
Udara disekitar perbatasan menjadi lebih berat daripada biasanya. Seluruh pasukan berkumpul di lapangan latihan menunggu datangnya pemimpin mereka.
Mereka sedikit banyak mendengar apa yang sedang terjadi di kamp perbatasan timur. Tentang bagaimana putri pemimpin mereka bisa menjadi salah satu korban perdagangan manusia tepat dihadapan mereka.
Tentu saja para ksatria kekaisaran mengetahui yang sebenarnya, bahwa didalam tambang emas yang mereka jaga begitu ketat terdapat rahasia gelap yang tidak seharusnya diketahui siapapun.
Walau mereka tahu perdagangan manusia adalah perbuatan yang tidak bermoral, tetapi mereka menutup mata. Tugas mereka adalah untuk setia dan melindungi keamanan kekaisaran dari pihak luar yang ingin mengancam kedaulatan mereka, bukan untuk membenarkan apa yang tidak benar.
Mereka hanya menjalankan tugas mereka sebagai ksatria kekaisaran.
Saat ini, mereka yakin pemimpin mereka berada di tempat yang susah. Antara kewajiban dan kesetiaannya pada takhta kekaisaran atau kewajibannya sebagai seorang ayah. Kedua hal tersebut bahkan seharusnya tidak disandingkan untuk menjadi pilihan.
Sekarang disaat pasukan Kerajaan Ginryuu mengetahui bahwa seorang putri Jenderal Perang Kekaisaran menjadi sandera perdagangan manusia, mereka tidak akan tinggal diam. Mereka akan menggunakan momentum ini untuk menyergap perdagangan manusia yang tersembunyi dibalik dinding emas tambang.
Kyrie Wisteria sedari tadi memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia mencoba menggabungkan kepingan puzzle yang berantakan dikepalanya.
Tempat kejadian yang direkayasa. Perkataan Suiren tentang keinginannya untuk membalas dendam. Apakah ini yang maksud perkataan Suiren waktu itu?
"jangan menghalangiku." Ia terus menerus terngiang-ngiang dengan perkataan Suiren.
Tiba-tiba seseorang duduk disampingnya.
__ADS_1
“Apa kau menghawatirkan tunanganmu?” tanya Frederick.
Kyrie menyunggingkan senyum palsu. “Tentu saja.”
Didalam hatinya ia paham bahwa ‘khawatir’ yang dimaksud oleh Frederick dan dirinya itu berbeda.
“Aku rasa Lady Suiren tidak dibawa dengan paksa.” Mulai Frederick.
“Sepertinya bukan hanya kau yang menyadari hal itu, Yang Mulia.” Kyrie tertawa kecil. “Jenderal Themisree juga menyadari hal itu. Bahkan kurasa siapapun yang melihat ke dalam tenda Lady Suiren akan menyadari hal itu.”
“Benar.” Frederick setuju.
Kemudian Frederick merogoh sesuatu dari sakunya. Ia mengeluarkan seutas tali berwarna merah dan menyodorkannya kepada Kyrie.
Kyrie meraih tali merah itu.
“Kurasa tali ini bukan untuk memudahkan dirinya.” Ucap Kyrie.
Frederick hanya mengangguk.
Kyrie bangkit dari duduknya untuk menemui Jenderal Themisree. Tetapi Frederick dengan cepat menarik lengannya.
__ADS_1
“Apakah ibuku menyuruhmu melakukan sesuatu?” tanyanya.
Kyrie menatap Frederick dengan senyuman palsu. “Apakah anda memerintahkan saya untuk menjawab pertanyaan anda?”
Frederick melepaskan tangannya dan menggeleng.
“Kalau begitu saya tidak punya alasan untuk menjawab pertanyaan anda.” Ujar Kyrie sembari berjalan meninggalkan Frederick.
"Kyrie." Ucap Frederick menghentikan langkah kaki Kyrie. "Jenderal Themisree barusan mengatakan padaku bahwa ia mungkin harus membiarkan pasukan Kerajaan Ginryuu melewati perbatasan dengan mudah."
"lalu?"
"Aku mengizinkannya melakukan hal itu." Frederick berdiri dan berjalan ke samping Kyrie. "Oleh sebab itu, aku harus tahu kau ada di sisi siapa saat ini."
"Jadi kau mengatakan bahwa kau akan melawan perintah Permaisuri?" tanya Kyrie. "Kenapa?"
Frederick kemudian menatap kedua mata Kyrie lekat-lekat. "Aku menemukan sesuatu untuk kulindungi."
Lama Kyrie menatap kedua mata Frederick. Ia bisa melihat bayangan dirinya terpancar dari kedua mata sang Putra Mahkota. Ia benar-benar sedang melihat kepadanya.
Kyrie kemudian mendengus. "Aku tidak berada di sisi siapa-siapa, Frederick. Aku berada di sisiku sendiri."
__ADS_1
Frederick kemudian memberikan senyum tipis dan berjalan meninggalkan Kyrie.