
“Suiren!” Panggilan Satia mengagetkan Suiren dari lamunannya.
“Y-Ya?!” pekik Suiren.
“Kau melamun dari tadi.” Satia berkata sembari memasang wajah cemberut.
“Aku… aku hanya terpikir sesuatu.” Suiren mencoba mencari alasan. Padahal ia di dalam kepalanya, kejadian dua hari lalu terus berputar bagaikan radio rusak.
“Apa kau mendengarkan ceritaku tadi?” Satia masih menatap Suiren dengan cemberut.
Suiren tertawa canggung. “Aku mendengarkan sampai ke pesta pernikahan putri dari Marquess Narcissus, Lady Theodora Narcissus.”
Satia menghela napasnya. “Aku bertanya apakah kau akan menghadiri pernikahan yang akan diselenggarakan dalam satu bulan itu?”
“Mmm…. Entahlah. Semua itu tergantung Duke Wisteria.” Suiren menyeruput tehnya.
Hari ini adalah kali kedua Suiren bertemu dengan Satia, tetapi ia merasa sangat cocok dengannya sampai-sampai ia merasa bahwa Satia adalah teman lamanya. Mereka memutuskan untuk bertemu di tempat yang sama dengan terakhir mereka bertemu, sepertinya café ini sudah menjadi tempat khusus untuk bertemunya ia dengan Satia.
“Omong-omong, kau bahkan belum membuat pesta pertunangan dengan Duke Wisteria.”
“Ah…, soal itu…” Suiren tidak bisa menjawab pertanyaan Satia karena ia sendiri tidak tahu mengapa sampai sekarang ia belum melaksanakan pesta pertunangan. Tetapi lagi-lagi, jika dipikir-pikir, pertunangan mereka hanyalah pertunangan kontrak. Sepertinya Kyrie tidak ingin melakukan upacara suci seperti itu hanya untuk sebuah pertunangan kontrak.
Tetapi apa yang dilakukan oleh Kyrie kemarin malam benar-benar membuatnya resah. Bagaimana ia bisa melakukan itu pada seseorang yang bukan benar-benar tunangannya? Kyrie sudah mengatakan bahwa ia tidak lagi mencintai Suiren seperti ketika sebelum ia memutarbalikkan waktu, tetapi ia tetap merasa skeptis. Setidanya masih ada sedikit tunas cinta yang tersisa di hatinya, bukan?
“Omong-omong, aku suka dengan aroma parfum-mu, Satia!” Suiren mencoba mengalihkan topik.
“Mmm… aku membelinya dari toko di seberang sana.” Ujar Satia sambil menunjuk sebuah toko parfum di seberang café. “Aku memang menyukai aroma mawar.”
“Mawar? Kukira kau menggunakan parfum dengan aroma melati…” Suiren mengernyitkan dahinya.
“Melati?” Satia kemudian mendekatkan pergelangan tangannya ke hidungnya. “Aku yakin tadi aku menggunakan parfum Mawar.”
“Sepertinya hidungku sedikit bermasalah.” Ujar Suiren akhirnya.
“Omong-omong, apa kau sudah memiliki tunangan?”
Tiba-tiba wajahnya memerah sampai ke telinganya. “Be-belum. Tentu saja belum.”
“Wajahmu merah… kau tahu itu kan?” gurau Suiren. “Jadi siapa laki-laki yang beruntung itu?”
Satia menutup mulut Suiren dengan tangannya. Wajahnya terlihat panik dan mata hijau nya menunjukkan kepanikan. “Jangan keras-keras!”
Suiren tertawa di bawah tangan Satia.
__ADS_1
Setelah itu Satia melepaskan tangannya dari mulut Suiren dan kemudian mengatur napasnya. Ia menundukkan wajahnya dan meremas ujung gaunnya. “Keluargaku tidak tahu kalau aku sedang dekat dengan seseorang. Kalau mereka tahu, mereka akan membunuhku.”
