
Kyrie Wisteria memasuki penjara lembab dengan setangkai bunga marigold emas. Bunga favorit teman masa kecilnya.
Ketika ia memasuki penjara yang terletak di ruang bawah tanah istana imperial, tidak banyak penjaga yang berjaga. Karena penjara ini hanyalah diperuntukan untuk anggota keluarga imperial sehingga tidak perlu penjagaan yang begitu ketat. Berbeda dengan penjara untuk kriminal pada umumnya.
Ia tidak perlu mengatakan apa-apa kepada para penjaga. Mereka sudah tahu tujuan kedatangannya sehingga mereka membiarkannya masuk dengan mudah.
Ia tidak pernah bisa terbiasa dengan udara di dalam penjara bawah tanah istana kekaisaran. Udara mencekam dan kegelapan yang membuat siapapun yang berada di dalam penjara ini kehilangan harapan.
Kyrie terus berjalan sampai ia tiba di ujung penjara yang terbagi menjadi dua. Satu ke kiri dan satu ke kanan. Ia berbelok ke kanan dan menuruni tangga yang terlihat tidak berujung saking gelapnya. Setelah berjalan turun, ia disambut oleh dua orang penjaga. Lagi-lagi mereka tidak mengatakan apapun dan hanya membiarkannya lewat.
Akhirnya Kyrie sampai di depan sel yang hanya diterangi dengan sebuah cahaya yang berasal dari obor. Di dalam sel itu, sesosok wanita berambut pirang duduk di pojokan ruangan. Memeluk kedua kakinya dengan tangannya.
Wanita itu terlihat kedinginan. Penampakannya jauh berbeda dari apa yang selama ini Kyrie ingat.
“Serena…” panggil Kyrie.
Wanita itu menoleh kearah suara. Wajahnya yang dulunya terlihat seperti mentari pagi telah kehilangan seluruh kehangatannya.
“Kyrie… kau datang lagi.” Suaranya terdengar lelah.
Kyrie tidak sanggup melihat penampakan teman masa kecilnya seperti ini. Teman masa kecil yang sangat ia cintai.
“Kau membawakanku bunga marigold?” tanyanya dengan senyuman kecil. “Manis sekali.”
Lagi-lagi Kyrie tidak bisa memberikan respon.
“Apakah Theo baik-baik saja?” tanyanya lagi. “Apakah anakku itu baik-baik saja?”
__ADS_1
Kyrie mengangguk kecil.
“Baguslah…” ketika membicarakan putra pertamanya itu, wajah Serena menjadi sedikit terang. Ia terlihat lega setelah melihat anggukan Kyrie.
“Serena, kalau kau memintaku untuk mengeluarkanmu dari sini dan melarikan diri bersamamu, aku akan dengan senang hati melakukannya.” Ucap Kyrie dengan nada memaksa. Hari ini ia akhirnya memutuskan untuk mengatakan hal ini setelah lama mengurungkan niatnya terus menerus.
Serena hanya tersenyum kecil. “Lalu apa? Meninggalkan Frederick sendirian dan membahayakan nyawa Theo?”
Ucapan Serena seakan-akan menusuk jantung Kyrie. Disaat seperti ini ia masih memikirkan suaminya itu. Suami yang seharusnya melindunginya tetapi gagal dan justru membawanya jatuh kedalam keterpurukan bersama.
“Aku mencintaimu Serena.” Ucap Kyrie setengah berbisik. Tanpa ia sadari, air mata mengalir dari kedua matanya.
Mendengar itu Serena menatap Kyrie dengan tatapan sedih. “Kau tahu aku tidak melihatmu seperti itu, Kyrie.”
Kyrie tahu. Sejak awal ia tahu bahwa perasaan Serena kepadanya tidak akan pernah lebih dari sekedar sahabat dan saudara laki-laki. Tetapi perasaan cinta yang ia maksud barusan bukanlah cinta dalam arti romantis. Ia sendiri tidak tahu jika perasaan cintanya ini dapat dikategorikan sebagai cinta atau bukan. Ia hanya tidak ingin melihat wanita dihadapannya ini menderita.
Perlahan-lahan ia mulai belajar bagaimana cara mencintai seseorang dengan benar. Ia pun sampai pada kesimpulan bahwa terkadang jika seseorang mencintai orang lain dengan begitu besar, ia harus belajar melepaskan genggamannya. Kalau tidak, kedua belah pihak hanya akan tersakiti. Sekarang ini. Kyrie hanya ingin melihat Serena bahagia seperti dahulu kala. Seperti saat ia pertama bertemu dengannya.
