
Ketika Kyrie membuka matanya, ia sudah berada di jalan masuk menuju kediamannya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia benar-benar akan jatuh tertidur, apalagi dengan sangat pulas. Ia hanya memejamkan matanya sejenak untuk memberikan ruang bagi Suiren untuk menangis.
Suiren sendiri juga tertidur, walau begitu Kyrie mengetahui bahwa ia menangis untuk waktu yang cukup lama. Karena kedua matanya terlihat sembab dan terdapat bekas air mata mengalir dari kedua pipinya.
Kyrie menoleh kearah jendela untuk melihat kediamannya, langit sudah berubah menjadi gelap. Padahal ia baru meninggalkannya untuk beberapa minggu saja tetapi rasanya seperti sudah sangat lama. Kereta terus melaju melewati pepohonan dan hamparan bunga yang tertata rapi mengiringi jalan. Bunyi kereta berderik ketika melewati bebatuan yang tersebar di jalan.
'Apakah Harry menangani tugas-tugas yang kutinggalkan dengan baik?' Pikir Kyrie. Seharusnya ia tidak meragukan kemampuan kepala pelayannya itu. Ia sudah melayani Keluarga Wisteria semenjak Ayahnya menjadi kepala keluarga, itu artinya udah dua puluh lima tahun lamanya. Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia dan traumanya mungkin hanya Harry,. Orang lain yang mengetahui kedua hal itu sudah pasti habis ditangan Kyrie.
Kediaman Wisteria beridiri megah ditengah-tengah lahan. Sebuah gedung bertingkat tiga dengan warna putih dan gading yang mendominasi. Di malam hari, lampu-lampu yang menyala membuat bangunan ini tampak lebih megah.
Dari kejauhan, Kyrie dapat melihat Harry dan pelayan-pelayan lain telah berdiri menanti kedatangannya di depan kediaman. Kyrie melirik ke arah Suiren. Gadis itu masih belum bangun juga, kepalanya masih bersender ke bagian dinding kereta.
'Ia pasti kelelahan. Banyak yang terjadi kepadanya beberapa minggu terakhir ini.'
Kemudian laju kereta kuda memelan dan pada akhirnya berhenti total. Setelah itu, kusir yang menarik kereta kuda turun dari tempat duduknya dan membuka pintu.
Harry mengepalai para pelayan lain dan menundukkan kepalanya. "Duke Wisteria, kami telah menunggu kedatangan an-"
"Shhh." Kyrie meletakkan jarinya didepan bibirnya. Mengisyaratkan agar Harry menutup mulutnya.
Harry melihat Kyrie dengan tataan bingung. Kyrie kemudian melirik kearah Suiren yang masih tertidur.
tak lama setelah itu, Suiren perlahan membuka kedua matanya. Ia menggeliatkan tubuhnya dan menguap. "HOAMMM!!!"
Setelah itu ia sadar bahwa kereta telah berhenti sepenuhnya. "Apa kita sudah sampai?" tanyanya dengan nada setengah sadar.
Ia mengucak-ucak kedua matanya dan berhenti ketika menyadari bahwa orang-orang sedang menatapnya.
"Berapa lama kalian sudah berdiri seperti itu?..." tanya Suiren dengan wajah bingung.
"Baru saja." Kyrie menjawab. "Wajahmu benar-benar berantakan. Apa kau menangis disepanjang perjalanan? Kau bertingkah seolah-olah kau tidak akan bertemu Ayahmu lagi."
Wajah Suiren memerah dan kemudian berusaha melihat bayangannya di jendela kaca kereta kuda.
Benar saja, kedua matanya bengkak dan di pipinya terdapat bekas aliran air mata. Ia kemudian cepat cepat mengeluarkan sapu tangan yang dipinjamkan oleh Kyrie dari saku roknya dan mengusap wajahnya.
__ADS_1
"Aku akan mencucinya sebelum mengembalikannya." ujar Suiren. masih mengusap wajahnya.
"Atau kau bisa berikan itu kepada salah satu pelayan." Setelah itu Kyrie turun dari Kereta dan kemudian mengulurkan tangannya kepada Suiren.
Suiren meraih tangan Kyrie dan turun dari kereta. Ketika mereka berdua sudah turun dari kereta, Harry dan pelayan lainnya menundukkan kepala mereka.
"Anda pulang tepat pada saat waktu makan malam, Duke Wisteria." ujar Harry. "dan Lady Suiren."
Suiren hanya tersenyum kepada Harry.
Setelah itu mereka berjalan memasuki kediaman. Melewati lorong demi lorong yang sangat besar dan megah.