Suiren mengernyitkan dahinya. “Kenapa?”
“Setidaknya aku harus menikahi bangsawan yang lebih tinggi atau setingkat dengan diriku. Sejujurnya, tidak banyak yang memenuhi kualifikasi itu di Birmin.”
Suiren menganggukkan kepalanya. Ia memahami maksud perkataan Satia. Secara tidak langsung, temannya ini baru saja mengonfirmasi kalau laki-laki yang sedang ia temui ini bukanlah bangsawan dengan gelar setingkat atau lebih tinggi darinya.
“Jadi untuk saat ini aku masih merahasiakan hubunganku dengannya. Tetapi suatu saat nanti aku akan mengenalkanmu kepadanya.”
Suiren tersenyum kepada Satia. “Aku akan menunggu saat itu tiba.”
Setelah itu mereka menghabiskan siang hari itu dengan berbincang-bincang mengenai hobi dan hal-hal lainnya.
“Sejujurnya, aku mengharapkan pertunangan putri Marquess Narcissus akan berjalan dengan lancar. Karena kudengar, ia berasal dari keluarga bangsawan yang lebih rendah daripada keluarga Narcissus. Karena memang, susah untuk mencarikan putri Marquess calon tunangan yang berasal dari keluarga yang lebih tinggi. Karena satu-satunya keluarga bangsawan yang lebih tinggi dari keluarga Narcissus adalah Keluarga Wisteria.” Satia berkata sembari meletakkan dagunya di telapak tangannya. "Tidak ada yang mengetahui siapa laki-laki beruntung itu. Sepertinya kita harus menunggu sampai pesta pernikahannya."
“Kuharap suatu saat nanti, hierarki seperti ini tidak akan menghalangi perasaan cinta seseorang.” Suiren menambahkan.
Satia kemudian melihat kearah jam dinding dan mendapati bahwa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Tak disadari bahwa mereka berdua telah menghabiskan lima jam bersama.
“Bagaimana kalau kita bertemu lagi minggu depan? Beberapa hari kedepan jadwalku sudah penuh.” Satia menatap Suiren dengan wajah sedih.
Suiren mengangguk.
Setelah itu mereka pergi keluar dari café dan berpisah ditengah jalan.
Ketika berpapasan dengan Kyrie di lorong, Suiren tidak bisa menyembunyikan keinginannya untuk melarikan diri. Ia sedang dalam perjalanan menuju ruang makan untuk makan malam ketika ia berpapasan dengan Kyrie yang baru saja keluar dari ruang kerjanya. Awalnya ia berusaha menyelesaikan makan malamnya terlebih dahulu sebelum Kyrie datang tetapi sepertinya ia tidak bisa menjalankan rencana itu.
“A-ah, aku melupakan sarung tanganku!”
Melihat tingkah aneh Suiren, Kyrie meraih pergelangan tangan Suiren untuk mencegahnya pergi. “Kau tidak butuh sarung tangan untuk makan malam.”
“Kenapa kau yang memutuskan apa yang kubutuhkan atau tidak?”
Kyrie tersenyum melihat gelagat gadis dihadapannya ini. Ia kemudian menarik Suiren kedekat tubuhnya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Suiren.
Suiren refleks menjauhi Kyrie. “K-Kau mau apa?!”
“Aku hanya ingin membisikkan sesuatu…” Gurau Kyrie. “Aku tidak akan melakukan hal seperti kemarin ketika ada banyak orang disekitar kita.”
Suiren baru menyadari kalau para pelayan dan Sergei yang sedari tadi menonton pertikaiannya dengan Kyrie. Mereka semua terlihat sedang mencoba mengalihkan perhatian masing-masing dengan melihat kearah lain.
“UGHHHH!!! hentikan apapun yang sedang kau coba lakukan kepadaku, sekarang juga!” Suiren berkata dengan wajah merah. Ia kemudian berjalan mendahului Kyrie menuju ruang makan.
