My Fiancé Is The 2nd Male Lead

My Fiancé Is The 2nd Male Lead
Ethel, pelayan pribadi Suiren


__ADS_3

Semalaman Suiren tidak bisa tidur. Tidak hanya karena ia berada di tempat asing, tetapi juga karena ia kepikiran tentang kehidupan seperti apa yang dijalankan oleh seorang Kyrie Wisteria.


Sosok yang menjadi tokoh favoritnya dalam novel 'Serena'.


"Oh tidak... bagaimana kalau trauma yang dimiliki Kyrie ada hubungannya dengan Ibunya?" Suiren berkata pada dirinya sendiri.


Ia kemudian menggulingkan tubuhnya diatas kasur dan menutupi kepalanya dengan bantal.


Di dalam novel, tidak dijelaskan alasan Kyrie memiliki trauma jika seseorang memegang lehernya. Hanya ada adegan yang menceritakan bagaimana Serena berusaha menangkap kumbang yang hinggap di leher Kyrie ketika mereka sedang berbincang di bawah pohon. Pada waktu itu, Kyrie tertidur setelah mendengar Serena bersenandung dan seekor kumbang hinggap di lehernya. Begitu Serena menyentuh leher Kyrie dengan tujuan menangkap kumbang, Kyrie terbangun dan menepis tangan Serena. Itu adalah kali pertama Kyrie pernah menolak sentuhan Serena dan hal itu membuatnya bingung. Tetapi seiring berjalannya waktu, Kyrie mulai terbuka dan mau menjelaskan perilakunya kepada Serena.


"YAAMPUN AKU BARU SADAR KALAU AKU JAHAT SEKALI!!!" Pekik Suiren dari bawah bantal. Untung saja suaranya teredam oleh bantal, kalau tidak mungkin seluruh penghuni kediaman Wisteria akan terbangun gara-gara ia.


Suiren menggulingkan tubuhnya dan menatap langit-langit ruang tidurnya yang baru. Ia tidak lagi melihat lukisan bunga marigold di langit-langitnya.


"Aku harus minta maaf..." gumamnya.


Tiba-tiba, cahaya matahari pagi menembus masuk ke dalam kamarnya dan menyinari beberapa titik di kamarnya.


"Yang benar saja, aku bahkan belum tidur sama sekali."


Suiren bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju balkon ruang tidurnya. Ketika ia membuka pintu, angin dingin berhembus menusuk tulang rusuknya.

__ADS_1


Birmin memang memiliki udara yang jauh lebih dingin daripada Sefath. Udara sehari-hari di Birmin mirip dengan udara musim semi di Sefath, dan Suiren menyukai hal itu.


"Huff...belum sehari disini dan aku mulai merindukan rumah."


Suiren menghela napas panjang. Ia tahu Ayahnya hanya ingin melindunginya dari serangan Permaisuri Eleanor, dan itu cukup membuatnya frustasi.


Ia ingin bisa melindungi dirinya sendiri, tetapi mengingat kehidupan masa llunya saja tidak cukup untuk itu. Dengan memhingat kehidupan masalalunya tidak menjadikannya seseorang yang kuat seketika, karena selama tujuh belas tahum hidupnha ia telah menghabiskannya dengan melamun dan membaca buku. Kalau ada hal yang ia banggakan dari dirinya mungkin adalah kemampuan otaknya.


Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu ruang tidurnya.


Sosok perempuan dengan rambut berwarna senja memasuki ruang tidur. Perempuan itu mengenakan seragam pelayan yang sama dengan yang dikenakan pelayan lain. Ketika melihat Suiren sedang berdiri di balkon ia terlihat kaget.


Suiren tertawa canggung. "Tidak, tidak!! Aku memang tidak bisa tidur semalam, jadi aku memutuskan untuk mencari udara segar."


Pelayan tadi kemudian membungkuk memberi hormat. "Saya Etheldreda Franweiss, anda boleh memanggil saya Ethel. Duke Wisteria telah menugaskan saya sebagai pelayan pribadi anda mulai dari hari ini."


Suiren menganggukan kepalanya. "Kalau begitu, terima kasih Ethel."


Kemudian Suiren membiarkan Ethel melakukan tugasnya, mulai dari memandikan, menyiapkan pakaian dan merias Suiren.


"Sudah berapa lama kau bekerja di sini, Ethel?"

__ADS_1


"Saya sudah bekerja disini semenjak umur dua belas tahun dan sekarang saya sudah berusia dua puluh satu tahun, Lady Suiren."


"Hmm... itu artinya kau sudah bekerja disini semenjak Duke Wisteria menjadi kepala keluarga?"


Ethel mengangguk sembari tetap menjalin helaian rambut suiren menjadi kepangan.


Suiren ingin bertanya lebih jauh mengenai hubungan Kyrie dengan Ibunya tetapi ia mengurungkan niatnya. Ia punya perasaan bahwa ia tidak seharusnya mengulik lebih dalam tanpa persetujuan Kyrie.


Setelah selesai meriasnya, Ethel menuntun Suiren menuju ke ruang makan. Tetapi bukannya menuntunnya menuju lorong kemarin malam, Ethel membawanya ke lorong yang berbeda. Lorong ini tidak memiliki lukisan sama sekali, hanya dinding kosong.


Ketika sampai ke dalam ruang makan, tidak ada siapa-siapa disana. Tetapi makanan sudah disajikan di atas meja.


"Aku akan menunggu Duke Wisteria datang." Ujar Suiren sambil duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya.


"Maaf, Lady Suiren. Duke Wisteria sudah menyelesaikan sarapannya tadi." Ujar Ethel dengan wajah bersalah. "Ia meminta anda untuk pergi ke ruang kerjanya setelah selesai sarapan."


"Sudah selesai sarapan?.... Memangnya pukul berapa ia sarapan?"


"Duke Wisteria selalu menyelesaikan sarapannya sebelum Duchess Sarapan, sekitar pukul enam setiap paginya."


Suiren mengangguk-anggukan kepalanya. Di dalam hatinya ia tidak bisa berhenti berpikir bahwa hubungan diantara Ibu dan Anak itu mungkin jauh lebih buruk daripada yang ia bayangkan.

__ADS_1


__ADS_2