik. Kalaupun rencanaku gagal, aku hanya perlu menghajar Gerhard dan melarikan diri.”
“Rekam medis?! Bukankah itu rahasia?” pekik Terry.
“Aku tidak peduli.” Ujar Ella. “Lagipula Aku tidak melihat rekam medisnya untuk melakukan hal buruk.”
Terry memberikan tatapan tidak percaya.
“Maksudku, aku tidak menggunakan informasi itu untuk hal-hal yang merugikan Ibu Kepala Sekolah.”
Terry menggelengkan kepalanya.
“Lalu, apa yang terjadi setelah itu semua?”
“Kepala Sekolah memanggil kedua orang tuaku. Walau mereka tidak pernah terlalu peduli denganku, tetapi mereka suka membesar-besarkan masalah. Penghinaan kepadaku adalah penghinaan kepada mereka. Yah, setidaknya mereka tidak sepenuhnya menelantarkanku.” Ella memutar kedua bola matanya. Ia terlihat benar-benar murka dan kesal.
__ADS_1
“Lalu, Kepala Sekolah mengusulkan perdamaian, yang mana merupakan ide yang sangat bodoh. Walau aku tidak benar-benar dilecehkan, aku tidak habis pikir dengan usulan itu. Apa dia benar-benar berpikir jalan damai adalah jalan yang tepat? Bodoh sekali. Dia hanya takut reputasi sekolahnya tercoreng hitam.”
“Aku beruntung orang tuaku memiliki pengaruh dan uang sekaligus. Mereka tidak akan membiarkan masalah ini selesai hanya dengan perdamaian. Tentu saja aku juga tidak mau. Tujuan utamaku adalah untuk mengeluarkannya dari sekolah dan menempelkan cap bertuliskan ‘pelaku pelecehan’ di dahinya. Jadi kemanapun ia pergi, ia tidak akan pernah bisa tenang.”
“Akhirnya polisi melakukan pemeriksaan dan ya, mereka menemukan sidik jari Gerhard di tubuhku.” Ella menyelesaikan ceritanya dengan wajah bangga. Kedua matanya seolah-olah menyala karena rasa bangga.
“Kenapa kau bertindak sejauh itu?” Sekilas wajah Terry terlihat tidak enak.
Ella bingung bagaimana sahabatnya ini bisa diam saja menerima ketidakadilan yang terjadi pada dirinya. Alasan utama ia melakukan hal itu hanyalah untuk memberi sahabatnya keadilan yang seharusnya ia dapatkan. Untuk kasus-kasus seperti ini, pihak perempuan selalu saja dirugikan sementara pihak laki-laki akan pergi begitu saja melenggang bebas. Sanksi sosial yang didapatkan juga hanya berlaku pada pihak perempuan saja. Jadi kalau ia tidak mencari dan membuat keadilan itu mungkin dengan sendirinya, maka ia tidak akan pernah mendapatkannya.
Ia paham cara yang ia lakukan salah. Tetapi laki-laki itu berhak mendapatkannya.
Terry memberi sahabatnya itu tatapan asam. Ia suka lupa kalau sahabatnya itu memiliki sisi ekstrim di dalam dirinya.
“Bercanda.” Ella tertawa kecil.
“Sejujurnya aku hanya butuh permintaan maaf darinya.” Terry berkata pelan.
“Tsk. Kau tahu kau tidak akan pernah mendapatkannya.” Decak Ella.
__ADS_1
“Aku tahu. Lagipula sebagian dari ini juga merupakan kesalahanku.”
Ella terdiam. Ia tidak ingin menjatuhkan mental sahabatnya itu lebih dalam jadi dia memilih untuk diam. Karena ia tahu, bahwa foto tanpa busana Terry tidak akan tersebar apabila ia tidak mengirimkannya kepada Gerhard. Terry salah karena ia telah mempercayai Gerhard.
Berkali-kali Ella mencoba menasihati Terry tentang Gerhard. Tetapi ia tidak pernah mendengar. Cinta mengalahkan segalanya itu benar adanya.
Ella menepuk kedua tangannya mencoba mengalihkan pembicaraan. “Kalau begitu, apa yang ingin kau lakukan selanjutnya?”
Terry menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. “Entahlah.”
“Aku bisa membantumu jika kau ingin pindah sekolah.” Usul Ella.
Orang tuanya memiliki banyak sekolah yang didanai. Memindahkan Terry ke salah satunya bukan pekerjaan susah.
Terry menggeleng. “Lari dari masalah tidak akan menyelesaikan masalah. Aku harus menghadapi masalah ini walau berat.”
Ella menganggukkan kepalanya dan mengacungkan kedua jempolnya kearah Terry. “Tenang saja. Kalau ada yang membicarakanmu aku akan mengeluarkan mereka dari sekolah.”
Terry memberi Ella tatapan takut. “Jangan lakukan apapun lagi, Ella. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhi masalah.”
__ADS_1