Keluarga Wisteria merupakan salah satu keluarga bangsawan berpengaruh di Kekaisaran, tidak heran jika kediaman mereka terlihat semegah ini.
Disepanjang lorong, lukisan-lukisan terpajang. Dibawah setiap lukisan itu terdapat nama-nama. Sepertinya lukisan itu merupakan lukisan kepala keluarga Wisteria dari waktu ke waktu.
Tepat diujung lorong, Seorang wanita berpakaian serba hitam dengan tutup muka yang terbuat dari jala sedang menatap lukisan yang terletak di ujung ruangan. Lukisan seorang laki-laki berambut hitam yang wajahnya terlihat sangat mirip dengan Kyrie.
"Apakah itu lukisan mendiang Ayahmu?" bisik Suiren.
Setelah jarak diantara wanita berpakaian serba hitam tadi mengecil, Kyrie menghentikan langkahnya.
"Aku kembali Ibu." Ujar Kyrie.
'Oh! Rupanya wanita ini Ibu Kyrie. Berarti dia adalah Duchess Amber?' tanya Suiren dalam hati.
Suiren kemudian menunduk dan memberi hormat. "Senang bertemu dengan anda, Duchess Amber."
Sang Duchess menoleh kearah mereka berdua. Walau begitu, karena wjaahnya tertutup jala, Suiren tidak bisa melihat ekspresi wajahnya.
"Ini adalah tunanganku, Lady Suiren Themisree." Kyrie memperkenalkan Suiren kepada Ibunya.
Sang Duchess bergeming. Ia terdiam untuk waktu yang cukup lama sebelum akhirnya berjalan mendekati Kyrie.
Tiba-tiba tangannya malayang kearah wajah Kyrie. Ia menampar Kyrie di pipi kirinya.
__ADS_1
Suiren terbelalak kaget melihat kejadian di hadapannya ini. Tetapi seolah-olah tidak terjadi apa-apa, Kyrie hanya memasang wajah datar.
"SETELAH KAU MEMBIARKAN SUAMIKU TERBUNUH, KAU BERENCANA UNTUK MENGGANTIKANKU?!" teriak sang duchess.
Suiren refleks bergerak mundur menjauhi sang Duchess. Ia kaget bukan main dengan tingkah laku sang Duchess.
Kyrie di sisi lain hanya terdiam. Tidak mengatakan apapun.
Kemudian Harry memberi isyarat pada dua orang pelayang terdekat untuk membawa sang duchess pergi dari tempat kejadian.
Setelah sang duchess pergi, Kyrie berjalan memasuki ruangan yang berada di ujung lorong seolah-olah apa yang terjadi barusan bukanlah masalah besar.
Suiren tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Ia tidak tahu harus apa dengan kejadian yang baru disaksikan olehnya tadi.
"Lady Suiren, tolong lupakan kejadian tadi. Hal seperti tadi biasa terjadi di sini, sebaiknya anda tidak perlu terllau memikirkannya." Harry cepat-cepat berkata kepada Suiren. Ia kemudian menggesturkan Suiren untuk berjalan mengikuti Kyrie.
'Biasa?! Itu tadi seperti kisah di opera sabun. Kecuali biasanya yang menjadi korban adalah menantu yang datang ke rumah sang pria. Bagaimana bisa itu kejadian yang biasa-biasa saja? Itu barusan kekerasan dalam rumah tangga!' Suiren memekik dalam hati.
Suiren tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya. Tetapi ia mengikuti Harry dan memasuki ruangan yang ternyata merupakan ruang makan.
Kyrie sudah duduk di salah satu kursi. Meja dihadapannya sudah terisi penuh dengan makanan dan minuman dan berbagai makanan penutup.
Suiren berjalan masuk dan menduduki kursi dihadapan Kyrie.
"Apakah pipimu baik-baik saja?" akhirnya Suiren berani bersuara.
Kyrie mendengus. "Ini bukan apa-apa." Ia kemudian memotong daging yang disajikan dihadapannya dengan pisau.
"Tetapi pipimu terlihat sangat merah."
Kyrie menghentikan tangannya yang sedang memotong daging dan kemudian menatap Suiren dengan senyuman di wajahnya. Kalau Suiren tidak pandai membaca ekspresi orang, ia tidak akan tahu bahwa senyuman yang diberikan Kyrie kepadanya sama dengan perkataan 'Diam dan jangan banyak berbicara.'
"Sebaiknya kau makan saja, Suiren. Makanan yang dingin tidak akan enak." ujarnya.
Suiren mengikuti permintaan Kyrie dan kemudian memakan hidangan yang disajikan dihadapannya. Setelah itu, mereka sama sekali tidak berbicara satu patah katapun.
__ADS_1