
"Sepertinya kehadiranmu di pemakaman Lady Iris telah membuat orang-orang ingin berkenalan denganmu." Kyrie berkata sembari menyodorkan surat bersegel bunga daffodil yang sudah dibuka kepada Suiren. Amplop surat itu berwarna kuning keemasan dengan segel berwarna merah berlambang bunga daffodil diatasnya.
Suiren meraih surat itu dan membacanya. Sebuah undangan untuk menghadiri jamuan minum teh dari putri Marquiss Narcissus. Calon Isteri Naois.
"Aku juga memiliki urusan dengan Marquess Narcissus, jadi aku bisa pergi bersamamu."
Suiren menganggukkan kepalanya.
"Selagi kau disana, ada sesuatu hal yang kubutuhkan. Apa kau mau mendengar permintaanku?" Kyrie menegakkan duduknya.
"Tentu saja."
"Aku ingin kau menjadi mata dan telingaku disana. Catat pembicaraan apapun yang berhubungan Naois Dianthus. Apapun itu."
Suiren mengernyitkan dahinya. "Apakah ada sesuatu yang terjadi kepada Sir Naois?"
Kyrie terlihat ragu-ragu sebelum akhirnya menatap Suiren dengan wajah serius. "Janji untuk tidak melakukan hal berbahaya setelah kau mendengar informasi ini."
"Aku berjanji." Ujar Suiren.
"Jangan melakukan sesuatu yang membahayakan nyawamu seperti insiden tambang emas." Lagi-lagi Kyrie berkata dengan nada serius.
__ADS_1
Suiren tertawa. "Aku berjanji. Seribu kali."
Akhirnya Kyrie menyenderkan tubuhnya di kursi. "Informasi yang kuterima mengatakan bahwa Naois Dianthus tidak berada di kediamannya di hari yang sama dengan perginya Lady Iris ke rumah liburannya. Untuk saat ini, ia adalah salah satu tersangka bersama dengan tujuh orang lainnya."
Suiren merasakan jantungnya seakan-akan jatuh dari tempatnya.
"Tapi itu semua belum tentu benar kan?" Tanya Suiren.
Kyrie menatap Suiren dengan tatapan bertanya-tanya.
"Aku bertemu dengannya beberapa kali dan Sir Naois adalah orang yang cukup menyenangkan."
"Setiap orang mampu melakukan perbuatan keji dengan motivasi yang tepat. Sir Naois kebetulan memiliki motivasi itu." Ujar Kyrie.
"Aku ingat sebelum aku memutarbalikan waktu, sekitar 3 tahun kebelakang dari tahun ini, Naois menemuiku dan memohon agar ia bisa menegakkan keadilan untuk adik perempuannya. Pada waktu itu, aku tidak membantunya karena aku tidak ingin terlibat dengan urusannya."
Suiren menelan ludahnya. "Menegakkan keadilan?"
"Adiknya adalah seorang pelayan di kediaman Narcissus tetapi ia ditemukan tidak bernyawa di pinggir sungai Zerrin."
"Maksudmu, adiknya dibunuh?"
__ADS_1
"Sepertinya begitu. Pada waktu itu Naois datang kepadaku dengan mengatakan bahwa ia dibunuh oleh Marquess Narcissus. Aku tidak bisa membantunya karena ia bahkan tidak memiliki bukti apapun."
Suiren melihat Kyrie dengan wajah sedih. "Bagaimana kalau ia benar?"
"Itu sebabnya aku akan pergi menemui Marquess Narcissus."
Kyrie berdiri dari kursinya dan berjalan menuju Suiren.
"Aku dengar dari Sergei kalau kau berteman dengan Naois." Ia duduk di ujung meja menghadap Suiren. "Sebaiknya kau menjaga jarak darinya."
Suiren terdiam. Ia benar-benar tidak memahami apa yang sedang terjadi kepadanya. Setiap kali ia mendapatkan teman, ada saja kejadian yang membuatnya kehilangan orang itu.
Kyrie meraih tangan Suiren dan mendekatkannya ke bibirnya. Ia mengecupnya dengan lembut.
"Dengar. Aku tahu apa yang ada dipikiranmu, tetapi kalau memang Naois adalah pelakunya maka tidak ada yang bisa kulakukan."
Suiren menghela napas dan kemudian mengangguk.
"Gadis pintar." Kyrie berkata sembari mengelus kepala Suiren.
"Kyrie berhenti melakukan ini kepadaku, aku bukan anak kecil!" Suiren mencengkram tangan Kyrie diatas kepalanya dan melemparkannya. Ia merasakan pipinya memerah karena ucapan Kyrie barusan.
__ADS_1
"Baik, baik." Ujar Kyrie sembari mengangkat kedua tangannya. Keduanya tertawa dan tawanya memenuhi ruangan.