
Itu adalah malam yang sangat mengerikan bagi seorang anak yang baru berumur sembilan tahun. Sebuah malam yang dibalut dengan derasnya hujan dan sambaran petir. Kyrie Wisteria sedang mencoba untuk tidur di ruang tidurnya, sendiri tanpa ada seorang pun yang menemaninya.
Ini adalah hari pertama ia menyandang gelar Duke menggantikan kedudukan mendiang Ayahnya.
Sambaran petir yang saling bersahutan menimbulkan bayangan di dinding ruang tidurnya dan bunyi keritik api unggun membuat Kyrie tidak merasa sepenuhnya sendirian. Seorangpewaris tunggal Keluarga Wisteria tidak boleh takut hanya karena petir dan hujan. Ia harus merangkul segala bentuk ketakutan itu dan menelannya.
Tetapi tetap saja, kilas balik kejadian dua hari yang lalu membuatnya tetap terjaga. Seberapa lama ia mencoba untuk memejamkan kedua matanya, ia tetap tidak bisa jatuh tertidur.
Bayangan ketika Ayahnya mendorongnya keluar dari kereta kuda dan kemudian terjatuh ke dalam jurang melekat di pikirannya. Begitu juga dengan kata-kata terakhir Ayahnya. Sesaat sebelum tebing yang dilalui kereta keluarga Wisteria jatuh, seakan-akan sudah mengetahui masa depan. Ayahnya justru mengalihkan kekuatan sihir yang dipegangnya saat itu ke tangan Kyrie. Mungkinkah Ayahnya telah mengetahui apa yang akan terjadi waktu itu?
“Jaga Ibumu untuk diriku.” Ujar Ayahnya dengan senyum sedih di bibirnya. “Aku menyayangimu, Kyrie.”
Ia masih mengingat bagaimana tatapan mata Ayahnya disaat-saat terakhirnya. Campuran dari rasa takut dan kepasrahan. Ia begitu kecil saat itu sehingga tidak ada yang bisa ia lakukan. sampai saat ini ia berharap ia bisa menggunakan kekuatan sihirnya untuk memutarbalikkan waktu, tetapi ada batasan terhadap apa yang bisa ia lakukan dengan kekuatan sihirnya.
Tiba-tiba, terdengar suara derikan pintu.
Kyrie duduk diatas kasurnya untuk melihat siapa yang datang.
Sesosok bayangan berambut panjang berwarna hitam muncul dari balik pintu. Siluetnya menyerupai seorang wanita.
“Ibu?” Kyrie bertanya pelan.
Wanita itu mengenakan jubah panjang dan gaun malam berwarna putih. Dari caranya berjalan, Wanita itu terlihat lunglai dan tidak bertenaga.
“Apakah semua baik-baik saja, Ibu?” Kyrie bertanya dengan nada bingung. Sekilas kekhawatiran tergambar di wajah mungilnya.
__ADS_1
Duchess Amber tidak menjawab dan tetap mendekati tempat tidur Kyrie.
Ketika petir bersambar, Wajah Duchess Amber terlihat jelas. Bekas aliran air mata terlihat di kedua pipinya dan mata hijaunya yang biasanya terlihat ceria dan penuh dengan kasih sayang terlihat seperti lumut yang tak berwarna.
Ia pasti menangis seharian lagi hari ini. Menangisi kepergian suami yang sangat ia cintai itu.
“Anakku,” suara Duchess Amber terdengar serak dan parau.
Ketika Duchess Amber sampai di samping tempat tidur Kyrie ia kemudian duduk. Jemarinya menyusuri wajah putra satu-satunya itu dengan lembut.
“Apakah ibu akan menemaniku tidur malam ini?” Secercah cahaya terlihat dari kedua mata Kyrie. Ia sangat merindukan dekapan hangat ibunya.
Bukannya menjawab pertanyaan Kyrie, Duchess Amber justru balik bertanya dengan nada parau. “Mengapa? Mengapa kau biarkan Derrick pergi dari hidupku?”
Kyrie tidak menjawab pertanyaan Ibunya.
“MENGAPA?!” Duchess Amber berteriak di wajah Kyrie.
Sepersekian detik, Kyrie merasakan tekanan yang kuat di lehernya. Ia tidak bisa bernapas, baik itu dengan hidungnya atau dengan mulutnya. Ibunya sedang mencekiknya dengan kedua tangannya sendiri.
Kakinya menendang-nendang selimut yang menyelubungi tubuhnya dan tangannya mencoba melepaskan jemari ibunya dari lehernya. Tetapi ia tidak bisa melepaskan dirinya dari cengkeraman ibunya.
“I-Ibu…aku…tidak bisa bernapas.” Air mata mengalir dari kedua ujung matanya dan wajahnya memerah.
“Kau yang seharusnya mati!” seiring dengan teriakan Ibunya, tekanan yang dirasakan di lehernya pun semakin membesar.
__ADS_1
BRAK!!! Pintu masuk terbuka lebar, sesosok laki-laki muncul dari balik pintu.
“Duke Wisteria!” Harry berteriak sambil berlari untuk menjauhkan Duchess Amber dari anaknya sendiri. Kalau saja Harry datang lebih terlambat daripada ini, mungkin nyawa Kyrie sudah tidak akan bisa diselamatkan.
“LEPASKAN AKU! BIARKAN AKU MEMBUNUHNYA!” Duchess Amber meronta-ronta ketika Harry menariknya menjauh.
Setelah itu, pelayan lain mulai memasuki ruangan dengan tergupuh-gupuh. Ada yang membantu Harry menenangkan sang Duchess dan ada yang membantu Kyrie.
“UHUK UHUK!” Kyrie terbatuk sambil terus memegangi lehernya yang membiru dan bengkak. Ketika ia batuk, lehernya terasa seperti terbakar. Ia menangis bukan karena rasa sakit di leher dan tenggorokannya melainkan karena perbuatan ibunya.
Ibunya benar-benar mencoba untuk membunuhnya, itu tergambar jelas dari bekas cekikan yang melingkar dileher Kyrie.
“MENGAPA KAU BIARKAN AYAHMU JATUH?!” Teriak Duchess Amber sambil emmangia. Ia begitu histeris sampai-sampai bunyi petir dan hujan tidak terdengar semengerikan sebelumnya.
“SEANDAINYA KAU YANG JATUH, AKAN LEBIH MUDAH UNTUK MENGGANTIKANMU!”
Perkataan Duchess Amber bagaikan tusukan pisau di hati seorang bocah berusia sembilan tahun. Dunia yang selama ini ia kenal seakan-akan runtuh. Air mata mengalir dari kedua matanya, tetapi bukan atas kendali diirnya sendiri. Air mata itu mengalir dengan deras keluar dari kedua mata yang memancarkan tatapan kosong.
“Bawa sang Duchess kembali ke kamarnya!” Harry memerintahkan pelayan-pelayan lain untuk membawa pergi nyonya mereka.
Setelah itu, didalam ruang tidur itu hanya ada dirinya dan Harry.
“Jangan dengarkan perkataan Ibumu, Duke Wisteria.” Ujarnya akhirnya. “Kepergian ayahmu membuat pikirannya menjadi sedikit kacau.”
Betapa Kyrie berharap bahwa apa yang dikatakan Harry benar. Tetapi setelah kepergian Ayahnya, Kyrie tidak pernah lagi melihat tatapan hangat dari mata Ibunya. Dan ia tidak pernah lagi mendapat pelukan hangat dari Ibunya.
__ADS_1