
Malam ini, bulan sedang bersinar penuh. Cahaya peraknya menyinari perbatasan timur dengan sangat indah, membuat tambang emas yang terlihat kosong menjadi berkilauan seperti permata. Anginnya segar dan sedikit tercampur dengan aroma laut.
Suiren dan Kyrie berjalan menyusuri hutan yang mengelilingi tambang emas Kekaisaran untuk menghindari hiruk pikuk pasukan kekaisaran yang sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang sedang membersihkan luka akibat pertarungan dengan pasukan kerajaan Ginryuu, ada yang sedang berbincang-bincang satu sama lain. Semuanya terlihat dengan jelas dari atas sini.
Kyrie mengenakan atasan berwarna hitam dengan kerah yang menutupi leher dan celana berwarna hitam. Sedangkan Suiren mengenakan blus hitam dengan rok berwarna ungu tua. Mereka terlihat seperti pasangan sesungguhnya dengan pakaian yang serasi.
Angin berhembus menerbangkan rambut Suiren begitu juga dengan rambut Kyrie. Keduanya diam tak mengatakan apapun. Padahal tujuan utama mereka berjalan-jalan adalah untuk berbicara. Tetapi tak satupun terlihat memiliki niatan untuk mulai berbicara.
“Tentang perkataanmu di dermaga, apa yang kau maksud dengan kehidupan kali ini?” Tanya Suiren. Memulai dengan pertanyaan merupakan ide yang bagus.
“Tidak, Suiren. Kali ini kau yang akan berbicara untuk menjelaskan, bukan aku.” Kyrie menepis pertanyaan Suiren.
Suiren mengernyitkan dahinya. Ia tidak ingat telah memberikan izin kepada sang Duke untuk memanggilnya dengan nama. Kemudian Suiren menghela napasnya.
“Kalau begitu ayo suit.” Pintanya.
“Suit?”
Sesuatu yang Suiren ingat dari kehidupan sebelumnya.
“Jadi, kita akan bertarung menggunakan jari. Ada tiga hal yang bisa kita keluarkan yaitu gunting, batu dan kertas. Kertas akan kalah jika melawan gunting, batu akan kalah jika melawan kertas dan gunting akan kalah jika melawan batu. Ini akan memudahkan kita menentukan siapa yang seharusnya mulai berbicara.”
Suiren menjelaskan sembari memberikan gestur gunting, batu dan kertas dengan jarinya.
Kyrie terlihat tidak yakin tetapi ia memutuskan untuk mengikuti kemauan gadis ini agar ia bisa cepat-cepat mengorek informasi.
“Baiklah kalau begitu. Dalam hitungan ketiga secara bersamaan.” Ucap Suiren
“Satu.”
__ADS_1
“Dua.”
“Tiga.”
Keduanya mengeluarkan dua hal yang berbeda. Suiren mengeluarkan kertas dan Kyrie mengeluarkan gunting.
“Aku tidak percaya aku mengalahkanmu di permainanmu sendiri, Suiren.”
“Sejujurnya aku penasaran mengapa kau tiba-tiba memanggilku langsung dengan nama, Duke Wisteria. Itu membuatku merasa tidak nyaman.” Akhirnya Suiren berkata.
“Sekarang bukan giliranmu untuk bertanya.”
“Tsk!” decak Suiren.
“Bagaimana kau bisa mengetahui bahwa aku datang ke perbatasan timur ini membawa misi khusus dari permaisuri Eleanor?”
“Aku sudah bilang kalau aku bisa melihat masa depan, tapi kau tidak mempercayaiku.” Suiren menatap Kyrie dengan tatapan serius.
“Apa maksudmu mungkin?”
“Tergantung dengan masa depan seperti apa yang kau ketahui.” Jawabnya singkat. “Giliranku.”
Suiren menatap Kyrie dengan tatapan tidak percaya. “Apa maksudmu giliranmu?!”
“Kau menggunakan kesempatanmu untuk bertanya maksud dari perkataanku sebelumnya.”
Suiren menyadari bahwa Kyrie sedang mempermainkannya didalam permainan yang ia usulkan. Itu membuatnya kesal tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan.
“Masa depan seperti apa yang kau ketahui? Ceritakan semuanya kepadaku.”
__ADS_1
Suiren tertawa mengejek. “Kau tidak akan suka dengan cerita ini. Apa kau yakin ingin mendengarnya?”
Kyrie tidak menjawab, ia memberikan tatapan menantang kepada Suiren. Seolah-olah peringatan Suiren hanyalah angin belaka.
“Masa depan yang kulihat adalah masa depan dimana kau tidak akan bersama dengan gadis yang kau cintai, Duke Wisteria.” Ucap Suiren. “Kau tidak akan mendapatkan akhir bahagia dengan Serena Tagates.”
Kyrie tidak terkejut dengan perkataan Serena. “Lalu?”
“Serena akan menikahi Putra Mahkota Frederick dan mereka akan mendapatkan akhir yang bahagia. Sedangkan kau tidak. Apakah kau akan percaya dengan cerita ini?” Sejujurnya Suiren tidak berharap Kyrie akan memercayai ceritanya ini. “Normalnya orang akan memilih untuk tidak memercayai ramalan yang tidak membuat mereka senang.”
“Aku percaya.”
Suiren mengernyitkan dahi. Ia terkejut dengan betapa mudahnya seorang Kyrie Wisteria memercayai perkataannya.
“Tetapi kau naif, Suiren. Menikah itu bukan akhir dari segalanya, kau tidak bisa menyimpulkan seseorang akan mendapatkan akhir bahagianya hanya dengan terjadinya pernikahan.”
Sembari berbicara wajah Kyrie perlahan berubah menjadi suram. Wajah yang menunjukkan bahwa ia sedang mengingat-ingat kenangan buruk.
“Pernikahan bisa menjadi awal mula kebahagian tetapi bisa sebaliknya. Sayangnya bagi Serena dan Putra Mahkota Frederick, pernikahan mereka menjadi awal dari cerita tragis.”
“Tragis?” tanya Suiren.
Kyrie mengangguk.
Suiren tidak memercayai apa yang sedang dikatakan Kyrie. Lagipula, bagaimana laki-laki didepannya ini bisa tahu kalau pernikahan Serena dan Putra Mahkota akan berakhir tragis padahal pernikahannya sendiri belum berlangsung.
“Bagaimana kau bisa tahu kalau pernikahan mereka akan berakhir tragis? Seleksi kandidat permaisuri bahkan belum dimulai.” Tembak Suiren.
Kyrie menatap Suiren dalam-dalam.
__ADS_1
“Karena aku adalah saksi ketragisan kisah cinta mereka.”