__ADS_1
‘Bagaimana dia bisa mengacak-acak hatiku seperti ini? Bukankah pertunangan kita hanya sebatas kontrak saja, kenapa ia bersikap seolah-olah ia jatuh cinta denganku?!’
Suiren berusaha cepat-cepat menghabiskan makan malamnya ia bahkan tidak berhenti untuk minum sedikitpun.
“UHUK!!!” Sesuatu tersangkut di tenggorokannya. Suiren merasakan dadanya terasa seperti terbakar, ia kemudian cepat-cepat meraih gelas dan meminum air yang terdapat di dalamnya. Tetapi itu sama sekali tidak membantu, rasa mengganjal di dalam dadanya semakin menjadi-jadi.
Suiren sampai memukul-mukul meja untuk mencoba mengontrol pernapasannya.
“Suiren apa kau baik-baik saja?!” Kyrie bertanya dengan nada khawatir. Ia bergegas berjalan menuju ke samping Suiren.
“UHUK!!! UHUK!!” Air mata keluar dari kedua mata Suiren.
“Pelan… coba atur napasmu.” Kyrie berkata dengan lembut sembari mengusap-usap punggung Suiren. Anehnya Suiren merasa lebih baik dengan usapan jemari Kyrie di punggungnya.
“HAA…HAA…” Suiren mencoba menarik napas dan meraih udara.
Kyrie berlutut di samping Suiren dan menatap kedua mata Suiren dengan mata ungunya yang terlihat jauh lebih menarik daripada sebelumnya.
“Aku minta maaf karena sudah membuatmu tidak nyaman.” Ucap Kyrie dengan nada bersalah. Ia terdengar benar benar merasa bersalah.
“Kau seharusnya tidak melakukan hal seperti itu ketika kau tidak memiliki perasaan kepadaku. Itu akan membuatku salah paham.” Balas Suiren dengan pelan.
Kyrie terdiam. Ia menatap Suiren untuk waktu yang cukup lama. Kemudian ia menoleh kearah pelayan yang berada didalam ruang makan dan mengisyaratkan agar mereka meninggalkan ruang makan.
Setelah di semua pelayan pergi keluar, Kyrie menatap Suiren dengan wajah serius. “Aku tidak melakukan hal itu tanpa perasaan.”
Suiren tidak tahu harus merespon apa. “Jangan bercanda disaat seperti ini…”
“Kurasa aku mulai jatuh cinta padamu, Suiren.” Ujar Kyrie. Suaranya terdengar berat dan pelan.
“Karena aku membelamu kemarin? Itu bukan cinta, Kyrie.”
Kyrie menggeleng. “Entahlah sejak kapan. Tetapi, aku tahu perasaan ini.”
Suiren menatap mata Kyrie dan mencari-cari sedikit kebohongan tetapi ia hanya bisa melihat perasaan jujur Kyrie terpantul dari bola matanya. Bola mata yang memantulkan bayangan dirinya. Kyrie sedang melihat kepadanya, kepadanya seorang.
“Aku…” lagi-lagi Suiren tidak tahu harus berkata apa.
“Kita bisa mencari tahu perasaan kita masing-masing terlebih dahulu. Aku tidak memaksamu untuk memberiku jawaban atau apapun itu.” Kyrie berkata sembari berdiri.
Suiren hanya mengedipkan matanya berkali-kali.
“Aku tidak lagi ingin memaksakan perasaanku kepada orang lain.”
__ADS_1
Suiren tahu betul makna dibalik perkataan Kyrie. Di dalam Novel, jelas sekali terlihat bahwa Kyrie memaksakan perasaannya kepada Serena bahkan ketika Serena sudah dnegan jelas-jelas menolak perasaan Kyrie.
“Kalau kau ingin sarapan atau makan malam tanpa diriku, silakan. Aku akan memberikanmu ruang untuk berpikir.” Kyrie kemudian berjalan keluar dari ruang makan meninggalkan Suiren sendirian.