Ia merindukan senyuman hangat yang terpancar dari dirinya. Ia merindukan tatapan mata yang selalu terlihat optimis dan selalu melihat hal-hal dihadapannya sebagai suatu hal yang indah.
Serena kemudian berdiri dan berjalan mendekati Kyrie. Saat ini mereka hanya dipisahkan jeruji besi tetapi mereka seakan-akan terpisahkan oleh jurang yang sangat besar.
Jemari Serena meraih helaian rambut Kyrie dan mengelusnya. Ia tersenyum sedih ketika melihat teman masa kecilnya berdiri di hadapannya dengan air mata mengalir di salah satu pipinya.
“Tolong lindungi Theo dari segala ancaman yang akan menyusahkannya dimasa depan.” Ujarnya dengan lembut. “Anak itu… tidak seharusnya menderita hanya karena ia terlahir dari rahimku.”
Kyrie meraih rambut emas Serena yang terlihat kusam dan mendekatkannya ke bibirnya. Ia mencium helaian rambutnya. “Maafkan aku, Serena.”
__ADS_1
“Untuk apa? Ini adalah pilihan hidupku.” Serena tertawa kecil.
“Terima kasih. Karena di dalam waktu yang sangat singkat, kau telah memberikanku secercah harapan untuk tidak menyerah dalam hidup.” Ucap Kyrie sembari melepaskan helaian rambut Serena.
Serena tidak menjawab, ia hanya membalas perkataan Kyrie dengan senyuman hangat.
Itu adalah kali terakhir Serena berbicara kepadanya. Keesokan harinya, eksekusi Kaisar Frederick dan Permaisuri Serena dijatuhkan.
*****
Kyrie tidak datang ke eksekusi mantan Kaisar dan Permaisuri Kekaisaran Helianthus. Ia tidak sanggup menyaksikan kematian wanita yang dicintainya itu atas suatu kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Dewan Bangsawan Kekaisaran Helianthus bahkan tidak repot-repot menyiapkan pemakaman untuk mereka berdua. Mereka benar-benar diperlakukan sebagai kriminal atas kesalahan yang dituduhkan kepada mereka. Kesalahan yang bahkan tidak dilakukan oleh keduanya.
Melawan Dewan Bangsawan, Kyrie memakamkan kedua pasangan itu dibawah pohon Bunga Wisteria di bagian utara kekaisaran. Tempat favorit Serena sebelum ia menjadi Permaisuri Kekaisaran. Tempat yang menyimpan banyak kenangan bagi Kyrie. Tempat dimana ia pertama kali bertemu dengan Serena.
Ibu Suri Eleanor Helianthus adalah dalang dibalik semua kekacauan ini. Ketika rakyat mulai mengendus korupsi yang dilakukan oleh Ibu Suri, ia dengan cepat mengalihkan semua kecurigaan itu kepada Kaisar Frederick dan Permaisuri Serena. Mengorbankan putra satu-satunya itu untuk menyelamatkan dirinya dari amukan masyarakat.
Kaisar Frederick dan Permaisuri Eleanor meninggalkan seorang putra yaitu Putra Mahkota Theophael Helianthus yang saat ini masih berusia empat tahun. Karena masih terlalu kecil untuk naik takhta, maka empat pilar keluarga bangsawan yang terdiri dari keluarga Wisteria, keluarga Rosa, Keluarga Lilium dan keluarga Syringa bersama dengan Ibu Suri menjadi wali bagi sang Putra Mahkota. Keluarga Syringa secara praktis merupakan perpanjangan tangan Ibu Suri karena dulunya sebelum menjadi permaisuri, Eleanor Helianthus merupakan salah satu anggota keluarga Syringa.
Kyrie berdiri dibawah hujan menatap makam Frederick dan Serena. Ia menyesal bahwa tidak ada hal yang bisa ia lakukan. Ia tidak menyangka bahwa Eleanor Helianthus akan dengan mudah mengalihkan kejahatannya kepada dua orang ini. Dua orang yang baru saja mendapatkan kebahagiaannya.
Kyrie mengepalkan tangannya dan menangis diatas nisan milik Serena. Air matanya yang mengalir dari kedua matanya dengan cepat terhapuskan oleh rintik hujan.
Tiba-tiba ia tidak merasakan rintik hujan mengaliri dirinya.
“Duke, anda bisa terkena demam kalau seperti ini terus.” Harry berkata. Tangan kirinya memegang payung berwarna hitam.
__ADS_1
Kyrie tidak menghiraukan perkataan pelayan pribadinya ini. Ia hanya bisa mendengar rintikan hujan yang menjatuhi payung yang menaunginya.