
"Suiren!" Serena memanggilnya dari meja yang terletak di pojok ruangan. Ia duduk di sebuah meja yang berisikan dua kursi di samping jendela yang mengarah langung ke jalan raya.
Setelah sembuh total, Suiren memutuskan untuk bertemu dengan Serena. Ia harus memastikan bahwa dunia yang ia tinggali sekarang benar-benar dunia yang sama dengan novel yang ia baca di kehidupan sebelumnya. Untuk melakukan itu, ia harus mulai dari sosok yang merupakan tokoh utama dari dunia ini.
"Apakah kau baik-baik saja?" Serena memegang kedua pipi Suiren dengan telapak tangannya. "Kau terlihat tirus!"
"Sangat baik-baik saja!" Suiren menjawab dengan senyuman lebar di wajahnya. Ia kemudian duduk berhadapan dengan Serena.
"Bagaimana kau bisa tenggelam di danau?" Air mata muncul dari ujung mata yang berwarna hijau terangnya.
"Aku tergelincir." Bohong Suiren. Sampai ia menemukan siapa yang mendorongnya, ia tidak akan memberi tahu siapa-siapa. Tidak juga sepupu yang amat ia sayangi dan percaya ini.
Serena adalah sepupu maternal terdekat Suiren yang usianya dua tahun lebih tua darinya. Mereka
memiliki hubungan yang cukup dekat sebagai sepupu. Suiren telah menganggap Serena sebagai saudara kandungnya sendiri, karena ia tumbuh tanpa saudara satupun. Di sisi lain, Serena yang tumbuh sebagai anak bungsu dari keluarga Tagates juga menganggap Suiren sebagai adik kandungnya sendiri. Ia hanya memiliki dua orang saudara laki-laki dan ia selalu menginginkan saudara perempuan. Oleh karena itu, ketika Suiren lahir ia merasa doa-doanya sudah terjawab.
"Apakah akhir-akhir ini ada kejadian menarik, Serena?" Tanyanya ingin tahu.
__ADS_1
"Maksudmu?" Jawabnya sembari memotong kue dihadapannya dan menyuapkannya ke mulutnya.
"Entahlah, seperti bertemu dengan laki-laki yang menarik perhatianmu."
Serena berhenti mengunyah dan menatap Suiren dengan wajah kemerahan.
‘Kena.’
"Se-sebenarnya, aku ingin mengunjungimu untuk bercerita. Tetapi aku takut mengganggu waktu istirahatmu." ujarnya.
"Aku bertemu dengan Putra Mahkota Frederick Helianthus." Bisiknya.
‘Lihat, kekhawatiranku sia-sia. Mereka memang ditakdirkan untuk bertemu.’
"Benarkah?!" Suiren tetap harus terdengar kaget.
Walau Serena menutupi wajahnya, Suiren bisa melihat telinga Serena memerah. Manis sekali, pikirnya.
__ADS_1
"Pertemuan kita singkat, tetapi aku masih bisa merasakan hatiku berdegup kencang karenanya." Serena memulai ceritanya masih dengan wajah merah.
"Tiga Hari lalu, aku pergi ke ibukota untuk melihat festival musim semi. Ketika sedang menikmati festival, tanpa sadar aku terpisah dari pelayanku, Emma. Setelah berputar mencarinya sampai kakiku lecet, aku memutuskan untuk beristirahat di samping sungai.”
"Saat itu, aku melihat seseorang yang mengenakan tudung terduduk di samping sungai. Ia terlihat seperti seorang pengemis, maka aku memberikannya sedikit uang untuk membeli sesuatu di festival musim semi. Saat itu aku tidak melihat wajahnya karena tertutup tudung, tetapi beberapa waktu kemudian seorang ksatria Imperial muncul dari belakangku. Orang itu memanggil sosok bertudung yang kuberi uang itu dengan sebutan Putra Mahkota."
"Aku tidak pernah bertemu secara dekat dengan Putra Mahkota, tetapi aku pernah melihatnya dari kejauhan. Kau harus tahu betapa kagetnya diriku setelah melihat sosok di balik tudung itu. Ia jauh lebih tampan jika dilihat dari dekat." menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Lalu? apa yang terjadi selanjutnya." tanya Suiren. Ia semakin penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya.
"Tentu saja aku meminta maaf dan memberi hormat kepadanya. Tetapi Putra Mahkota Frederick hanya tertawa melihatku dan setelah itu pergi." Serena mengakhiri ceritanya dengan wajah kecewa. “Aku harap aku bisa bertemu dengannya lagi…”
Suiren tertawa mendengar kalimat terakhir Serena. Refleks ia menjawab, “Jangan Khawatir, kau akan bertemu lagi dengannya.”
Serena menatap Suiren dengan tatapan bingung. “Kenapa kau begitu yakin?”
“Entahlah. Hanya intuisi saja.”
__ADS_1